Ini apa?, celetuk goni padaku. Akupun juga tak tau lantas ku gelengkan kepalaku. Ia paham bahwa aku tak mengerti tentang apa yang ia tanyakan.
"Siapa yang tau masalah ini?", Ghoni marah-marah ke setiap pasang mata yang ada didepannya, hampir-hampir ia menampar salah satu orang yang ada didepannya. Tapi dengan refleks aku menangkap tangannya.
" apa yang kau lakukan Ghoni, jangan malah nambah masalah baru dirimu ini..!", sedikit ku tinggikan suaraku agar ia paham bahwa perbuatannya akan jadi keliru jika ia tidak mendewasakan keputusannya itu.
"Bagaimana saya tidak marah...ini...apa???...kerja tidak becus...bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan ini?, Ghoni terlihat kebingungan dengan apa yang ia hadapi saat ini.
" Sabar ghoni, kita redakan ini semua, dan yang lain semuanya bubar...., ayo Ghoni kamu ikut saya..!", Sedikit memaksa aku ajak ia ke tempat yang lebih menyejukkan.
"Akan kemana kita?", tanyanya padaku.
" ke suatu tempat, agar dirimu lebih tenang dan tidak kelihatan serumit ini",
"Sudahlah...jangan kau ajak aku kesana...ini kan hanya masalah sepele!", Suaranya sedikit tertambat, hampir tak terdengar.
" sudah lama kau tidak kesana...", aku mengingatkannya, bahwa tempat itu menjadi banyak kenangan dan inspirasi motivasi tentang kehidupanya hingga kini.
"Tapi...", Ghoni mengiba padaku, seakan ia tak ingin diajak kesana.
" apa kau tidak rindu..", celetukku.
"Rindu....????", kemudian, iapun terdiam, melayangkan ingatannya ke masa lalu. Aku melihatnya, tiba2 bulir air matanya mengalir. Cepat-cepat ia menghapus dari pipi2nya.
" bagaimana!?", aku menegaskan tanyaku padanya. Iapun sedikit kaget hingga membuyarkan hayalnya.
"Baiklah...ayo kita berangkat...!", ia menyetujui saranku. Bergegas ia bersiap, membawa tas hitam yang selalu dibawanya, entah apa isinya.
***
"Ghoni memang seorang yang brilian, ia pemuda tangguh yang mampu memproses masalah besar menjadi sebuah solusi profit bagi perusahaan ini",
" benar dan sangat benar, tapi itu dulu, sekarang keadaanya sudah berubah, ia sepertinya sudah tidak mampu lagi untuk menangani masalah ini",
"Apakah kamu akan melupakan jasanya?",...
" Tidak mungkin kita bisa melupakan jasanya, berkat ia kita masih berdiri disini",
"Berarti...kita tidak ada masalah dengan ia berada disini...",
"Ini permasalahannya, kita tidak mungkin lagi memberikan kesempatan padanya, kita tau ia sudah banyak kita beri kesempatan, nyatanya??..ia gagal!!!, kamu harus paham itu!",
Ruang kantor yang hening tiba-tiba berubah ramai dengan perdebatan Pak Eko dan pak Dimas. Mereka berdua merupakan salah satu komisaris yang memberikan beberapa proyek kepada Ghoni.
Ghoni merupakan seseorang yang berhasil menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Ia memberikan solusi yang dari permasalahan yang dihadapi perusahaan, yang akhirnya perusahaan bangkit lagi dari keterpurukan.
Akan tetapi Ghoni sepertinya merespon keberhasilan dirinya dengan kebanggaan yang berlebih. Aji mumpung yang menghinggapinya membuat ia jumawa dan lupa diri.
Terlihat dari beberapa kesempatan, arogansi karakternya tertuang dalam kepemimpinannya. Banyak yang mengeluh, tapi tidak berani untuk mengungkapkanya. Sebab, Ghoni pada waktu itu merupakan anak emas perusahan.
Episode berlanjut, hari berlalu begitu cepat. Cerita Ghoni terdengar hingga ke atasan, bagaimana ia bekerja dan mengatur perusahaan. Begitu juga beberapa laporan proyek yang oleh perusahaan dinilai minus.
"Apakah kau Paham pak Eko?",
***
" Apa yang kau pikirkan Ghoni?, dari tadi kau diam saja",...
"Jangan kau hiraukan aku, fokus sajalah membawa mobil ini", jawab Ghoni begitu ketus padaku, tapi ku tau ia sedang memikirkan sesuatu.
" Sudahlah Ghoni, santai aja, sekarang dirimu sedang bersamaku, sejenak hilangkanlah masalahmu itu..", meskipun ku tau, ia tak semudah akan mengiyakan perkataanku sebagai bentuk motivasi baginya.
"Ohnya gmana studymu apa dah selesai?", Ghoni mengalihkan pembacaraan ke lebih personal padaku, ia tak ingin aku mengulik lebih jauh kedalam tentang masalahnya. Seakan-akan ia ingin menyelsaikannya sendiri.
" oh...udah selesai baru dua minggu yang lalu, jadi aku datang kesini, ingin berbagi kebahagianya denganmu", aku merekahkan bibirku tersenyum padanya. Akupun tau meskipun kedatanganku tak mengubah keadaan. Ia juga tersenyum merekahkan bibinya padaku.
"Maafnya aku ndak bisa datang mengikuti prosesi wisudamu",
" ia ndak apa-apa, kamu kan sibuk", Meskipun dihatiku aku berharap ia datang untuk mendampingiku. Tapi tak apalah ia pekerja keras dan lebih mementingkan kerjanya dari pada acara wisuda.
"Tapi saya bangga padamu, sekarang kamu jadi akademisi yang sukses, Dr. Roni Maulana habibi, aku benar-benar bangga padamu, sekarang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan", Ghoni menangis tersedu menyebut namaku itu.
" kamu juga sukses kontraktor hebat, bapak Ghoni Maulana Habibi",
"Hebat apa...hebat cap kampret", hahaha..ghonipun tertawa lebar dengan menyudutkan dirinya sendiri
"Haha....haha",... Akupun tertawa dengan masih sedikit menyimpan rasa iba padanya. Aku tau dibeberapa surat kabar nasional namanya tercoreng, ada beberapa hal permasalahan yang ia hadapi, proyeknya bermasalah, semoga ia kuat menghadapinya.
***
"Sudah beberapa hari ini pak Ghoni belum datang, kemana ia?, apa ada yang tau?", ungkap pak Eko dengan nada sedikit kesal.
" kami tidak tau pak..", serempak karyawan kantor menjawab pertanyaan dari pak Eko.
"Mimin....cepat buatkan surat kepada pak Ghoni", seru pak Eko dengan nada marah.
" surat apa pak?", seru mimin yang sedikit pura-pura tidak mengerti, padahal ia mengerti apa yang harus ia kerjakan.
"Kamu ini bagaimana, kok masih tanya?, surat penghentian ikatan kerja dengan pak Ghoni, mengerti!!!?,
" ia pak mengerti",
"Cepat kerjakan!",
" sekarang pak?",
"Ia sekarang!!!, mau kapan lagi?",
" baik pak", mimin sedikit ragu untuk mengerjakan tugas yang diberikan pak Eko padanya. Sebab, ia sadar berkat pak Ghonilah ia bekerja diperusanan ini. Akan tetapi sekarang ia malah membuat surat pemutusan ikatan kerja dengan pak Ghoni, iapun dilema.
"Mimin...jika sudah selesai, langsung kamu kirim ke emailnya agar ia langsung membacanya, juga hardfilenya kirim ke rumahnya",
" baik pak..", mimin tidak bisa membantah apa yang diperintah oleh atasannya.
Sejenak suasana kantor begitu tegang. dari biasaya yang teramat ramai tiba-tiba sepi tak bersuara. Hingga dibuyarkan oleh pak Dimas yang kemudia datang ke kantor.
"Ada apa ini pa Eko?, seru pak Dimas yang melihat suasana kantor yang begitu tegang.
" saya sudah memutuskan untuk tidak mengikat pak Ghoni dalam proyek ini",
"Ternyata kau benar-benar melakukannya...ayo kita bicara dalam ruanganmu", pak Dimas kemudian mengajak pak eko masuk keruanganya.
" aku punya ide untuk masalahmu ini?",
"Apa itu?",
" bagaimana kalau kita menawarkan proyek ini ke perusahaan lain, untuk beberapa waktu kita berbagi keuntungan dengan mereka, bagaimana menurutmu?",
"Saya setuju aja dengan usulmu",
" baguslah kalau begitu, ya..agar bisa meminimalisir kerugian perusahaan kita ini",
"Tapi, ini jadi tanggung jawabmu, hingga kamu mendapatkan orang yang tepat untuk melaksanakan proyek ini",
" siap pak Eko, laksanakan.....",
***
Dirumah kecil diperkampungan, tiga kamar menjadi sejarah perjalanan hidup saudara kembar. Ada juga ruang tamu yang jadi tempat bermain dimasa itu. Sudah bertahun-tahun mereka meninggalkan rumah itu.
Cita-cita dan ambisi menjadi alasan besar meninggal kampung. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuannya itu.
Roni ia belajar siang dan malam untuk mendapatkan beasiswa. Dari s1, s2 hingga s3 ia tak lepas dari yang namanya beasiswa. Ia pintar dalam akademis.
Sedangkan Ghoni ia mati2an dalam bekerja hingga ia mendapatkan apa yang di inginkannya, ia kaya dalam waktu muda.
"Kenapa kita harus nginap di hotel hingga tiga hari ghoni?,
" aku malu, dan juga untuk menguatkan hati",
Sebentar lagi perjalanan mereka akan sampai pada tujuan. Rumah masa kecil yang banyak kenangan menjadi tujuan mereka.
Tanpa komando, setiba dipagar rumah, Ghoni langsung meloncat keluar, ia berlari seperti kijang, gesit. Ia berteriak dan aku mengikuti ia dibelakang.
"Ibu...ibu....ibu...., dimana ibu??", Ghoni mencari ibu hingga ke dapur, ia mencari di setiap ruang tidak ada, ia sedih dan bersandar pada dinding kamar depan.
" mungkin ibu ada di kebun, ia kan senang dengan tanaman",
"Benar...kamu...", ghoni langsung berlari ke kebun, dan benar adanya ibu memang ada dikebun.
" ibu....", Ghoni memanggil ibu dengan terisak ia berlari kecil menghampiri ibu, sedikit tersandung tapi tak dihiraukan olehnya.
"Masya Allah...Ghoni....!!!, anakku pulang.....",
Kemudian mereka berpelukan, Ghonipun bersimpuh dikaki ibu, ia terisak tangis yang air matanya mengalir deras.
" Maafkan Ghoni ibu...maafkan Ghoni ibu.....", Ghoni mengiba penuh harap agar dimaafkan oleh ibu, akupun ikut sedih melihat moment itu, di mataku episode maaf yang begitu haru.
"Terimakasih Roni...kamu telah membawa kakakmu ke sini, bertemu ibu....", tiba-tiba ibu melayangkan katanya padaku. Aku hanya terdiam tanpa kata. Ku iyakan dengan senyum, menghampirinya mencium tanganya. Memeluk mereka berdua.
***
Sudah berkali-kali aku membujuk Ghoni untuk pulang barang sebentar, tapi ia selalu menolak dengan alasan yang sama setiap waktu, sibuk.
Terakhir kali, kemaren waktu aku berkunjung ke kantornya, ia mau ikut. Mungkin karna ia ingin lari dari masalah hingga ia mau untuk pergi bersamaku.
Sudah aku niatkan untuk mengajaknya bertemu ibu ketika kelulusannku, kuberanikan diri untuk mengunjunginya. Meskipun dari awal ketika ku hubungi dan mengusulkan hal tersebut, ia menolaknya, saya pasrah saja.
Aku ndak tega dengan tangis ibu padaku, ia menangis agar aku mengajak Ghoni untuk mengunjunginya, sudah sembilan tahun sejak kepergian ayah, ia pergi tak pernah kembali.
Ternyata ia berada di suatu perusahaan besar, ku tahu dari salah satu artikel disurat kabar. Kedudukannya lumayan mentereng, ia hebat dan kaya waktu itu. Kemudian aku mencoba menghunginya, tersambung dan ia masih mengingatku.
Ada hal lucu yang membuat tertawa kecil, saat diriku kekantornya kemaren, biasanya saya tidak pernah bertemu dengannya dikantor. Ia selalu mengajak bertemu denganku di restoran, itupun cuman dua menit, paling lama lima menit, lantas ia langsung pergi.
Aku beranikan diri untuk pergi ke ruangannya. Dari gerbang saya sudah dikira pak Ghoni oleh satpam, kulihat satpam melihatku dengan heran. Mungkin karna diriku berpakaian bukan pakaian resmi kantoran.
"Selamat siang pak Ghoni?", ucap satpam yang menyapaku.
" selamat siang juga", bisa antarkan ke ruang saya.
Satpam keheranan dengan ajakan saya, tapi ia tak berani menolak. Mungkin karna saya dikira pak Ghoni satpam. Hingga di tengah jalan ada yang memanggil saya.
"Pak Ghoni...pak Ghoni....tunggu", salah satu karyawan mengejar saya.
" ia ada apa?", kuberanikan diri bergaya Ghoni didepannya.
"Bapak dari mana saja, ini laporan yang bapak minta sudah saya buatkan", ia kemudian menyerahkan laporan itu padaku, akupun membawanya untuk diberikan langsung pada Ghoni.
Ketika sudah diruanganya, ia kaget ketika aku ada di depanya, satpam juga tambah kaget. Karna didepan ada dua manusia yang sama tidak ada beda, hanya pakaiannya yang berbeda.
" apa ini?", ia bertanya padaku tentang berkas yang kuberikan padanya.
"Ndak tau, itu dari karyawanmu yang memberikannya padaku, ia mengira aku adalah kamu",
Setelah ia melihat berkas itu, ia mengkerutkan dahinya kemudian keluar dari ruangan, dan yang kudengar kemudian ia teriak marah-marah.
Yang pada akhirnya, aku mengajaknya pergi untuk menemui ibu, alhamdulillah ia menyetujuinya. Meskipun kutau ia setengah sadar ketika ku aja, karna kerumita alam pikirannya akan masalah yang ia hadapi.
***
" Roni...aku akan disini", Ghoni membuka pembicaraan sore yang hening padaku.
"Maksudmu apa?", aku tak mengerti apa yang ia maksud, sedikit berpikir ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut.
" tadi malam aku dapat pesan di emailku, pesan dari perusahaan",
"Emang pesan apa?", aku penasaran bertanya padanya, dari nada bicaranya sepertinya bukan kabar yang baik.
" ikatan kerja proyek ku diputus sepihak oleh perusahaan",
"Apa tidak bisa nyari proyek yang lain?",
" bisa sih...tapi untuk sementara waktu namaku buruk dimata mereka, bisa jadi yang aku takutkan mereka akan memberitakan masalah ini disurat kabar",
"Jujur saya tidak tau apapun tentang solusi terhadap masalahmu itu, tapi saya sarankan kamu pasrah saja dan serahkan semua itu pada Allah",
" ia kamu benar....HANYA KEPADAMU ALLAH AKU BERSERAH DIRI.
-TAMAT-
0 komentar:
Posting Komentar