A.
Pendahuluan
Epistemologi
merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas terjadinya pengetahuan,
sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode, atau cara memperoleh
pengetahuan dan kebenaran pengetahuan.[1]
Objek materil epistemologi adalah pengetahuan, sedangkan objek formalnya adalah
hakikat pengetahuan, Persoalan-persoalan penting yang dikaji dalam epistemologi
berkisar pada masalah asal-usul pengetahuan, pengalaman, dan akal dalam
pengetahuan, hubungan antara pengetahuan dan keniscayaan, hubungan antara
pengetahuan dan kebenaran, kemungkinan skeptisisme universal, dan bentuk-bentuk
perubahan pengetahuan yang berasal dari konseptualisasi baru mengenai dunia.[2]
Pengetahuan
manusia ada tiga macam, yaitu, pengetahuan sains adalah pengetahuan yang logis
dan didukung oleh bukti empiris, pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang
kebenarannya hanya dipertanggungjawabkan secara logis tidak secara empiris, dan
pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan secara
empiris dan tidak juga secara logis.[3]
Pengetahuan
itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan berbagai alat, salahsatunya
adalah pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman indrawi, contohnya manusia
tahu es dingin karena dia menyentuhnya, gula manis karena dia mencicipinya.[4] Pada pembahasan ini pemakalah akan membahas tentang peran dan
permasalahan pengalaman indrawi dalam tiga aliran yaitu, empirisme,
rasionalisme dan positivisme.
B.
Pembahasan
Setiap
orang mengenal pancaindra : penglihatan, pendengaran, pencecap, pembau, dan
peraba. Kelima indra itu lazim disebut sebagai indra luar (external senses),
karena, berdasarkan anggapan umum, diyakini bahwa melalui kelima indra itu kita
berhubungan dengan dunia luar. Kelima indra itu masing-masing berbeda satu sama
lain dan acap kali berfungsi secara gabungan. Rupanya cukup jelas bahwa
masing-masing pancaindra itu mempunyai objek objek sendiri-sendiri. Warna
merupakan objek penglihatan, bunyi untuk pendengaran, rasa selera untuk
pencecap, bau untuk pembau, dan halus-kasar ataupun panas-dingin untuk peraba.
Peran
dan permasalahan pengalaman indrawi dalam tiga aliran:
1.
Empirisme
Kata
ini berasal dari kata yunani empeirikos yang berasal dari kata emperia,
artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui
pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud
ialah pengalaman indrawi, yaitu pengalaman yang terjadi melalui dan berkat
bantuan pancaindra. Dengan kata lain satu-satunya pengetahuan yang benar adalah
yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan pancaindra.[5] Pancaindra
memainkan peranan terpenting dibandingkan akal budi.
John
Locke (1632-1704), salah satu pengusung aliran ini mengemukakan teori tabula
rasa yang secara bahasa berarti meja lilin maksudnya ialah bahwa manusia
itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa
yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indra yang
masuk sederhana, lama-kelamaan ruwet, lalu tersusunlah pengetahuan berarti.
Berarti, bagaimanapun kompleksnya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari
ujungnya pada pengalaman indra. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indra
bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi pengalaman indra itulah sumber pengetahuan
yang benar.
Tetapi dalam
aliran ini pengalaman indra mempunyai kelemahan. Kelemahan pertama ialah indra
terbatas. Benda yang jauh kelihatan kecil. Apakah benda itu kecil? Tidak.
Keterbatasan kemampuan indra ini dapat melaporkan objek tidak sebagaimana
adanya; dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah. Kelemahan kedua ialah indra
menipu. Pada orang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan
dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.[6]
2.
Rasionalisme
Rasionalisme
adalah aliran filsafat yang mengatakan bahwa akal adalah alat terpenting untuk
memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis suatu pengetahuan diperoleh
dengan cara berpikir.[7]
Rasionalisme
tidak mengingkari kegunaan indra dalam memperoleh pengetahuan; pengalaman indra
diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan
akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia kepada kebenaran
adalah semata-mata dengan akal. Laporan indra menurut rasionalisme merupakan
bahan yang belum jelas, kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal
dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk
pengetahuan yang benar. Jadi, akal berkerja karena ada bahan dari indra. Akan
tetapi, akal dapat juga menghasilkan pengetahuan yang tidak berdasarkan bahan indrawi
sama sekali, jadi akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang objek yang
betul-betul abstrak.[8]
3.
Positivism
Pada
abad ke 19 timbullah filsafat yang disebut positivism, yang diturunkan Dari
kata positif. Filsafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang
factual, yang positif. Segala uraian dan persoalan yang diluar apa yang ada
sebagai fakta atau kenyataan dikesampingkan. Oleh karena itu metafisika
ditolak.[9]
Positivism
adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif, sesuatu yang
diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu
pengetahuan.[10]
Tokoh
aliran ini ialah A. Comte (1798-1857). Ia penganut empirisme. Ia berpendapat
bahwa indra itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus
dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indra
akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang
jelas. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat
dengan kiloan (timbangan atau neraca), dan sebagainya. Kita tidak cukup
mengatakan api panas, matahari panas, kopi panas. Kita juga tidak cukup
mengatakan panas sekali, panas, tidak panas. Kita memerlukan ukuran yang teliti.
Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan
akal, didukung bukti empiris yang terukur. “terukur” itulah sumbangan
positivisme.[11]
Jadi
pada dasarnya positivism bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia
hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang berkerja sama. Dengan kata
lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memaksukkan perlunya eksperimen
dan ukuran-ukuran. Jadi pada dasarnya positivism itu sama dengan empirisme dan
rasionalisme.
C.
Kesimpulan
Dari pembahasan
tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.
Peran
dan permasalahan indrawi dalam aliran empirisme
pengalaman
indrawi adalah sumber pengetahuan yang sebenarnya, akan tetapi pengalaman indrawi
ini mempunyai kelemahan. Kelemahan pertama ialah indra itu terbatas dan
kelemahan kedua indra itu menipu.
2.
Peran
dan permasalahan indrawi dalam aliran rasionalisme
pengalaman
indrawi diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang
menyebabkan akal dapat bekerja. Laporan indrawi merupakan bahan yang belum
jelas, kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman
berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang
benar. Jadi, akal berkerja karena ada bahan dari indra.
3.
Peran
dan permasalahan indrawi dalam aliran positivism
Pengalaman
indrawi itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam
dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indrawi akan
dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang
jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Hardiman, Budi. Pemikiran-Pemikiran Yang Membentuk Dunia Modern.
Jakarta: Erlangga, 2011.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta:
Kanisius, 2005.
Ihsan, Fuad. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010.
Keraf, Sony. Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan Filosofis.
Yogyakarta: Kanisius, 2001.
Muntasyir, Rizal. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: pustaka
pelajar, 2008.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum; Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai
Capra. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2005.
[1] Ahmad Hasan
Ridwan, Dasar-dasar epistemologi Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2011),
11.
[2]
Amsal Bakhtiar,
Filsafat Agama (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 37.
[3] Harold H. Titus, dkk., Persolan-persoalan Filsafat, Terj.
H.M. Rasyidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 87-88.
[4]
Ahmad Tafsir, Filsafat
Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), 34.
[5]
Sony keraf, ilmu
pengetahuan; sebuah tinjauan filosofis, (Yogyakarta: kanisius, 2001),49.
[6]
Ahmad Tafsir, Filsafat
Umum, 24.
[7]
Fuad Ihsan, Filsafat
Ilmu, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),150.
[8]
Ahmad Tafsir, Filsafat
Umum, 25.
[9]
Harun
hadiwijono, sari sejarah filsafat barat 2, (Yogyakarta: kanisius, 2005),
109.
[10] Fuad Ihsan, Filsafat
Ilmu, 182.
[11]
Ahmad Tafsir, Filsafat
Umum, 26.
0 komentar:
Posting Komentar