Selasa, 04 September 2012

PERAN DAN PERMASALAHAN PENGALAMAN INDRAWI



A.    Pendahuluan
Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode, atau cara memperoleh pengetahuan dan kebenaran pengetahuan.[1] Objek materil epistemologi adalah pengetahuan, sedangkan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan, Persoalan-persoalan penting yang dikaji dalam epistemologi berkisar pada masalah asal-usul pengetahuan, pengalaman, dan akal dalam pengetahuan, hubungan antara pengetahuan dan keniscayaan, hubungan antara pengetahuan dan kebenaran, kemungkinan skeptisisme universal, dan bentuk-bentuk perubahan pengetahuan yang berasal dari konseptualisasi baru mengenai dunia.[2]
Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu, pengetahuan sains adalah pengetahuan yang logis dan didukung oleh bukti empiris, pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang kebenarannya hanya dipertanggungjawabkan secara logis tidak secara empiris, dan pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dan tidak juga secara logis.[3]
Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan berbagai alat, salahsatunya adalah pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman indrawi, contohnya manusia tahu es dingin karena dia menyentuhnya, gula manis karena dia mencicipinya.[4] Pada pembahasan ini pemakalah akan membahas tentang peran dan permasalahan pengalaman indrawi dalam tiga aliran yaitu, empirisme, rasionalisme dan positivisme.

B.     Pembahasan
Setiap orang mengenal pancaindra : penglihatan, pendengaran, pencecap, pembau, dan peraba. Kelima indra itu lazim disebut sebagai indra luar (external senses), karena, berdasarkan anggapan umum, diyakini bahwa melalui kelima indra itu kita berhubungan dengan dunia luar. Kelima indra itu masing-masing berbeda satu sama lain dan acap kali berfungsi secara gabungan. Rupanya cukup jelas bahwa masing-masing pancaindra itu mempunyai objek objek sendiri-sendiri. Warna merupakan objek penglihatan, bunyi untuk pendengaran, rasa selera untuk pencecap, bau untuk pembau, dan halus-kasar ataupun panas-dingin untuk peraba.

Peran dan permasalahan pengalaman indrawi dalam tiga aliran:
1.      Empirisme
Kata ini berasal dari kata yunani empeirikos yang berasal dari kata emperia, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman indrawi, yaitu pengalaman yang terjadi melalui dan berkat bantuan pancaindra. Dengan kata lain satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan pancaindra.[5] Pancaindra memainkan peranan terpenting dibandingkan akal budi.
John Locke (1632-1704), salah satu pengusung aliran ini mengemukakan teori tabula rasa yang secara bahasa berarti meja lilin maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indra yang masuk sederhana, lama-kelamaan ruwet, lalu tersusunlah pengetahuan berarti. Berarti, bagaimanapun kompleksnya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indra. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indra bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi pengalaman indra itulah sumber pengetahuan yang benar.
Tetapi dalam aliran ini pengalaman indra mempunyai kelemahan. Kelemahan pertama ialah indra terbatas. Benda yang jauh kelihatan kecil. Apakah benda itu kecil? Tidak. Keterbatasan kemampuan indra ini dapat melaporkan objek tidak sebagaimana adanya; dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah. Kelemahan kedua ialah indra menipu. Pada orang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.[6]

2.      Rasionalisme
Rasionalisme adalah aliran filsafat yang mengatakan bahwa akal adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir.[7]
Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indra dalam memperoleh pengetahuan; pengalaman indra diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal. Laporan indra menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas, kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi, akal berkerja karena ada bahan dari indra. Akan tetapi, akal dapat juga menghasilkan pengetahuan yang tidak berdasarkan bahan indrawi sama sekali, jadi akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang objek yang betul-betul abstrak.[8]
3.      Positivism
Pada abad ke 19 timbullah filsafat yang disebut positivism, yang diturunkan Dari kata positif. Filsafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Segala uraian dan persoalan yang diluar apa yang ada sebagai fakta atau kenyataan dikesampingkan. Oleh karena itu metafisika ditolak.[9]
Positivism adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif, sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan.[10]
Tokoh aliran ini ialah A. Comte (1798-1857). Ia penganut empirisme. Ia berpendapat bahwa indra itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indra akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat dengan kiloan (timbangan atau neraca), dan sebagainya. Kita tidak cukup mengatakan api panas, matahari panas, kopi panas. Kita juga tidak cukup mengatakan panas sekali, panas, tidak panas. Kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal, didukung bukti empiris yang terukur. “terukur” itulah sumbangan positivisme.[11]
Jadi pada dasarnya positivism bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang berkerja sama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memaksukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi pada dasarnya positivism itu sama dengan empirisme dan rasionalisme.

C.    Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.      Peran dan permasalahan indrawi dalam aliran empirisme
pengalaman indrawi adalah sumber pengetahuan yang sebenarnya, akan tetapi pengalaman indrawi ini mempunyai kelemahan. Kelemahan pertama ialah indra itu terbatas dan kelemahan kedua indra itu menipu.
2.      Peran dan permasalahan indrawi dalam aliran rasionalisme
pengalaman indrawi diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Laporan indrawi merupakan bahan yang belum jelas, kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi, akal berkerja karena ada bahan dari indra.
3.      Peran dan permasalahan indrawi dalam aliran positivism
Pengalaman indrawi itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indrawi akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas.





DAFTAR PUSTAKA


Hardiman, Budi. Pemikiran-Pemikiran Yang Membentuk Dunia Modern. Jakarta: Erlangga, 2011.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kanisius, 2005.
Ihsan, Fuad. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010.
Keraf, Sony. Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Kanisius, 2001.
Muntasyir, Rizal. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: pustaka pelajar, 2008.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum; Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2005.









[1] Ahmad Hasan Ridwan, Dasar-dasar epistemologi Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 11.
[2] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 37.
[3]  Harold H. Titus, dkk., Persolan-persoalan Filsafat, Terj. H.M. Rasyidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 87-88.
[4] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), 34.
[5] Sony keraf, ilmu pengetahuan; sebuah tinjauan filosofis, (Yogyakarta: kanisius, 2001),49.
[6] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, 24.
[7] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),150.
[8] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, 25.
[9] Harun hadiwijono, sari sejarah filsafat barat 2, (Yogyakarta: kanisius, 2005), 109.
[10] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, 182.
[11] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, 26.

0 komentar:

Posting Komentar