A.
Pendahuluan
Pada abad pertengahan Dunia Barat telah
maju, ditandai dengan beberapa kemajuan dan penemuan teknologi modern seperti
kaca lensa, alat percetakan, dan lain-lain. Perkembangan IPTEK ini disamping
menimbulkan hal-hal yang positif adapula yang negatif, sedangkan umat Islam
dibelahan bagian timur sedang bersimpuh dibawah penindasan dan juga terlena
dibawah sisa kemegahan kurturnya di masa silam yang telah sirna, namun
dibelahan barat (Asia Barat) kurang lebih tahun 1300 telah berdiri pula
Kerajaan Turki, namun mereka kurang berbudaya. Mereka hanya mengandalkan kemajuan
militer, keberanian dan fisik mereka yang kuat, namun mereka ini merupakan ancaman
bagi Eropa.
Masa pemerintahan turki usmani sangat lama
sekitar 625 tahun, yaitu dari 1299-1924. Masa pemerintahan yang panjang itu
dibagi menjadi lima priode, yakni priode pertama (1299-1402), priode kedua
(1403-1566), priode ketiga (1566-1703), priode keempat (1703-1839), dan priode
kelima (1839-1924).[1]
Pada priode pertama (1299-1924), terjadi
pertumbuhan dan perkembangan kekuasaan kerajaan usmani sejak masa Usman I, yang
disusul dengan perluasan wilayah hingga menyebrang ke daratan eropa. Namun
gerak langkah Usmani dibendung oleh kekuatan Timur Lenk yang dapat merebut
wilayah timur kerajaan pada tahun 1402.
Pada priode kedua (1403-1566) dimulai
dengan masa transisi karena perebutan kekuasaan diantara anak-anak Bayazid I,
yang diakhiri kemenangan Muhammad terhadap saudara-saudaranya. Ia pada awalnya
berkuasa atas Anatolia saja pada 1403-1413, sementara saudaranya, Sulaiman,
berkuasa atas Rumelia pada 1403-1413. Mulai tahun 1413, Muhamamd menguasai
seluruh willayah warisan ayahnya. Priode kedua ini ditandai dengan
perbaikan-perbaikan sehingga kerajaan Usmani kembali kuat dan berkembang secara
mengagumkan. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa
Sultan muhammad II al fatih pada tahun 1453
dapat menaklukkan Byzantium Romawi,[2]
dan mesir oleh sultan Salim I. Masa keemasan terjadi pada masa pemerintahan
sultan Sulaiman yang agung. Priode kedua ini berakhir dengan wafatnya Sultan
Sulaiman.
Pada priode ketiga (1566-1703), kerajaan
Usmani hanya mampu bertahan agar tidak hancur tanpa adanya kemajuan dalam
perluasan wilayah. Mereka bahkan sudah mulai kehilangan daerah Hongaria.
Pada priode keempat (1703-1839), kerajaan
Usmani berada dalam masa kemunduran dengan wilayah yang semakin menyempit.
Sedikit demi sedikit, kekuasaan berpindah kepada para pengikutnya yang berusaha
meminta otonomi, atau bahkan ingin melepaskan diri dari pemerintahan pusat.
Periode ini diakhiri dengan modernisasi yang dilaksanakan oleh sultan mahmud II
pada 1839.
Priode
terakhir (1839-1924) dilanjutkan dengan pembaharuan dibidang politik,
administrasi, dan kebudayaan, hingga kerajaan Usmani jatuh pada tahun 1924 dan
berganti nama menjadi republik di bawah Mustafa Kemal Ataturk. Pada masa kelima
inilah timbul berbagai pemikiran dan gerakan untuk memajukan Turki, seperti
Tanzimat, Usmani Muda, Turki Muda, Pan-Turanisme, pan-Turkisme, dan
nasionalisme Turki.
Adapun penguasa-penguasa kerajan turki
usmani yaitu: priode pertama: usman I, Orkhan bin Usman, Murad I bin Orkhan, Bayazid
I bin Murad I. Periode kedua: Muhamamd I bin Bayazid I, Murad II bin Muhammad
I, Muhammad II al-Fatih bin Murad II, Bayazid II bin Muhammad II, Salim I bin
Bayazid II, Sulaiman al-Qanuni bin Salim I. Periode ketiga: Salim II bin
Sulaiman I, Murad III bin Salim II, Muhammad III bin Murad III, Ahmad I bin
Muhammad III, Mustafa I bin Muhammad III, Usman II bin Ahmad I, Mustafa I,
Murad IV bin Ahmad I, Ibrahim bin Ahmad I, Muhammad IV bin Ibrahim, Sulaiman II
bin Ibrahim, Ahmad II bin Ibrahim, Mustafa II bin Muhammad IV. Periode keempat:
Ahmad III bin Muhammad IV, Mahmud I bin Mustafa II, Usman III bin Mustafa II,
Mustafa III bin Ahmad III, Salim III bin Mustafa III, Mustafa IV bin Abdul
Hamid I, Mahmud II bin Abdul Hamid I. Periode kelima: Abdul Majid bin Mahmud
II, Abdul Aziz bin Mahmud II, Murad V bin Abdul Majid, Abdul Hamid II bin Abdul
Majid, Muh. V Rasyad bin Abdul Majid, Muh. VI Wahiduddin bin A. Majid, Abdul
Majid II.
Sejarah dari kerajaan Turki Usmani tersebut
menarik pemakalah untuk mengkaji salah satu periode, yang tepatnya adalah
periode keempat dimana salah satu penguasanya adalah Mahmud II yang menjadi icon
awal modernisasi yang terjadi di kerajaan Turki Usmani.
B.
Sultan Mahmud II
1.
Bidang Militer
Sultan Mahmud II adalah sultan ke-33 dari 40 Sultan Turki yang berkuasa
melanjutkan kekuasaan Sultan Musthafa
IV. Secara detail riwayat hidup
Sultan Mahmud II tidak banyak
terungkap. Mahmud lahir pada tahun 1785 dan mempunyai didikan
tradisional, antara lain pengetahuan agama, pengetahuan pemerintahan, sejarah
dan sastra Arab, Turki dan Persia. Ia diangkat menjadi Sultan di tahun 1807 dan
meninggal di tahun 1839.
Di bagian pertama dari masa kesultanannya ia disibukkan oleh peperangan
dengan Rusia dan usaha menundukkan daerah-daerah yang mempunyai kekuasaan
otonomi besar, peperangan dengan Rusia selesai di tahun 1812.[3]
Setelah kekuasaannya sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Usmani bertambah kuat,
Sultan Mahmud II melihat bahwa telah tiba masanya untuk memulai usaha-usaha
pembaharuan yang telah lama ada dalam pemikirannya. Hal pertama yang menarik
perhatiaannya ialah pembaharuan dibidang militer.
Terdapat beberapa faktor yang mendorong Sultan Mahmud II untuk
memperkenalkan usaha pembaharuan ini. Antaranya ialah kelemahan sistem
ketenteraan Uthmaniyah semakin jelas dan terbukti apabila berhadapan dengan
kuasa Eropa dan Rusia di medan peperangan. Kekalahan menghadapi Perancis di
Mesir masih menghantui pemikiran dan perasaan pemerintah dan juga rakyat.
Mereka berasa bimbang, peristiwa seumpama ini mungkin akan berulang lagi.
Tambahan pula kurangnya disiplin dan moral di kalangan tentera Inkishariyah.
Sebahagian daripada mereka ingkar untuk menjalankan operasi dan sebahagian yang
lain pula pada mulanya patuh dengan arahan, tetapi kemudiannya ingkar dan
meninggalkan medan peperangan. Di samping itu juga, mereka juga menjadi
pemimpin yang mempengaruhi masyarakat menentang pemerintah. Apabila tentera
Inkishariyah gagal dalam menangani pemberontakan Greek pada tahun 1821, Sultan
Mahmud bertekad untuk memulakan program pembaharuannya.
Kemudian Di tahun 1826 ia membentuk suatu korp tentara baru yang diasuh
oleh pelatih pelatih yang dikirim oleh Muhammad Ali Pasya[4] dari
Mesir. Ia menjauhi pemakaian pelatih-pelatih eropa atau kristen yang di masa
lampau mendapat tantangan dari pihak-pihak yang tidak setuju dengan
pembaharuan.[5]
Perwira-perwira tinggi yeniseri menyetujui pembentukan korp baru itu,
tetapi perwira-perwira bawahan mengambil sikap menolak. Beberapa hari sebelum
korp baru itu mengadakan parade, yenesire berontak. Dengan mendapatkan resti
dari Mufti besar kerajaan Usmani, Sultan memberi perintah untuk mengepung
Yeniseri yang sedang berontak dan memukuli garnisium mereka dengan meriam.
Pertumpahan darah terjadi dan lebih dari seribu Yeniseri mati terbunuh.
Tempat-tempat mereka dihancurkan dan penyokong-penyokong mereka dari golongan
sipil ditangkap. Tarekat Bektasyi, sebagai tarekat yang banyak mempunyai
anggota dari kalangan Yeniseri dibubarkan, begitu pula dengan yeniseri sendiri
ia juga dibubarkan. Dengan bubarnya Yeniseri, golongan ulama yang anti
pembaharuan, juga lemah kekuatannya. Sokongan dari Yeniseri dan tarekat
bektasyi tiada lagi. Sehingga mempermudah usaha-usaha dari kerajaan untuk
melakukan perubahan.[6]
2.
Bidang Pendidikan
a.
Dalam bidang pendidikan
Sebagai
halnya di dunia Islam lain di zaman itu, madrasah merupakan satu-satunya
lembaga pendidikan umum yang ada di Kerajaan usmani. Di madrasah hanya
diajarkan agama. Pengetahuan umum tidak diajarkan. Sultan Mahmud II sadar bahwa
pendidikan madrasah tradisional ini tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman
abad kesembilan belas. Dimasa pemerintahannya orang juga telah kurang giat
memasukkan anak-anak mereka ke madrasah dan mengutamakan mengirim mereka belajar
keterampilan secara praktis di perusahaan-perusahaan industri tangan. Kebiasaan
ini membuat bertambahnya buta huruf di kerajaan usmani untuk mengatasi problema
ini, sultan mahmud II mengeluarkan perintah supaya anak sampai umur dewasa
jangan dihalangi masuk madrasah.[7]
Di
bagian lain, Mahmud
II juga membenahi
kurikulum madrasah dengan
memasukkan pengetahuan umum sebagai
salah satu matapelajaran, namun
hal ini sulit
dilakukan karena pihak madrasah banyak yang menolak. Maka dari
itu, alternatif yang diambil Mahmud II adalah mendirikan sekolah-sekolah umum
di samping madrasah yang sudah berjalan. Sekolah umum yang didirikan
Mahmud II di antaranya adalah Maktab-i
Ma’arif dan Maktab-i Ulum-i Adabiyat-i. Kedua
sekolah ini menerima lulusan madrasah yang
bermutu tinggi. Adapun pelajaran yang diberikan di sekolah
tersebut meliputi bahasa Perancis, ilmu ukur, sejarah, ilmu politik, dan bahasa
Arab. Sekolah tersebut
mendidik siswa untuk
menjadi pegawai administrasi
dan menyediakan penerjemah-penerjemah bagi pemerintah. Beberapa saat
setelah sekolah ini didirikan Mahmud
II juga membangun sekolah militer, teknik, kedokteran, dan
pembedahan. Pada tahun 1838 M
sekolah kedokteran dan
pembedahan digabung menjadi satu
dengan nama Dar-ul Ulum-u Hikemveye Maktab-i Thibbiye-i Sahane.Di
sekolah kedokteran itu terdapat bukan hanya buku-buku ilmu kedokteran, tetapi
juga tentang ilmu alam, falsafat, dan sebagainya.[8]
Bahasa pengantar di sekolah tersebut adalah bahasa Perancis. Tujuan yang
dikehendaki Mahmud II dari pendirian sekolah tersebut untuk
mendidik masyarakat menjadi produktif, individu yang
senang dengan pandangan luas pada urusan dunia yang akan bersatu dalam
kesadaran nasional dan berfikir untuk membentuk sebuah negara yang tidak dapat
dipisahkan, dan akan memberikan kontribusi untuk kesejahteraan masyarakat
melalui keterampilan mereka. Ini adalah pemikiran yang akan memainkan peranan
dalam pembentukan Turki sebagai bangsa yang kreatif dan membedakan anggotanya
dari dunia modern.
Sultan Mahmud II juga mengirim banyak
pelajar Turki ke Barat. Sebanyak 150 pelajar dikirim ke berbagai negeri di
Eropa. Tujuannya adalah untuk melatih mereka menjadi guru di sekolah-sekolah
Turki yang baru didirikan. Di samping dari Turki, adapula pelajar yang berasal
dari Iran. Salah seorang di antaranya adalah Mirza Muhammad Shalih
Shirazi.Salah satu hal yang dipandang penting pada masa Sultan Mahmud II adalah
penerbitan surat kabar resmi pemerintah Takvim-i Vekayi. Surat kabar
tersebut tidak hanya berisi tentang berita-berita, daftar peristiwa, dan
pengumuman pemerintah, tetapi
juga memuat artikel-artikel
mengenai ide-ide yang berasal
dari Barat. Oleh karena
pembaca surat kabar
ini sangat luas, maka
Takvim-i mempunyai pengaruh yang besar dalam memperkenalkan
ide-ide modern Barat kepada masyarakat Turki. Salah satu redaktur surat kabar
tersebut adalah Musthafa Sami yang pernah berkunjung ke Eropa. Menurutnya,
Eropa maju karena pengetahuan, kemerdekaan beragama, patriotisme, dan pendidikan
yang merata. Sami
sungguh-sugguh tertarik dengan
peradaban Barat sehingga
tidak segan-segan mengkritik budaya
Timur.[9]
3.
Bidang Pemerintahan
Menurut
tradisi kerajaan Usmani, pemerintahan dikepalai oleh seorang Sultan yang
mempunyai kekuasaan temporal atau duniawi dan kekuasaan spritual atau rohani.
Sebagai penguasa duniawi ia memakai titel sultan dan sebagai kepala rohani umat
Islam ia memakai gelar Khalifah. Dengan demikian Raja Usmani mempunyai dua
bentuk kekuasaan, kekuasaan memerintah negara dan kekuasaan menyiarkan Islam.
Sebagai pengganti tidak langsung dari Nabi Muhammad SAW kedua kekuasaan ini
dipandang datang dari Tuhan. Sehinga semua rakyat harus tunduk kepada Sultan.
Sultan bersifat absolut dalam menjalankan pemerintahan Usmani. Dalam
melaksanakan kedua kekuasaan, Sultan dibantu oleh dua pegawai tinggi, Sadrazam
untuk urusan pemerintahan dan Syaikh al-Islam untuk urusan keagamaan. Keduanya
tidak mempunyai suara dalam hal pemerintahan dan hanya melaksanakan perintah
dari sultan. Di kala Sultan berhalangan ia digantikan oleh Sadrazam dalam
menjalankan tugas pemerintahan. Sebagai wakil sultan, sadrazam mempunyai kekuasaan
yang besar sekali. Pada masa Sultan Mahmud II kedudukan sadrazam dihapus
sebagai gantinya ia adakan jabatan perdana menteri yang membawahi
menteri-menteri untuk dalam negeri, luar negeri, keuangan dan pendidikan.
Departemen-departemen yang mereka kepalai mempunyai kedudukan semi otonom.
Perdana mentri merupakan penghubung antara para menteri dengan Sultan.
Kekuasaanya sudah jauh berkurang dari kekuasaan Sadrazam.[10]
Kekuasaan
judikatif yang pada mulanya berada di tangan Sudrazam dipindahkan ke tangan
Syaikh al-Islam. Tetapi dalam sistem baru ini, disamping hukum syariat diadakan
pula hukum sekuler. Yang terletak di bawah kekeuasaan Syaikh al-Islam hanya
hukum Syria’at. Hukum sekuler ia serahkan kepada dewan perancang hukum untuk
mengaturnya. Perubahan sistem ini merupakan perubahan awal dalam sistem
pemerintahan Islam yang mengadopsi sistem pemerintahan barat, sebagai seorang
Sultan
C.
Penutup
Jika dicermati, usaha-usaha
pembaruan yang dilakukan
oleh Sultan Mahmud
II di bidang pendidikan merupakan pondasi
awal dari perubahan
yang berlangsung di
kerajaan Turki Usmani. Hancurnya Yenissari dan tarekat Bektasyi yang
sebagian besar terdiri
dari ulama dan militer yang semula
menolak pembaruan memuluskan
jalan bagi Mahmud
II untuk melancarkan
ide-ide pembaruannya. Perubahan sistem pendidikan, dibangunnya
sekolah-sekolah baru, pengiriman pelajar-
pelajar ke Eropa merupakan cikal-bakal yang mengilhami dan
melahirkan tokoh-tokoh reformasi dalam gerakan Tanzimat seperti Mustafa Rasyid
Pasya dan Mahmud Shadiq Rasyid Pasya sampai kepada gerakan nasionalisme Mustafa
Kemal yang menjurus ke arah sekularisasi.
Daftar Pustaka
Asmuni,
Yusran. Pengantar Studi Pemikiran dan
Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam. Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,1998.
Nasution,
Harun. Pembaharuan dalam Islam Sejarah
Pemikiran dan Gerakan. Jakarta : PT. Bulan Bintang. 2003.
Novianti, Ida,
“sultan Mahmud II dan era pembaharuan di Turki Usmani”, Insania, Vol.
11, no. 1 (jan-april, 2006)
Mufrodi, Ali. Para Penguasa Kerajaan Usmani.
dalam enskliopedi Islam,
[2] Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan
Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Jakarta:PT.Raja Grafindo
Persada,1998) 11-12.
[3] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah
Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta : PT. Bulan Bintang. 2003) 90.
[4] Muhammad 'Alī
Pasha al-Mas'ud ibn Agha (Arab:
محمد علي باشا)
(Albania: Mehmet Ali Pasha) atau
Mehmet Ali Paşa dalam Turki,
(1769 - 2 Agustus
1849), adalah Wāli
Mesir dan Sudan, dan dianggap sebagai "pendiri Mesir modern".
Dinasti yang ia dirikan kemudian menguasai Mesir dan Sudan
sampai Revolusi Mesir 1952.
Menurut catatan ia mengirim 311 pelajar Mesir
ke Italia, Perancis, Inggris dan Austria. Yang dipentingkan adalah
ilmu-ilmu kemiliteran, ilmu administrasi, arsitek, kedokteran dan
obat-obatan.
Muhammad Ali Pasya mengundang para ahli
militer Barat untuk melatih angkatan bersenjata Mesir dan juga mengirim misi ke
luar negeri (Eropa) guna mempelajari ilmu kemiliteran. Pada tahun 1815 untuk
pertama kalinya di Mesir didirikan Sekolah Militer yang sebagian besar
instrukturnya didatangkan dari Eropa.
Di dalam administrasi pemerintahan, Muhammad
Ali Pasya meniru pemerintahan Perancis. Dia mempunyai penasihat politik, tetapi
putusan terakhir terletak di tangannya.
Di samping pengiriman orang Mesir ke luar negeri untuk
belajar ilmu pengetahuan, di dalam negeri didirikan Sekolah Militer (1815),
Sekolah Teknik (1816), Sekolah Kedokteran (1927), Farmasi (1829) guru-gurunya
didatangkan dari Barat. Sekolah-sekolah tersebut mungkin yang pertama dalam
dunia Islam. Lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ali_dari_Mesir
[5]Harun
Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, 91.
[9] Ida Novianti, “sultan Mahmud II dan era pembaharuan di Turki
Usmani”, Insania, Vol. 11, no. 1 (jan-april, 2006), 4-6.
0 komentar:
Posting Komentar