Jumat, 07 September 2012

Hubungan Agama dan Negara di Iran

A.    Latar belakang
Negara dan agama merupakan persoalan yang banyak menimbulkan perdebatan (discourse) yang terus berkelanjutan dikalangan para ahli. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam menerjemahkan agama sebagian dari Negara atau Negara merupakan bagian dari dogma agama. Pada hakekatnya, Negara sendiri secara umum diartikan sebagai suatu persekutuan hidup bersama sebagai penjelmaan sifat kodrati manusia sebagai makhluk individu dan makhluk social. Oleh karena itu, sifat dasar kodrat manusia tersebut merupakan sifat dasar Negara pula sehingga Negara sebagai manifestasi kodrat manusia secara horizontal dalam hubungan manusia dengan manusia lain untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, Negara memiliki sebab akibat langsung dengan manusia karena manusia adalah pendiri agama itu sendiri.[1]
Dalam memahami hubungan agama dan Negara, ada tiga paham yang menjelaskan hal tersebut, yaitu paham teokrasi mengatakan bahwa Negara menyatu dengan agama, yang kedua, paham sekuler, paham sekuler memisahkan antara agama dan Negara. Ketiga paham komunisme paham ini mengatakan bahwa kehidupan manusia itu kehidupan manusia itu sendiri yang kemudian menghasilkan masyarakat Negara. Sedangkan agama dipandang sebagai realisasi makhluk manusia dan agama merupakan keluhan makhluk tertindas. Oleh karena itu, agama harus ditekan bahkan dilarang. 
Untuk memahami konsep relasi agama dan Negara dalam Islam, sebaiknya dilakukan studi kawasan karena setiap Negara Islam mempunyai konsep yang berbeda. Salah satunya adalah Negara Iran, pada abad ke-20 di Iran terjadi suatu revolusi besar-besaran kepada pemerintahan yang dipelopori ulama’ dibawah pimpinan Ayatollah Khomaini. Dari adanya revolusi tersebut, penulis merasa tertarik untuk melakukan studi tentang konsep relasi agama dan Negara yang terjadi di Iran.

B.     Pengertian agama dan Negara
1.      Pengertian Agama
Agama berasal dari bahasa sanskerta, masuk dalam perbendaharaan bahasa melayu (nusantara) dibawa oleh agama Hindu dan Budha, untuk menunjukkan sistem kepercaayaan dan tata cara serta upacara agama hindu dan budha tersebut. Mengenai pengertian dasarnya terdapat perbedaan pendapat, ada sementara pendapat yang menyatakan bahwa agama berasal dari kata “A” yang berarti tidak dan “Gama” yang berarti kacau atau kocar-kacir. Jadi kata agama berarti tidak kacau, tidak kocar kacir, dan berarti teratur. Dengan pengertian dasar demikian, maka istilah agama merupakan suatu kepercayaan yang mendatangkan kehidupan yang teratur dan tidak kacau serta mendatangkan kesejahteraan dan keselamatan hidup bagi manusia. Namun demikian, menurut pendapat H. Bahrum Rangkuti (seorang lingust) bahwa orang yang menyatakan agama dari “A” dan “Gama”,  adalah tidak ilmiah oleh karena mungkin yang menerangkan itu belum mengetahui dan memahami bahasa sangsekerta. Pendapat yang lebih bersifat ilmiah menyatakan bahwa agama berasal dari kata dasar “Gam” yang mendapatkan awalan dan akhiran “A” sehingga menjadi agama. Kata dasar “Gam” tersebut mempunyai pengertian yang sama dengan kata “Ga” dan “Gaan” dalam bahasa Belanda, atau kata “Go” dalam bahasa Inggris, yang berarti pergi. Setelah mendapat awalan dan akhiran “A” menjadi “Agama”, maka artinya menjadi jalan. Maksudnya adalah jalan hidup, atau jalan yang harus ditempuh oleh manusia sepanjang hidupnya; atau jalan yang menghubungkan antara sumber dan tujuan hidup manusia; dan atau juga berarti jalan yang menunjukkan dari mana, bagaimana, dan hendak ke mana hidup manusia di dunia ini. Pengertian jalan ini di temukan sebagai ciri-ciri hakiki dalam banyak agama. Taoisme dan Syinto adalah bermakna jalan; budhisme menyebutkan undang-undang pokoknya dengan jalan; Yesus menyuruh pengikutnya untuk menurut jalannya; thariqat, syariah, dan shirath dalam ajaran islam juga bermakna jalan.[2]
2.      Pengertian Negara
Secara literal istilah Negara merupakan terjemahan dari kata-kata asing, yakni state (bahasa Ingris), staat (bahasa belanda dan jerman) dan etat (bahasa prancis). Ketiga kata tersebut diambil dari bahasa latin status dan statum, yang berarti keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap. Kata status atau statum lazim diartikan sebagai standing atau station (kedudukan). Istilah ini dihubungkan  dengan kedudukan persekutuan hidup manusia, yang juga sama dengan istilah status civitatis atau status republicae. Dari pengertian yang terakhir inilah, kata status pada abad ke-16 dikaitkan dengan kata Negara. Secara terminology, Negara diartikan dengan organisasi tertinggi diantara satu kelompok masyarakat yang mempunyai cita-cita untuk bersatu, hidup di dalam daerah tertentu dan mempunyai pemerintahan yang berdaulat.[3]
Menurut Roger H. soltau, Negara didefinisikan dengan alat (agency) atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas nama masyarakat. Lain halnya dengan apa yang dikemukakan Harold J. Laski; menurutnya Negara merupakan suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih agung daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu.[4]
Sejalan dengan Harod j. laski, Max Weber mendefinisikan Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam satu wilayah.[5] Sedangkan dalam konsep Robert M. Mac Iver, Negara diartikan dengan asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan system hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk masksud tersebut diberikan kekuasaan memaksa.

C.     Hubungan Agama dan Negara
Ada bebarapa paham tentang hubungan agama dan Negara diantaranya adalah:
1.      Paham teokrasi, hubungan agama dan Negara digambarkan sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Negara menyatu dengan agama, karena menurut paham ini pemerintahan dijalankan berdasarkan firman-firman Tuhan, segala tata kehidupan dalam masyarakat, bangsa dan Negara dilakukan atas titah Tuhan. Dengan demikian, urusan kenegaraan atau politik, dalam paham teokrasi juga diyakini sebagai manifestasi firman Tuhan. Dalam perkembangannya, paham teokrasi terbagi ke dalam dua bagian, yakni paham teokrasi langsung dan paham teokrasi tidak langsung. Menurut paham teokrasi langsung, pemerintah diyakini sebagai otoritas Tuhan secara langsung pula. Adanya Negara di dunia ini adalah atas kehendak Tuhan, dan oleh karena itu yang memerintah adalah Tuhan pula. Sementara menurut system pemerintahan teokrasi tidak langsung yang memerintah bukanlah Tuhan sendiri, melainkan yang memerintah adalah raja atau kepala Negara yang memililki otoritas atas nama Tuhan. Kepala Negara atau raja diyakini memerintah atas kehendak Tuhan.[6]
2.      Paham sekuler dalam praktik pemerintahan dalam kaitan hubungan agama dan Negara. Paham sekuler memisahkan dan membedakan antara agama dan Negara. Dalam Negara sekuler, tidak ada hubungan antara system kenegaraan dengan agama. Dalam paham ini, Negara adalah urusan hubungan manusia dengan manusia yang lain, atau urusan dunia. Sedangkan agama adalah hubungan manusia dengan Tuhan. Dua hal ini, menurut paham sekuler, tidak dapat disatukan. Dalam Negara sekuler, system dan norma hukum positif dipisahkan dengan nilai dan norma agama. Norma hukum ditentukan atras kesepakatan manusia dan tidak bedasarkan agama atau firman-firman Tuhan, meskipun mungkin norma-norma tersebut bertentangan dengan norma-norma agama. Sekalipun paham ini memisahkan antara agama dan Negara, akan tetapi pada lazimnya Negara sekuler membebaskan warga negaranya untuk memeluk agama apa saja yang mereka yakini dan Negara tidak intervensif dalam urusan agama.[7]
3.      Paham komunis, hakekat hubungan Negara dan agama berdasarkan pada filosofi materialism-dialektis dan materialism-historis. Paham ini menimbulkan paham atheis. Paham yang dipelopori oleh Karl Marx ini, memandang agama sebagai candu masyarakat. Menurutnya, manusia ditentukan oleh dirinya sendiri. Sementara agama, dalam paham ini, dianggap sebagai suatu kesadaran diri bagi manusia sebelum menemukan dirinya sendiri. Kehidupan manusia adalah dunia manusia itu sendiri yang kemudian menghasilkan masyarakat Negara. Sedangkan agama dipandang sebagai realisasi fantastis makhluk manusia, dan agama merupakan keluhan makhluk tertindas. Oleh karena itu, agama harus ditekan, bahkan dilarang. Nilai yang tertinggi dalam Negara adalah materi, karena manusia sendiri pada hakekatnya adalah materi.[8]
4.      Dalam Islam, hubungan agama dengan Negara menjadi perdebatan yang cukup panjang di antara para pakar Islam hingga kini. Bahkan menurut Azra, perdebatan itu telah berlangsung sejak hampir satu abad, dan berlangsung hingga dewasa ini. Lebih lanjut Azra mengatakan bahwa ketegangan perdebatan tentang hubungan agama dan Negara ini diilhami oleh hubungan yang agak canggung antata Islam (din) sebagai agama dan Negara (dawlah). Berbagai eksperimen dilakukan dalam menyeleraskan antara din dengan konsep dan kultur politik masyarakat muslim, dan eksperimen tersebut dalam banyak hal sangat beragam.[9]

D.    Hubungan Agama dan Negara di Iran
Negara Iran modern lahir dari sebuah periode anarkis yang berlangsung dari tahun 1911 sampai tahun 1925. Selama periode ini intervensi asing mencapai puncaknya. Dalam dunia perang I tentara Rusia dipusatkan di beberapa propensi bagian utara, sedangkan pasukan Inggris menduduki wilayah bagian selatan Iran. Dengan hancurkan rezim Tsaris pada tahun 1917, seluruh wilayah Iran jatuh ke tangan Ingris, perjanjian Anglo-persian tahun 1919 wilayah jatuh ke tangan Ingris. Pada saat bersamaan Uni Soviet mendukung gerakan kelompok separatis di jilan dan Azerbayjan dan partai komunis di Tabriz dan Tehran. Sekalipun demikian, pada tahun 1921 Iran dan Uni Soviet menyepekati perjanjian kerjasama dengan beberapa persyaratan yagn menguntungkan pihak Iran. Soviet sepakat menarik diri di Jilan dan menutup hutang dan konsensi Iran, dan menyerahkan kemabli hak-hak khusus yang sebelumnya telah diberikan kepada pihak asing di Iran. Soviet bersedia menyediakan industry penangkapan ikan di laut Caspia dan berhak untuk melibatkan diri manakala Iran terancam oleh kekuatan asing lainnya. Dengan dukungan perjanjian baru ini, Iran membatalkan perjanjian 1919 dengan Inggris yang bersifat berat sebelah.
Secara internal Iran diperintah oleh sebuah rangkaian cabinet yang tidak member kesan sampai masa pemerintahan Reza Khan, seorang pejabat dalam Brigade Cossack, yang berkuasa sebagai panglima militer dan sebagai menteri pertahanan. Ia mengkonsolidasikan pengaruhnya di kalangan pasukan militer dan kepolisian, melemahkan unsurkekuatan kesukuan dan unsur kekuatan propinsial, menjadikan selruruh wilayah negeri ini dibawah kekuasaan militer, dan pada tahun 1925 ia menjadikan dirinya sebaga Shah Iran, sebagai pendiri kerajaan konstitusional dan sekaligus pendiri dinasti Pahlevi, yang berlangsung hingga tahun 1979.
Meskipun Shah Reza meraih kekuasaan dengan dukungan sebagian ulama’ yang menginginkan restorasi (perbaikan) kerajaan Iran dan mengharapkan lahirnya pemerintahan yang kuat untuk menekan pengaruh asing, namun ketika telah kukuh rezim Pahlevi justru menghapuskan pengaruh ulama’. Melalui pembentukan system pendidikan sekuler, pengawasan pemerintah terhadap sekolah-sekolah agama, pengurangan dana subsidi melalui beberapa langkah lainnya rezin Pahlevi berusah menggiring ulama’ dibawah control Negara. Pada tahun 1934 the teacher training ACT (undang-undang pendidikan guru) melahirkan sejumlah perguruan tinggi baru, dan mentri pendidikan memberlakukan kurikulumnya yang baru untuk sekolah teologi. Bahkan, sebagai alternative bagi pendidikan agama, didirikanlah sekolah-sekolah teknik oleh menteri pendidikan, menteri kesehatan, industri pertanian, pertahanan, dan oleh menteri keuangan. Universitas Tehran didirikan pada tahun 1935 dengan membuka fakultas pendidikan Eropa di bawah peneganan pemerintah secara serius. Banyak siswa dikirim untuk belajar ke luar negeri dan setelah pulang mereka mengembangkan pengetahuan teknik dan menyebarkan ide-ide Barat mengenai pola-pola hubungan social.[10]
Pukulan kedua terhadap ulama’, yang sama parahnya dengan pukulan pertama, adalah kebijakan reorganisasi administrasi yudisial. Meskipun permasalahan pengadilan sipil dan pengadilan criminal telah tertuang dalam konstitusi 1906, dan kitab hukum perdagangan sipil telah diundangkan pada tahun 1911 dan tahun 1915, namun administrasi yudisial tetap bertahan di tangan ulama’. Namun, pada tahun 1928 Shah Reza memberlakukan beberapa kitab hukum yang menggeser kedudukan hukum Syari’ah. Pada tahun 1932 parlemen mengundangkan sebuah undang-undang baru yang memindahkan registrasi dokumen-dokumen resmi kepada pengadilan sekuler, dan merupakan sebuah pukulan yang mencabutfungsi-fungsi terpenting pengadilan agama. Undang-undang tahun 1936, mempersyaratkan seluruh hakim talh menempuh degree (gelar sarjana) dari fakultas hukum Tehran atau dari universitas luar negeri, yang tidak memungkinkan pihak ulama’ menduduki jabatan hakim di dalam pengadilan. Selama tahun 1930-an, system peradilan bari diorganisir dengan mengikuti metode pengadilan perancis, untuk mengakhiri percampuran antara norma hukum muslim dan barat yagn bersifat tidak jelas posisinya. Dengan mengabaikan system hukum, secara politik kebijakan tersebut memperkuat supremesi Negara. Beberapa kebijakan lainnya ditempuh untuk melarang berbagai pertunjukan yang melewati batas kesadaran manusia, kegiatan perziarahan (haji), kegiatan pidato, dan untuk mengesahkan etika busan modern.
Negara Iran modern menegaskan legitimasinya dalam term nasionalis dan sekuleris, kebangkitan kembali interes dalam sejarah Persia dan tema-tema kerajaan kuno digunakan melegitimasi modernisasi kemiliteran, pemerintahan, dan perekonomian. Sekalipun demikian, program politik rezim Pahlevi justru semakin kuat bergantung pada dukungan asing dan bergantung kepada para penasihat barat serta adimistrator dan intelektual Iran didikan Barat. Fase perkembangan ini justru menciptakan sector modern yang kecil di dalam masyarakat dan ekonomi yang terbelakang. Pabrik-pabrik dipusatkan dibeberapa kota dan hanya menguntukan sebagian kecil warga penduduk. Pertanian tetap tidak produktif.  Sentralisasi agama, modernisasi ekonomi, dan system pendidikan, kontraktor, doctor, ahli hukum, insinyur, guru dan elit penulis mereka mengambil nilai dan pola kehidupan Barat. Elite baru ini, bersekutu dengan generasi tua ulama’ dan khan kesukuan, mendominasi kaum petani yang tidak produktif dan menderita.[11]
Pada akhir decade 1940-an dan awal decade 1950-an Iran juga tengah berjuang merebut kekuasaaan Anglo-IranianOil Campany. Pada tahun 1951, Muhammad Mosaddeq, pemimpin front Nasional, dengan dukungan oleh sebuah koalisi yagn terdiri dari tuan tanah, tokoh kesukuan, intektual sayap kiri, pedagang, dan ulama’ melalui parlemen mengajukan rancangan nasionalisasi perusahaan minyak. Kemudian berkobarlah peperangan sengit selama tiga tahun, dimana setelah itu Amerika serikat menolak memberikan dukungan kepada Iran. Bebarapa kekuatan Barat memboikot minyak Iran. Perekonomina Iran hancur sehingga koalisi Mosaddeq hancur pula. Dalam pergolakan panjang memperebutkan kekuasaan, C.I.A membantu militer dan Shah Iran untuk memenangkan pertempuran tersebut, mengalahkan mosaddeq, dan menegakkan kembali rezim otoriter.persengketaan dengan beberapa perusahaan minyak berakhir pada tahun 1954 dengan pembentukan sebuah perusahaan minyak nasional Iran dan sebuah konsorium perusahaan minyak asing termasuk di dalamnya Anglo-Iranian Oil Company (yang berganti nama British Petroleum) dan sejumlah perusahaan Amerika. Konsorsium tersebut akan memproduksi dan memasarkan minyak dan berbagai keuntungan dengan national iran oil company. Demikian perusahaan asing menghalangi nasionalisasi minyak dan mempertahankan control terhadap harga dan pemasaran minyak.[12]
Perebutan kekuasaan tahun 1953 sekaligus mengakhiri periode pergolakan terbuka untuk memperebutkan kekuasaan politik dan untuk mengembalikan sebuah rezim otoriter dan memusat yang didasarkan pada dukungan pihak asing, dan untuk menjalankan modernisasi social dan ekonomi. Rezim Shah Muhammad Reza Pahlevi yang berhasil ditegakkan kembali secara teknik merupakan sebuah kerajaan konstitusional, namun Shah memerintah dengan kekuasaan yang benar-benar absolute. Ia menguasai angkatan bersenjata dan savak, agen rahasia politik dan intelejen, mengangkat para menteri, menentukan separo dewan senat, dan memanipulasi pemilihan dewan parlemen. Elite pegawai, administrator, tuan tanah, dan sejumlah pedagang kaya raya dan tokoh-tokoh agama mendominasi kehidupan politik Iran. Rezim Shah semakin terikat terhadap Amerika Serikat dan semakin terikat oleh bantuan militer dan financial Amerika. Setelah mengakhiri keterikatannya dari bantuan Amerika serikat, Iran bergabung dengan Baghdad Pact (1955) dan Central Treaty Organization (1959). Iran mempertahankan hubungan dekatnya dengan Isra’il. Pada tahun 1970-an Iran menyokong sultan Oman dalam menekan kelompok  oposisi. Dan pada tahun 1975 Iran memaksa Iraq untuk menyelesaikan persengketaan wilayah perbatasan di dataran rendah sampai sungai Euprath. Hubungan dekat dengan pihak amerika serikat dan pembentukan kekuatan militer yang tangguh pada decade tahun 1970-an tidak mampu menghindarkan Iran dari hubungan persahabatan yant telah terbina dengan Uni Soviet untuk mengimbangi pengaruh dan tekanan politik Amerika.
Dikarenakan per kapita produksi pertanian menurun pada decade 1960-an dan kekade 1970-an, Iran semakin bergantung pada kemajuan ekonomi perindustrian. Untuk pertama kalinya sejak dilancarkan industrialisasi pada decade 1930-an, Iran mengalami sebuah boom (ledakan) industry. Negara berinvestasi untuk mendukung infrastrutktur industry, di mana sekitar separo kekayaan Negara diinvestasikan pada sector industry. Negara juga menyokong pertumbuhan industry dengan menaikkan bea cukai, pajak kredit, perizinan, dan beberapa langkah lainnya dan memprakarsai ledaakn industry baja, karet, barang kimia, barang-barang bangunan, dan perakitan automobile. Pertumbuhan penghasilan minyak yang meningkat pesat stelah tahun 1973 juga membantu dalam meningkatkan gross national product. Meskipun demikian produksi Iran tidak mampu bersaing dalam pasaran internasional, dan merosot lantaran tidak didukung dengan manajemen dan tenaga kerja yang ahli. Gabungan antara merosotnya per kapita produk pertanian, ketidakmampuan industry, kerasnya arus barang-barang dan senjata produksi asing, dengan peledakan ekonomi perminyakan menyebabkan sejumlah inflasi dan juga menimbulkan merosotnya standar kehidupan seluruh masyarakat Iran yant tidak haya melanda sector perekonomian modern.[13]
Program modernisasi menimbulkan beberapa dampak yang sangat menonjol terhadap masyarakat Iran. Ia memperbanyak kader intelektual, pegawai, militer, manajer perusahaan, tenaga ahli didikan Barat atau yang terdidik dalam system pendidikan modern. Sejak awal program tersebut membangkitkan kecemasan ulama’ yang akhirnya menimbulkan perlawanan klangan ulama’ pedagang dan kalangan artisan, dan intelektual haluan kiri yagn menentang konsolidasi kekuasaan rezim Shah, ketergantungan pada dukungan assign, dan beberapa kebijakan yang menimbulkan kemuraman ekonomi bagi kaum petani dan bagi kelas menengah ke bawah. Lebih lagi, gerakan oposisi tersebut berusaha menentang model pemerintahan rezim yang sangat otoriter.
Pada decade 1960-an dan decade 1970-an gerakan oposisi telah tersebar luas, namun lantaran gerakan ini tidak terkoordinir sehingga dengan mudah gerakan mereka dapat dipatahkan. Parti Tudeh dan partai Nasional dihancurkan oleh Savak. Minoritas Kurdish, Arab dan Baluchi diserang lantaran hasrat mereka utuk membentuk otonom regional. Beberapa kelompok gerilnya militant, seperti Marxis Fede’iyan-I Khalq dan Islam haluan kiri Mojabedin-I Khalq, demi perjuangan syi’isme  menentang nepotisme, imperialism, dan kapitalisme. Perlawanan tersebut menimbulkan terror namun tidak mampu menggoyahkan cengkraman Shah.
Selama periode ini ulama’ berada dalam posisi persimpangan (ambigous). Periode politik terbuka decade 1940-an mendorong keterlibatan ulama’secara langsung di dalam urusan politik. Dari tahun 1948 sampai tahun 1953 Ayatollah Kashani, dengan didukung oleh para orator jalanan, dan ulama’ papan bawah, mengerahkan gerakan anti Inggris dan anti Imprialsme untuk memperjuangkan nasionalisasi industry dan penyingkiran pengaruh asing di Iran. Beberapa lama ia mendukung gerakan Mosddeq, namun belakangan ia menentangnya dan cenderung menyokong pengamanan Shah.
Namun, kekalahan Mosaddeq mengantarkan pada sebuah periode ualam’ yang bersikap pasif danberlangsunglah kolaborasi alam’ dengan pemerintah secara diam-diam. Pemerintah meyokong kepentingan ulama’ melalui pengangkatan mereka di pengadilan, member kesempatan meraih kekayaan melalui pemilikan tanah, dan bergabung kedalam keluarga bangsawan. Hal ini meningkatkan jumlah pelajaran agama di sekolah umum, dan secara periodik dilakukan penutupan gedung-gedung bioskop, took yagn menjual minuman keras, dan pelarangan sejumlah alat-alat music. Akhirnya, ulam’ menerima the bagdhad pact dan mentolerir kebijakan pemerintah berkerjasam dengan perusahaan asing. Dibaewh kepemimpinan Ayatollah Burujirdi, secara politik ulama’ tetap pasif, namun mereka tetap mengkonsolidasikan kekuatan internal merka. Pada decade 1950-an dan awal decade 1960-an, berkembanglang jaringang komunikasi nasional, dengan Qumm sebagai pusat organisasi dan instruksi keagamaan syi’ah.[14]
Pada decade 1960-an kebijakan ekonomi dan social pemerintah menimbulkan oposisi sengit dari kalangan ulama’. Ulama’ menentang hukum dan perundang-undangan tanah yang baru. Beberapa data menunjukkan bahwasanya banyak ulama’ merupakan tanah-tanah yang kaya raya atau menguasai sejumlah tanah wakaf yang luas. Mereka menentang perluasan hak-hak kaum wanita, dan merka menentang hubungan dekat Iran dengan Amerika serikat dan Isra’il. Mereka juga mencemaskan rencana pemerintah membentuk tentara-rakyat dari kalangan terdidik yang berarti penyerahan kader-kader terdidik kepada pemerintah untuk menandingi pengaruh ulama’ di wilayah pedalaman. Pertikaian antara Negara dan ulama’ berkobar pada tahun 1963 ketika Shah Iran memutuskan sebuah referendum nasional mengenai reformasi tanah. Referendum tersebut dan kebijakan pemerintah menindak keras aktivitas ulama’ di Qum memancing serangkaian demonstrasi, dipimpin oleh Ayatollah Khomaini, yagn pada tahun 1964 diasingkan ke Iraq.
Gerakan reformasi keagamaan sama pentingnya dengan perlawanan ulama’ terhadap Negara. Pandangan kalangan termuat dalam sebuah pidato yang disampaikan oleh Mehdi Bazargan pada Tahun 1962 yang di dalam pidatonya bersandar kepada al-Quran dan tradisi keagaman Syi’ah untuk membenarkan keterlibatan politik ulama’ yang aktif. Organisasi politik dan perjuangan kolektif untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik merupakan tugas dan kewajiban setiap pemeluk Islam. Sekarang ulama’ tidak pantas lagi menanti secara pasif kembalinya sang imam, melainkan secara aktif harus mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya. Kalangan reformer selanjutnya merancang pembentukan sebuah badan ulama’ untuk menjalankan tugas-tugasnya secara kolektif dalam menyampaikan saran-saran keagamaan yang berisifat otoritatif, dan pembentukan organisasi keuangan yang memusat untuk mengamankan otoritas mereka dari pengaruh pemerintahan maupun dari tekanan umum. Antara tahun 1967 dan 1973 gerakan reformasi mendapat bimbingan baru dalam kepemimpinan Dr. Ali Sharia’ti, yang mendirikan yayasan Husainiyah irsyad. Yayasan ini merupakan universitas informal yagn semata ditujukan untuk mervitalisasi Syi’isme dengan memadukan prinsip-prinsip ajaran Islam dengan sains-sains social eropa sehingga dapat melahirkan komitmen untuk menggulingkan sebuah pemerintahan yang lalim. Menurut Shari’ati, Syi’isme merupakan agama protes.[15]
Dari pengasingan di Iraq, Ayatollah Khomaini menjadi juru bicara terbesar bagi perlawanan terhadap kerjaraan Shah Iran. Pada tahun 1961 Khomaini berjuang menyerukan sebuah pemerintahan parlementer, bahkan padea tahun 1971, dalam bukunya Islamic Government, dengan berhujjah dengan prinsip-prinsip dasar jihad dan amar makruf, ia menegaska bahwasannya kerajaan merupakan instuisi kenegaraan non Islam dan menyerukan bahwasannya kerajaan merupakan instuisi kenegaraan non-Islam dan menyerukan reformasi masyarakat politik secara total yang mana ulama’ haruslah terlibat langsung dan berperan secara aktif di dalamnya. Meskipun didasarkan pada oposisi ulama’ tradisional yang telah berlangsung lama untuk menggulingkan kekuasaan monarki, namun pada kenyataannya seruan-seruan tersebut mengandung banyak inovasi. Dalam hal ini seruan Khomaeni merupakan ungkapan pertanggung jawaban ulama’ yang paling radikal.[16]
Klaim keagamaan menjadi basis bagi sebuah gerakan massa dalam menentang rezim Shah. Pada rentangan decade 1970-an rezim Pahlevi menjadi semakin sewenang-wenang (lalim) dari masa-masa sebelumnya. Pasukan militer dan polisi rahasia menjadi sosok yang sangat ditakuti dan sekaligus dibenci lantaran mereka melancarkan penyedikan, intimidasi, pemenjaraan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap musuh-musuh besar rezim Shah. Rezim Shah sepenuhnya dikukuhkan sebagai rezim yang didasarkan pada dukungan politik dan militer Amerika dan mengutamaakan keuntungan bagi sekelompok elite termasuk di dalamnya Shah sendiri berserta keluarganya, pasukan militer, dan tokoh-tokoh pendukungnya. Pemerintah tidak hanya dicaci karena kediktatorannya melainkan juga karena rezim membawakan ketidakmampuan mamanajeman perekonomian. Penghasilan Negara yang sangat besar dari sector minyak habis untuk membeli senjata dan untuk kepentingan pribadi sekelompok kecil elite pemerintah, sementara laju inflasi memerosotkan stadar kehidupan sebagaian besar warga pedagan, artisan, dan pekerja pabrik. Sebagian besar warga penduduk hidup dalam kesengsaraan khususnya disebabkan penyitaan, denda, dan pemenjaraan, lantaran Shah berusaha menjadikan inflasi sarana untuk mengintimidasi mereka. Pada saat yang bersamaan, decade 1970-an merupaakan periode paceklik bagi sebagian besar masyarakat petani. Jutaan petani meninggalkan kampungnya pindah ke kota, di mana mereka membentuk barisan massa pengangguran dan massa yang tertindas. Pada akhir decade 1970-an, impor Iran yangterbesar adalah makanan.
Di dalam kondisi ekonomi dan politik yang sangat parah ini, demonstrasi yang dilancarkan para Mahasiswa ei Qumm melawan aksi pembunuhan tanpa alas an yang dilakukan oleh pasukan savak menjadi alat pemicu timbulnya gerakan demonstrasi berikutnya, yang menyesalkan dan mengelu-elukan para kurban yang berguguran belakangan ini. Setiap hari dalam empatpulu hari terjadi gerakan protes dan demonstrasi dan skalanya semakin besar hingga bulan Muharram (akhir tahun 1978), ketika itu berjuta-juta rakyat berdemonstrasi menentang rezim. Feda’iyan Khalq dan Mojahedin-I Khalq bangkit kembali. Para pekerja minyak mogok kerja, pedagang-pedagan pasa menutup took-toko mereka, sementara pihak militer tidak mampu dan tidak berdaya meredakan gerakan pemberontakan ini. Massa Iran dimobilisir oleh sebuah koalisi antara tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh liberal di bawah arahan tokoh keagamaan Iran tertinggi, yakni Ayatollah Khomaini.[17]
Gerakan revolusi berhasil menggulingkan kerajaan Shah dan mendirikan sebuah pemerintahan Islam di Iran. Rezim baru ini dibangun berdasarkan kepemimpinan kharismatik Ayatollah Khumaini yang kemudian bergelar sebagai imam, para kader ulama’ muda, aktivitas mahasiswa dan pelajar, kelompok militant kampong dan kota, dan partai republic Islam yakni partai ulama’. Ulama’-ulama’ besar menggeliminir unsure-unsur liberal, nasionalis, dan Marxist radikal, dan kemudian memerintah Negara atas nama Islam.
Revolusi Islam Iran melahirkan konfigurasi yang khas antara Negara Iran dan Institusi Islam, bahkan ia merupakan sebuah peristiwa terbesar dalam seluruh sejarah masyarakat Islam. Revolusi tersebut menandai puncak pergolakan antara Negara iran dan kelompok ulama’ yang telah berlangsung sekitar 200 tahun. Pada abad kesembilanbelas, melemahnya Negara, sebagian disebabkan karena menguatnya komunitas kesukuan dan etnis non-negara, mengantarkan pada konsolidasi penyebaran semangat keagamaan yang memungkinkan untuk menentang rezim, dan memungkinkan memobilisasi dukungan masyarakat umum dalam skala besar. Kebijakan modernisasi yang ditempuh Negara dan penetrasi Eropa terhadap perekonomian Iran menimbulkan revolusi konstitusi tahun 1906. Lagi-lagi, pada abad duapuluh, kebijakan memusatkan dan memodernisir kekuasaan Negara menimbulkan sebuah krisis di mana kalangan ulama’, intelektual, pelajaran, dan sebagian besar kalangan artisan dan kaum pekerja bergerak menentang pemerintah. Penghancuran tribalisme sebagai kekuatan ketiga didalam kemasyarakatan Iran menimbulkan polarisasi antara Negara dan ulama’, dan menimbulkan sebuah revolusi Islam.
Meskipun demikian, pola hubungan ulama’-negara dalam sejarah Iran abahd Sembilanbelas dan abad duapuluh dalam persimpangan (bersifat mendua). Perlawanan terhadap Negara pada kenyataannya bersifat sporadic, dan pada periode yang berbeda ulama’ telah menampilkan sikap revolusioner dan sekaligus sikap diam yang mengutamakan urusan agama. Paham Syiah mengandung justifakasi atas kedua sikap tersebut. Sikap aktivitas terjustifikasi oleh doktrin bil-ma’ruf bahy ‘anil-munkar dan oleh klaim mujtahid sebagi pembimbing bagi selurh masyarakat Iran yang merupakan satu-satunya otoritas ayg abash di tengah ketidakhadiran Imam tersembunyi. Keteladanan sikap Husain yang teguh menjadi paradiqma kewajiban menentang dan melawan tirani demi memperjuangkan keadilan dan Islam. Sekalipun demikian, yang sama pentingnya adalah tradisi cultural yang cenderung kepada sikap politik yang suka berdamai (pacifisme). Hasrat ummat Syi’ah akan keadilan dunia dan harapan mereka terhadap penyelesaian secara mesianik haruslah diwujudkan dengan melawan segal kekusutan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat.[18]


E.     Penutup
Revolusi Iran tersebut mengandung makna atau pengaruh yang bersifat global. Untuk pertama kalinnya di era modern ini tokoh-tokoh agama (ulama’) mampu dan berhasil melawan sebuah rezim modern, dan mengambil alih kekuasaan Negara. Untuk pertama kalinya implikasi revolusioner Islam, yang sampai sekarang terpendam dalam masyarakat nasab dan di dalam masyarakat kesukuan, berhasil direalisasikan dalam sebuah masyarakat industrial-modern. Revolusi, tidaklah mesti berasal dari kelompok haluan kiri, melainkan bisa jadi dari kelompok masyarakat keagamaan, tidak mesti nama sosialisme, tetapi bisa jadi atas nama perjuangan Islam. Peristiwa revolusi Iran telah menggetarkan pada hubungan antara rezim Negara dan gerakan keagamaan dan menyingkirkan keraguan akan masa depan, tidak hanya masa depan Iran, melainkan juga masa depan seluruh masyarakat Islam.


DAFTAR PUSTAKA


Azis, Abdul. Chiefdom Madinah; Salah Paham Negara Islam. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2011.
Kaelani. Pendidikan Pancasila, Yuridis kenegaraan. Yogyakarta: Paradigma, 1999.
Lapidus, Ira M. Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999\.
Muhaimin (dkk). Kawasan Dan Wawasan Studi Islam. Jakarta: Prenada Media, 2005.
Tim ICCE. Pendidikan Kewargaan; Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Dan Masyarakat Madani. Jakarta: Prenada Media, 2005.









[1] Kaelani, Pendidikan Pancasila, Yuridis kenegaraan (Yogyakarta: Paradigma, 1999), 91-93.
[2] Lihat Muhaimin (dkk), Kawasan Dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2005), 33.
[3] Tim ICCE, Pendidikan Kewargaan; Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Dan Masyarakat Madani (Jakarta: Prenada Media, 2005), 41-42.
[4] Ibid, 42.
[5] Abdul Azis, Chiefdom Madinah; Salah Paham Negara Islam (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2011), 21.
[6] Tim ICCE, Pendidikan Kewargaan; Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Dan Masyarakat Madani, 59.
[7] Ibid, 60.
[8] Ibid, 61.
[9] Azra, Azyumardi, Pergerakan Politik Islam (Jakarta: Paramadina, 1996), 1.
[10] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), 48.
[11] Ibid, 51.
[12] Ibid, 52.
[13] Ibid, 55.
[14] Ibid, 57.
[15] Ibid, 58.
[16] Ibid, 59.
[17] Ibid, 60.
[18] Ibid, 62.

0 komentar:

Posting Komentar