"Ini apa ibu?"
"Itu milikmu...",
" tapi bu..",
"Sudahlah jangan kau pikirkan",
" saya harus apa dengan ini ibu?",
"Gunakan sebagaimana amanat yang tertulis di situ",
__________***
Kamar ratna masih tetap bermendung petang. Ruangan itu berirama sendu terdengar dari bilik hati setiap kata. Tak ada lagi keramaian yang menyenangkan. Senyum sementara yang tercipta malah mencipta lara yang lama.
"Nama bayi ini, Muhammad Rindu Abadi",
Akhirnya anak itu telah memiliki nama, nama abadi dari kisah kasih rindu yang dialami dua kekasih yang terbuai asmara cinta, tapi hilang ditelan masa.
Hari ketujuh dengan prosesi penyembelihan kambing, Aqiqah. Anak itu sudah di-aqiqohi.
" Alhamdulillah acara sudah selesai", ucap lirih nenek patma yang terdengar tak bahagia. Ia menggendong anak itu berkeliling memperlihatkan kepada keluarga undangan yang belum pulang.
"Wah....gantengnya banyi mungil ini," ucap salah satu keluarga yang hadir.
"Ia ganteng....semoga jadi anak yang soleh...berbakti kepada kedua orang tua,"
"Amien...," hampir doa serempak meramaikan kembali ruang yang terdengar sepi.
Diujung sudut ruangan lain, diatas kursi panjang, sendirian Mastur meraba hayalnya keluar jendela ruangan yang ramai. Hatinya sepi kosong dalam kegelisahan yang tak bertepi. Hampa sudah dalam sekejap alur masa yang ingin dibangun bahagia, ia bergejolak.
"Kenapa dan kenapa bisa begini,".. Lirih suaranya hampir tak terdengar.
Masanya berubah mengingat sesuatu tentangnya, ia tak lagi merespon alam sekitar. Pandanganya hilang ditelan oleh kenangan. Ia menelusurinya, menemukan dalam episode kebahagiaan yang ia ingin ciptakan, tapi takdir berkata lain. Sepertinya dunia masih belum bersabahat dengannya.
***
" Mastur, sudah lima tahun kita berpacaran, sampai kapan kita akan pacaran terus?," Ratna mempertegas katanya, mengungkapkan isi hatinya yang lama terpendam.
Pikiran Mastur terbebani dengan perkataan Ratna, ia paham apa yang di inginkannya, menikah. Sudah lama Mastur ingin melamar tapi ia paham dunia Ratna dan dirinya berbeda dilihat dari segi ekonomi.
Mastur seorang yang tak berpunya ia dari kalangan menengah kebawah kelebihan Mastur ia seorang yang pintar dan berakhlak yang baik. Didikan pesantren dimasa kecil didesanya menjadikan ia sosok yang bisa diandalkan dari segi religius.
Kepintaran Mastur berbuah hasil, hingga ia diantarkan oleh beasiswa menuju jenjang sekolah yang lebih tinggi, kuliah. Mastur salah satu remaja didesanya yang bisa melanjutkan kuliah dengan tanpa biaya sendiri.
Ratna satu kelas dengan mastur, satu angkatan yang sama. Berbeda dengan mastur, Ratna seorang yang berada. Ia cewek yang tak begitu pintar, tapi garis nasib perekonomian keluarganya dari kalangan ningrat. Sehingga ketika ia masuk ke bangku perkuliahan tidak terbebani dengan biaya. Ia hanya fokus untuk belajar, tapi ia malas belajar.
***
Sejak semester pertama belajar di bangku kuliah Ratna sudah jatuh hati pada Mastur. Melihat kepintaran mastur saat berdiskusi membuat ratna selalu menghayal tentangnya. Ini sejalan dengan keingginan Ratna yang menggingkan sosok pendamping yang pintar juga berahklak yang baik dan sepertinya sosok itu berada di diri Mastur.
"Mastur...," Ratna mencoba menguatkan hati tatkala dikelas hanya ada mereka berdua, Ratna memanggil mastur.
"Ia...., oh...Ratna...ada apa?," Mastur sedikit terkaget, menoleh ke samping belakang, ia melihat ratna duduk sendiri dan tersenyum padanya.
"Aku mencintaimu Mastur...mau kan kamu jadi pacarku," Tanpa tedeng aling-aling Ratna langsung saja mengungkapkan rasa cintanya pada Mastur. Memang, Ratna bukanlah tipikal cewek pemalu, ia berani mengambil sikap terhadap apapun yang diputuskannya. Resiko merupakan tantangan yang harus ia hadapi, apapun itu, dan ratna sudah siap.
Mendengar penyataan seperti itu Mastur langsung berdiri ia mengambil tasnya membereskan buku-buku yang berjejer berantakan didepannya. Tanpa kata ia langsung keluar meninggalkan Ratna sendirian, tanpa jawaban. Mastur terus melangkah hingga keluar dari gerbang kampus, ia pulang. Ia gemetar dan berpikir keras kemudian tertidur di kos kecilnya bersama mimpi yang akan mengusik citanya.
Ratna tertunduk lesu melihat kejadian itu, ia tak bergairah lagi berada dikampus. Ia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, jawaban diam menjadikan Ratna tak kuat untuk melangkah. Ia berpikir keras dalam kekalutan. Ia melangkah keluar menuju parkiran, ia ingin pulang, hari ini ia liburkan sendiri perkuliahan.
Gejolak itu tak berlangsung lama, tiga hari dari kejadian itu Mastur langsung mendatangi Ratna. Ia beranikan diri mengajak Ratna ke kantin kampus. Ratnapun ikut, meskipun ia tak tau apa yang di inginkan Mastur, tapi Ratna yakin Mastur mengajaknya untuk memberikan jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan beberapa waktu yang lalu.
"Ratna....," Mastur mulai pembicaraan, gugup suaranya terlihat oleh Ratna.
"Kenapa kamu gugup Mastur?, emang ada apa?,"
"Emm..apa benar yang kau katakan kemaren?, atau kamu hanya ingin mengerjaiku saja?," Mastur mulai hati-hati berbicara masalah ini, investigasi personal membuat ratna sedikit terpojok dalam bingkai seorang wanita, malu.
"Itu....em....anu.....a.....gmn ya...?", Tiba-tiba ratna tidak jelas dengan katanya, meskipun dihatinya ia berkata lain. Tapi, yang keluar dari mulutnya berbeda.
" Berarti benar kata sebagian teman, kau hanya mengerjaiku," Mastur mulai mempertegas suaranya, ia sandarkan tubuhnya pada kursi kemudian mengambil nafas yang begitu dalam, Mastur kemudian terdiam menunggu Ratna bicara.
"Apa kau lebih percaya temanmu dari pada suara hatimu yang kau dengar?,"
"Apa maksudmu?"
"Apa yang kau inginkan dari pernyataanku itu kebenaran atau kebohongan?,
Retorika Ratna menambah beban mental dihati Mastur. Mastur sedikit ragu dengan hatinya, apakah benar demikian apa yang diharapkan atau ini hanya gurauan masa yang kan sirna sekejap.
" Aku ingin itu sebuah kebenaran..." Mastur kembali gugup menyatakan hal yang demikian.
Ratna tersenyum dengan peryataan Mastur. Penyataan itu adalah jawaban yang menyenangkan hati Ratna. Begitu juga dengan Mastur ia tersenyum bahagia.
"Saat ini Kau adalah Cintaku,"...
***
" Mastur...ayo masuk nak...jangan sendirian disini,' tiba2 ibu mertua menghampiri mastur ia memanggilnya dengan lembut. Ibu mertua berubah seratus persen dari kebiasaan yang dulu, ia selalu memarahi Mastur, meskipun dulu hanya sekedar memanggilnya nadanya selalu diiringi amarah.
"Masuk kemana bu?," Mastur sedikit ketus menjawab pertanyaan dari ibu mertua.
"Ke kamarmu mu nak...," ibu mertua menyakinkan mastur agar ia masuk kedalam rumah. Ibu mertua tau tentang kondisi Mastur saat ini, tubuh dan mentalnya drop, ia harus beristirahat barang sejenak.
Tiba-tiba mastur berdiri dan memandang ibu mertua dengan sorot mata yang tajam. Ia tak perduli lagi dengan kondisi sekitar, ia hanya ingin perasaan didengar, didengar dengan rasa bukan telinga.
"Kenapa....ibu....kenapa....ibu...., kenapa ibu tidak merestui pernikahan kita, apakah ibu tak merasa iba terhadap kehidupan saya dan Ratna.....?" Mastur sedikit meninggikan suaranya, rasa sungkan terhadap ibu mertua sedikit terkikis, ia melontarkan rasa yang selama ini terpendam.
"Ndak nak...aku merestuimu merestui kalian," ibu mulai menangis dengan jawabanya.
"Anak?, sekarang aku bukan anakmu...!!!," amarah Mastur meninggi, ia berbica keras hingga banyak keluarga berdatangan menghampiri, tapi tak berani untuk mendekat. Karna mereka tau kondisi saat ini adalah kondisi yang belu stabil.
"Ndak...kau adalah anak...sekarang kau adalah anakku...kau anakku...kau adalah anakku...benar...benar anakku.....," raungan ibu mertua terdengar pilu, ia menghampiri Mastur, memeluk menciumnya, ia tidak mau kehilangan Mastur ia tak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Mastur merasa risih dengan pelukan ibu mertuanya, ia melepaskannya. Ia sudah kalut dengan pikirannya, masa lalu sudah menyelimuti alam bawah sadarnya.
"Seumpama ibu....seumpama dirimu menyetujui pernikahan kami dari dulu, hal ini tak akan mungkin terjadi, apa ibu tau....setiap hari Ratna tertekan dengan kondisi sperti ini dengan sifat ibu dan keluarga yang sinis terhadap pernikahan kami....,"
"Maafkan ibu nak....maafkan ibu nak....",
"Maaf...!!!!?, Ratna ndak akan kembali ibu...ratna tidak bisa kembali ibu....!!!" teriakan Mastur membuatnya pingsan, ia tak sadarkan diri.
Keluarga kaget dengan kejadian itu termasuk ibu mertua.
"Ayo...cepat gotong Mastur...ke ruanganku...jangan ke ruanganya Ratna," ibu mertua menyarankan Mastur dibawa ke ruangan yang lain, agar ketika ia sadar sedikit mengurangi beban mentalnya dengan tidak melihat kondisi ruangan yang bukan milik Ratna.
***
"Ia saya akan pulang...," pak Eko akan pulang menuju rumah Ratna ia akan pulang menggunakan pesawat hari ini juga untuk menemui Mastur.
Pak Eko ia seorang yang kaya raya ia adalah adik dari ibu mertua Mastur dan paman dari Ratna. Ratna tinggal di rumah pak Eko selama kuliah, pak eko jugalah yang membiayai seluruh kuliah ratna.
Masuk di kampus yang sama dengan Mastur atas saran dari pak Eko sebab dikampus itu salah satu donaturnya adalah pak Eko. Donasi pak Eko digunakan untuk beasiswa anak yang tidak mampu tapi berprestasi , termasuk Mastur adalah anak penerima beasiswa yang diberikan oleh pak Eko.
Pak eko sangat tau betul siapa saja penerima biasiswa yang ia berikan. Seluruh data penerima ada ditangan pak Eko, termasuk data dari Mastur. Sehingga pak eko sangat senang ketika tau Ratna berpacaran dengan Mastur. Karna pak Eko tau tentang kredibilatas dan karakter Mastur.
Pernah suatu waktu diperusahaan diadakan acara pengajian. Mastur ditunjuk oleh pak Eko untuk mengisinya, meskipun ia muda pak Eko percaya Mastur mampu melakukannya. Dan benar, Mastur menguasai forum ia bisa memberikan tausiah kepada karyawan dengan bijak dan mudah dimengerti. Semua menyukai termasuk pak Eko.
***
"Paman...ini Mastur...yang aku ceritakan kemaren...," Ratna memperkenal Mastur kepada pak Eko. Ratna mengajak Mastur untuk menemui pak eko, membicarakan masalah pernikahan yang akan dilangsungkan.
"Oh...jadi Mastur yang ini...wah..paman kenal baik kalau dengan anak ini...," pak eko sedikit terkejut dan tak menyangka anak yang selalu dibawanya ke perusahaan akan berjodoh dengan keponakan yang paling ia sayangi.
"Jadi paman sudah kenal?,"
"Ia paman sudah kenal..,"
"Sukurlah kalau gitu, terus gmn menurut paman?"
"Tergantung dirimu..., kalau kamu benar suka dan seratus persen mantap, ya...paman dukung...juga mendoakan akan bisa jadi keluarga sakinah mawadah dan warahmah,"
"Amien....," serentak Mastur dan Ratna berucap dengan penuh kebahagian.
"Tapi bagaimana dengan ibu dan ayahmu?,"
Tiba-tiba Ratna menangis sesegukan, ia tak kuasa menjawab pertanyaannya, Ratna sadar jawaban dari pertanyaan paman adalah proses dari perjalanan cinta mereka, tanpa restu.
"Loh...loh...kenapa...ada apa cerita, kemaren kan sudah pulang ke rumah...katanya mau pamitan sama ayah ibu, trus gmn kelanjutannya?," Pak eko kaget dengan mimik wajah Ratna yang berubah tangis.
Sebelum ke rumah pak Eko ratna sudah lebih dulu mengajak Mastur pulang ke rumah untuk memperkenalkan kepada ayah dan ibu Ratna. Ratna sudah berpamitan ke pak eko, ia menyetujuinya.
Dirumah Ratna berharap cintanya akan direstui oleh ayah dan ibu Ratna. Tapi Ratna keliru cintanya masih ada jalan terjal yang menghalangi.
Harap Ratna Mastur akan diterima dengan baik meskipun itu bukanlah acara lamaran, mereka hanya datang berdua saja dari jauh, dari tempat mereka belajar. Ayah dan ibu kaget bukan kepalang, adat desa menjadi panutan setiap anggota masyarakat sedikit tercoreng dengan perjalanan kisah mereka.
Ayah Ratna adalah seorang tokoh masyarakat yang disegani, sebut saja tokoh agama. Otomatis dunia pacaran bagi putra-putrinya adalah nilai minus yang harus dihindari. Apalagi pada waktu itu ratna datang berdua dengan seorang lelaki yang bukan mahram.
"Siapa itu Ratna!!!!," tanpa ucap Assalamualaikum.. Ayah ratna membentak dengan keras.
"Dia...pacar ku yah....,"
"Pacar....!!!",
" eh...maksudku..calon suami yah...",
"Apa Maksudmu ini Ratna...!!!??, hai kamu...pulang sana....jangan kemari lagi....cepat...pulang....!!!," tanpa disangka ayah Ratna mengusir Mastur pulang. Membentaknya dengan keras, hingga membuat Mastur merasa ketakutan dan akhirnya pulang dengan perasaan sedih.
Ratna juga tak kuasa menahan air matanya. Ia pun masuk kamar dengan rintihan hati yang tersayat, ia pasrah dengan kisahnya, tapi ia akan berusaha, berusaha untuk berbicara dengan ayahnya.
Ketika Ratna sudah reda dengan tangisnya, ia mencoba berbicara pada ibunya. Tapi, ibunya sama dengan ayah ratna, tak setuju dengan laki-laki itu. Meskipun ratna sudah menceritakan hal-ihwal tentang laki-laki itu. Dimanata ayah ibu ratna laki-laki itu tak berkelas, sebab, tidak kaya.
Berhari-hari ratna mengiba pada ayah dan ibunya untuk merestui jalan pernikahan mereka tapi yang didapat ratna adalah penolakan. Hingga membuat Ratna drop fisik dan mental, ia sakit, opname dirumah sakit.
Hati yang keras tidaklah lunak dengan sesuatu apapun, ketika sembuh Ratna mencoba lagi tuk mengiba, tapi tetap saja ditolak oleh ayah dan ibu Ratna. Yang akhirnya membuat Ratna nekat untuk pergi meninggalkan rumah menuju rumah pamanya, pak Eko.
***
"Saya terima Nikahnya Ratna Sarum binti Sudirman dengan mas kawin tersebut Tunai!..," Mastur berikrar akad dengan tegas, tak ada keraguan sedikitpun dihati Mastur, ia yakin cintanya akan menuju kebahagian.
Akhirnya cinta mereka bersatu dalam ikatan yang halal. Proses menuju akad nikah merupakan proses yang berkelit. Loby pak Eko untuk membantu ponaa'annya berbuah hasil, yang pada akhirnya kakaknya merestui hubungan mereka berdua.
"Ia baik...saya setuju dengan pernikahan mereka, tapi, seluruh biaya pernikahan kamu yang nanggung dik", suara ketus ibu mertua mastur terdengar menyakitkan ditelinga ratna, ratna merasa masih ada benih ketidak-sukaan kepada hubungan mereka berdua.
" baiklah....", pak Eko menyanggupi syarat itu, sebab ia tau pilihan bijaknya merupakan keputusan yang tepat.
Ikatan halal pernikahan Mastur dan Ratna adalah ujung kesetian mereka dalam langkah yang benar. Ikrar mereka tercatat dalam dimensi keagungan langit, semua berbahagia, hati mereka berdua lebih bahagia, sangat bahagia.
Akan tetapi kesetian mereka diuji lagi dengan alur kehidupan yanh masih misteri. Nuansa berbeda dari lingkungan berbeda membuat mereka beradaptasi. Gejolak batin ketidaktaun akan proses kehidupan terus memporak-porandakan batin, dan mereka mencoba untuk kuat.
Lingkungan yang bersahaja harapan setiap pasangan, menempuh hidup baru merupakan sebuah tantangan. Itu semua masih butuh dukungan, jika tidak, akan bergejolak pada tikungan.
Tekanan batin mereka berdua terasa sudah. Setiap hari omelan ibu dan ayah menggema ditelinga dua insan. Harapan kedua orang tua tak sejalan, sehingga membuat pandang mata mereka melahirkan kebencian.
Ratna hanya bisa pasrah, ia mencoba sabar dan memberikan ribuan cintanya untuk Mastur agar mastur merasa dirinya masih tetap bersamanya, ia tak akan meninggalkannya, selamanya.
Bersambung...
0 komentar:
Posting Komentar