Minggu, 01 Juli 2012

Sultan Mahmud II



A.    Pendahuluan
Pada abad pertengahan Dunia Barat telah maju, ditandai dengan beberapa kemajuan dan penemuan teknologi modern seperti kaca lensa, alat percetakan, dan lain-lain. Perkembangan IPTEK ini disamping menimbulkan hal-hal yang positif adapula yang negatif, sedangkan umat Islam dibelahan bagian timur sedang bersimpuh dibawah penindasan dan juga terlena dibawah sisa kemegahan kurturnya di masa silam yang telah sirna, namun dibelahan barat (Asia Barat) kurang lebih tahun 1300 telah berdiri pula Kerajaan Turki, namun mereka kurang berbudaya. Mereka hanya mengandalkan kemajuan militer, keberanian dan fisik mereka yang kuat, namun mereka ini merupakan ancaman bagi Eropa.
Masa pemerintahan turki usmani sangat lama sekitar 625 tahun, yaitu dari 1299-1924. Masa pemerintahan yang panjang itu dibagi menjadi lima priode, yakni priode pertama (1299-1402), priode kedua (1403-1566), priode ketiga (1566-1703), priode keempat (1703-1839), dan priode kelima (1839-1924).[1]
Pada priode pertama (1299-1924), terjadi pertumbuhan dan perkembangan kekuasaan kerajaan usmani sejak masa Usman I, yang disusul dengan perluasan wilayah hingga menyebrang ke daratan eropa. Namun gerak langkah Usmani dibendung oleh kekuatan Timur Lenk yang dapat merebut wilayah timur kerajaan pada tahun 1402.
Pada priode kedua (1403-1566) dimulai dengan masa transisi karena perebutan kekuasaan diantara anak-anak Bayazid I, yang diakhiri kemenangan Muhammad terhadap saudara-saudaranya. Ia pada awalnya berkuasa atas Anatolia saja pada 1403-1413, sementara saudaranya, Sulaiman, berkuasa atas Rumelia pada 1403-1413. Mulai tahun 1413, Muhamamd menguasai seluruh willayah warisan ayahnya. Priode kedua ini ditandai dengan perbaikan-perbaikan sehingga kerajaan Usmani kembali kuat dan berkembang secara mengagumkan. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa
Sultan muhammad II al fatih pada tahun 1453 dapat menaklukkan Byzantium Romawi,[2] dan mesir oleh sultan Salim I. Masa keemasan terjadi pada masa pemerintahan sultan Sulaiman yang agung. Priode kedua ini berakhir dengan wafatnya Sultan Sulaiman.
Pada priode ketiga (1566-1703), kerajaan Usmani hanya mampu bertahan agar tidak hancur tanpa adanya kemajuan dalam perluasan wilayah. Mereka bahkan sudah mulai kehilangan daerah Hongaria.
Pada priode keempat (1703-1839), kerajaan Usmani berada dalam masa kemunduran dengan wilayah yang semakin menyempit. Sedikit demi sedikit, kekuasaan berpindah kepada para pengikutnya yang berusaha meminta otonomi, atau bahkan ingin melepaskan diri dari pemerintahan pusat. Periode ini diakhiri dengan modernisasi yang dilaksanakan oleh sultan mahmud II pada 1839.
 Priode terakhir (1839-1924) dilanjutkan dengan pembaharuan dibidang politik, administrasi, dan kebudayaan, hingga kerajaan Usmani jatuh pada tahun 1924 dan berganti nama menjadi republik di bawah Mustafa Kemal Ataturk. Pada masa kelima inilah timbul berbagai pemikiran dan gerakan untuk memajukan Turki, seperti Tanzimat, Usmani Muda, Turki Muda, Pan-Turanisme, pan-Turkisme, dan nasionalisme Turki.
Adapun penguasa-penguasa kerajan turki usmani yaitu: priode pertama: usman I, Orkhan bin Usman, Murad I bin Orkhan, Bayazid I bin Murad I. Periode kedua: Muhamamd I bin Bayazid I, Murad II bin Muhammad I, Muhammad II al-Fatih bin Murad II, Bayazid II bin Muhammad II, Salim I bin Bayazid II, Sulaiman al-Qanuni bin Salim I. Periode ketiga: Salim II bin Sulaiman I, Murad III bin Salim II, Muhammad III bin Murad III, Ahmad I bin Muhammad III, Mustafa I bin Muhammad III, Usman II bin Ahmad I, Mustafa I, Murad IV bin Ahmad I, Ibrahim bin Ahmad I, Muhammad IV bin Ibrahim, Sulaiman II bin Ibrahim, Ahmad II bin Ibrahim, Mustafa II bin Muhammad IV. Periode keempat: Ahmad III bin Muhammad IV, Mahmud I bin Mustafa II, Usman III bin Mustafa II, Mustafa III bin Ahmad III, Salim III bin Mustafa III, Mustafa IV bin Abdul Hamid I, Mahmud II bin Abdul Hamid I. Periode kelima: Abdul Majid bin Mahmud II, Abdul Aziz bin Mahmud II, Murad V bin Abdul Majid, Abdul Hamid II bin Abdul Majid, Muh. V Rasyad bin Abdul Majid, Muh. VI Wahiduddin bin A. Majid, Abdul Majid II.
Sejarah dari kerajaan Turki Usmani tersebut menarik pemakalah untuk mengkaji salah satu periode, yang tepatnya adalah periode keempat dimana salah satu penguasanya adalah Mahmud II yang menjadi icon awal modernisasi yang terjadi di kerajaan Turki Usmani.


B.     Sultan Mahmud II
1.      Bidang Militer
Sultan Mahmud II adalah sultan ke-33 dari 40 Sultan Turki yang berkuasa melanjutkan kekuasaan Sultan Musthafa  IV. Secara detail  riwayat hidup Sultan Mahmud  II  tidak banyak  terungkap. Mahmud lahir pada tahun 1785 dan mempunyai didikan tradisional, antara lain pengetahuan agama, pengetahuan pemerintahan, sejarah dan sastra Arab, Turki dan Persia. Ia diangkat menjadi Sultan di tahun 1807 dan meninggal di tahun 1839.
Di bagian pertama dari masa kesultanannya ia disibukkan oleh peperangan dengan Rusia dan usaha menundukkan daerah-daerah yang mempunyai kekuasaan otonomi besar, peperangan dengan Rusia selesai di tahun 1812.[3] Setelah kekuasaannya sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Usmani bertambah kuat, Sultan Mahmud II melihat bahwa telah tiba masanya untuk memulai usaha-usaha pembaharuan yang telah lama ada dalam pemikirannya. Hal pertama yang menarik perhatiaannya ialah pembaharuan dibidang militer.
Terdapat beberapa faktor yang mendorong Sultan Mahmud II untuk memperkenalkan usaha pembaharuan ini. Antaranya ialah kelemahan sistem ketenteraan Uthmaniyah semakin jelas dan terbukti apabila berhadapan dengan kuasa Eropa dan Rusia di medan peperangan. Kekalahan menghadapi Perancis di Mesir masih menghantui pemikiran dan perasaan pemerintah dan juga rakyat. Mereka berasa bimbang, peristiwa seumpama ini mungkin akan berulang lagi. Tambahan pula kurangnya disiplin dan moral di kalangan tentera Inkishariyah. Sebahagian daripada mereka ingkar untuk menjalankan operasi dan sebahagian yang lain pula pada mulanya patuh dengan arahan, tetapi kemudiannya ingkar dan meninggalkan medan peperangan. Di samping itu juga, mereka juga menjadi pemimpin yang mempengaruhi masyarakat menentang pemerintah. Apabila tentera Inkishariyah gagal dalam menangani pemberontakan Greek pada tahun 1821, Sultan Mahmud bertekad untuk memulakan program pembaharuannya.
Kemudian Di tahun 1826 ia membentuk suatu korp tentara baru yang diasuh oleh pelatih pelatih yang dikirim oleh Muhammad Ali Pasya[4] dari Mesir. Ia menjauhi pemakaian pelatih-pelatih eropa atau kristen yang di masa lampau mendapat tantangan dari pihak-pihak yang tidak setuju dengan pembaharuan.[5]
Perwira-perwira tinggi yeniseri menyetujui pembentukan korp baru itu, tetapi perwira-perwira bawahan mengambil sikap menolak. Beberapa hari sebelum korp baru itu mengadakan parade, yenesire berontak. Dengan mendapatkan resti dari Mufti besar kerajaan Usmani, Sultan memberi perintah untuk mengepung Yeniseri yang sedang berontak dan memukuli garnisium mereka dengan meriam. Pertumpahan darah terjadi dan lebih dari seribu Yeniseri mati terbunuh. Tempat-tempat mereka dihancurkan dan penyokong-penyokong mereka dari golongan sipil ditangkap. Tarekat Bektasyi, sebagai tarekat yang banyak mempunyai anggota dari kalangan Yeniseri dibubarkan, begitu pula dengan yeniseri sendiri ia juga dibubarkan. Dengan bubarnya Yeniseri, golongan ulama yang anti pembaharuan, juga lemah kekuatannya. Sokongan dari Yeniseri dan tarekat bektasyi tiada lagi. Sehingga mempermudah usaha-usaha dari kerajaan untuk melakukan perubahan.[6]

2.      Bidang Pendidikan
a.       Dalam bidang pendidikan
Sebagai halnya di dunia Islam lain di zaman itu, madrasah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan umum yang ada di Kerajaan usmani. Di madrasah hanya diajarkan agama. Pengetahuan umum tidak diajarkan. Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan madrasah tradisional ini tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad kesembilan belas. Dimasa pemerintahannya orang juga telah kurang giat memasukkan anak-anak mereka ke madrasah dan mengutamakan mengirim mereka belajar keterampilan secara praktis di perusahaan-perusahaan industri tangan. Kebiasaan ini membuat bertambahnya buta huruf di kerajaan usmani untuk mengatasi problema ini, sultan mahmud II mengeluarkan perintah supaya anak sampai umur dewasa jangan dihalangi masuk madrasah.[7]
Di  bagian  lain,  Mahmud  II  juga  membenahi  kurikulum  madrasah  dengan  memasukkan pengetahuan  umum  sebagai  salah  satu matapelajaran,  namun  hal  ini  sulit  dilakukan  karena  pihak madrasah banyak yang menolak. Maka dari itu, alternatif yang diambil Mahmud II adalah mendirikan sekolah-sekolah umum di samping madrasah yang sudah berjalan. Sekolah umum yang didirikan Mahmud  II di antaranya adalah Maktab-i Ma’arif dan Maktab-i Ulum-i  Adabiyat-i.  Kedua  sekolah  ini menerima  lulusan madrasah  yang  bermutu  tinggi.  Adapun pelajaran yang diberikan di sekolah tersebut meliputi bahasa Perancis, ilmu ukur, sejarah, ilmu politik, dan  bahasa  Arab.  Sekolah  tersebut  mendidik  siswa  untuk  menjadi  pegawai  administrasi  dan menyediakan penerjemah-penerjemah bagi pemerintah. Beberapa saat setelah sekolah  ini didirikan Mahmud II  juga membangun sekolah militer,  teknik, kedokteran,  dan  pembedahan. Pada  tahun  1838 M  sekolah  kedokteran  dan  pembedahan  digabung menjadi satu dengan nama Dar-ul Ulum-u Hikemveye Maktab-i Thibbiye-i Sahane.Di sekolah kedokteran itu terdapat bukan hanya buku-buku ilmu kedokteran, tetapi juga tentang ilmu alam, falsafat, dan sebagainya.[8] Bahasa pengantar di sekolah tersebut adalah bahasa Perancis. Tujuan yang dikehendaki Mahmud II dari pendirian sekolah tersebut untuk mendidik masyarakat menjadi produktif, individu yang senang dengan pandangan luas pada urusan dunia yang akan bersatu dalam kesadaran nasional dan berfikir untuk membentuk sebuah negara yang tidak dapat dipisahkan, dan akan memberikan kontribusi untuk kesejahteraan masyarakat melalui keterampilan mereka. Ini adalah pemikiran yang akan memainkan peranan dalam pembentukan Turki sebagai bangsa yang kreatif dan membedakan anggotanya dari dunia modern.
Sultan Mahmud II juga mengirim banyak pelajar Turki ke Barat. Sebanyak 150 pelajar dikirim ke berbagai negeri di Eropa. Tujuannya adalah untuk melatih mereka menjadi guru di sekolah-sekolah Turki yang baru didirikan. Di samping dari Turki, adapula pelajar yang berasal dari Iran. Salah seorang di antaranya adalah Mirza Muhammad Shalih Shirazi.Salah satu hal yang dipandang penting pada masa Sultan Mahmud II adalah penerbitan surat kabar resmi pemerintah Takvim-i Vekayi. Surat kabar tersebut tidak hanya berisi tentang berita-berita, daftar peristiwa,  dan  pengumuman  pemerintah,  tetapi  juga memuat  artikel-artikel mengenai  ide-ide  yang berasal  dari  Barat. Oleh  karena  pembaca  surat  kabar  ini  sangat  luas, maka  Takvim-i mempunyai pengaruh yang besar dalam memperkenalkan ide-ide modern Barat kepada masyarakat Turki. Salah satu redaktur surat kabar tersebut adalah Musthafa Sami yang pernah berkunjung ke Eropa. Menurutnya, Eropa maju karena pengetahuan, kemerdekaan beragama, patriotisme, dan pendidikan yang  merata.  Sami  sungguh-sugguh  tertarik  dengan  peradaban  Barat  sehingga  tidak  segan-segan mengkritik budaya Timur.[9]

3.      Bidang Pemerintahan
Menurut tradisi kerajaan Usmani, pemerintahan dikepalai oleh seorang Sultan yang mempunyai kekuasaan temporal atau duniawi dan kekuasaan spritual atau rohani. Sebagai penguasa duniawi ia memakai titel sultan dan sebagai kepala rohani umat Islam ia memakai gelar Khalifah. Dengan demikian Raja Usmani mempunyai dua bentuk kekuasaan, kekuasaan memerintah negara dan kekuasaan menyiarkan Islam. Sebagai pengganti tidak langsung dari Nabi Muhammad SAW kedua kekuasaan ini dipandang datang dari Tuhan. Sehinga semua rakyat harus tunduk kepada Sultan. Sultan bersifat absolut dalam menjalankan pemerintahan Usmani. Dalam melaksanakan kedua kekuasaan, Sultan dibantu oleh dua pegawai tinggi, Sadrazam untuk urusan pemerintahan dan Syaikh al-Islam untuk urusan keagamaan. Keduanya tidak mempunyai suara dalam hal pemerintahan dan hanya melaksanakan perintah dari sultan. Di kala Sultan berhalangan ia digantikan oleh Sadrazam dalam menjalankan tugas pemerintahan. Sebagai wakil sultan, sadrazam mempunyai kekuasaan yang besar sekali. Pada masa Sultan Mahmud II kedudukan sadrazam dihapus sebagai gantinya ia adakan jabatan perdana menteri yang membawahi menteri-menteri untuk dalam negeri, luar negeri, keuangan dan pendidikan. Departemen-departemen yang mereka kepalai mempunyai kedudukan semi otonom. Perdana mentri merupakan penghubung antara para menteri dengan Sultan. Kekuasaanya sudah jauh berkurang dari kekuasaan Sadrazam.[10]
Kekuasaan judikatif yang pada mulanya berada di tangan Sudrazam dipindahkan ke tangan Syaikh al-Islam. Tetapi dalam sistem baru ini, disamping hukum syariat diadakan pula hukum sekuler. Yang terletak di bawah kekeuasaan Syaikh al-Islam hanya hukum Syria’at. Hukum sekuler ia serahkan kepada dewan perancang hukum untuk mengaturnya. Perubahan sistem ini merupakan perubahan awal dalam sistem pemerintahan Islam yang mengadopsi sistem pemerintahan barat, sebagai seorang Sultan

C.     Penutup
Jika  dicermati,  usaha-usaha  pembaruan  yang  dilakukan  oleh  Sultan  Mahmud  II  di  bidang  pendidikan merupakan  pondasi  awal  dari  perubahan  yang  berlangsung  di  kerajaan Turki Usmani. Hancurnya Yenissari dan tarekat Bektasyi  yang  sebagian  besar  terdiri  dari ulama  dan militer yang  semula  menolak  pembaruan  memuluskan  jalan  bagi  Mahmud  II  untuk  melancarkan  ide-ide pembaruannya. Perubahan sistem pendidikan, dibangunnya sekolah-sekolah baru, pengiriman pelajar-
pelajar ke Eropa merupakan cikal-bakal yang mengilhami dan melahirkan tokoh-tokoh reformasi dalam gerakan Tanzimat seperti Mustafa Rasyid Pasya dan Mahmud Shadiq Rasyid Pasya sampai kepada gerakan nasionalisme Mustafa Kemal yang menjurus ke arah sekularisasi.











Daftar Pustaka

Asmuni, Yusran. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam. Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,1998.
Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta : PT. Bulan Bintang. 2003.
Novianti, Ida, “sultan Mahmud II dan era pembaharuan di Turki Usmani”, Insania, Vol. 11, no. 1 (jan-april, 2006)
Mufrodi,  Ali. Para Penguasa Kerajaan Usmani. dalam enskliopedi Islam,







[1] Ali mufrodi, Para Penguasa Kerajaan Usmani, dalam Enskliopedi Islam, 246.
[2] Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,1998) 11-12.
[3] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta : PT. Bulan Bintang. 2003) 90.
[4] Muhammad 'Alī Pasha al-Mas'ud ibn Agha (Arab: محمد علي باشا) (Albania: Mehmet Ali Pasha) atau Mehmet Ali Paşa dalam Turki, (1769 - 2 Agustus 1849), adalah Wāli Mesir dan Sudan, dan dianggap sebagai "pendiri Mesir modern". Dinasti yang ia dirikan kemudian menguasai Mesir dan Sudan sampai Revolusi Mesir 1952.
Menurut catatan ia mengirim 311 pelajar Mesir ke Italia, Perancis, Inggris dan Austria. Yang dipentingkan adalah ilmu-ilmu kemiliteran, ilmu administrasi, arsitek, kedokteran dan obat-obatan.
Muhammad Ali Pasya mengundang para ahli militer Barat untuk melatih angkatan bersenjata Mesir dan juga mengirim misi ke luar negeri (Eropa) guna mempelajari ilmu kemiliteran. Pada tahun 1815 untuk pertama kalinya di Mesir didirikan Sekolah Militer yang sebagian besar instrukturnya didatangkan dari Eropa.
Di dalam administrasi pemerintahan, Muhammad Ali Pasya meniru pemerintahan Perancis. Dia mempunyai penasihat politik, tetapi putusan terakhir terletak di tangannya.
Di samping pengiriman orang Mesir ke luar negeri untuk belajar ilmu pengetahuan, di dalam negeri didirikan Sekolah Militer (1815), Sekolah Teknik (1816), Sekolah Kedokteran (1927), Farmasi (1829) guru-gurunya didatangkan dari Barat. Sekolah-sekolah tersebut mungkin yang pertama dalam dunia Islam. Lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ali_dari_Mesir
[5]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, 91.
[6] Ibid, 91.
[7] Ibid, 92.
[8] Ibid, 95.
[9] Ida Novianti, “sultan Mahmud II dan era pembaharuan di Turki Usmani”, Insania, Vol. 11, no. 1 (jan-april, 2006), 4-6.
[10] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, 93.

0 komentar:

Posting Komentar