A.
Pendahuluan
Dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa Allah
menciptakan manusia agar menjadikan tujuan akhir atau hasil segala aktivitasnya
sebagai pengabdian kepada Allah.[1]
Aktivitas yang dimaksud tersimpul dalam ayat al-Qur’an yang menegaskan bahwa
manusia adalah khalifah Allah.[2]
Manusia sebagai khalifah Allah memikul beban yang sangat berat. Tugas ini dapat
diaktualisasikan jika manusia dibekali dengan pengetahuan. Hal itu bisa
dipenuhi dengan proses pendidikan.
Pendidikan
adalah usaha atau proses perubahan dan perkembangan manusia menuju ke arah yang
lebih baik dan sempurna. Adanya ungkapan bahwa pendidikan merupakan proses
perbaikan dan menuju kesempurnaan, hal itu mengandung arti bahwa pendidikan
bersifat dinamis karena jika kebaikan dan kesempurnaan tersebut bersifat statis
maka ia akan kehilangan nilai kebaikannya. Gerak dinamis yang continue
telah dilakukan oleh nabi dan membuahkan hasil berupa pembangunan peradaban
Islam yang tinggi dan dihormati oleh masyarakat dunia saat itu dan bahkan
hingga sekarang ini.
Pendidikan
Islam pada hakikatnya adalah proses perubahan menuju arah positif. Dalam
konteks sejarah perubahan yang positif ini adalah jalan Tuhan yang telah
dilaksanakan sejak zaman Nabi Muhammad. Pendidikan Islam dalam konteks
perubahan ke arah positif ini identik dengan kegiatan dakwah yang biasanya
dipahami sebagai upaya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.[3]
Sejak wahyu pertama diturunkan dengan program Iqra’ (membaca) pendidikan
Islam praksis telah lahir, berkembang, dan eksis dalam kehidupan umat Islam
yakni sebuah proses pendidikan yang melibatkan dan menghadirkan Tuhan.
Pendidkan
Islam terjadi sejak Nabi diangkat menjadi Rasul di Makkah dan beliau sendiri
sebagai gurunya.[4]
Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang, seiring dengan hal itu banyak
bermunculan tokoh-tokoh intelektual Muslim yang memiliki perhatian terhadap
masalah pendidikan Islam. Beragam pemikiran pendidikan Islam telah dihasilkan
oleh para Ilmuwan Muslim, terdapat tiga aliran utama dalam pemikiran pendidikan
Islam, yaitu: aliran agamis konservatif dengan tokohnya imam Ghazali, aliran
religious rasional yang diwakili oleh Ikhwanu as-Shofa dan aliran pragmatis
dengan tokoh utamanya Ibn Khaldun.[5]
Pemikiran Ibnu Khaldun lebih banyak bersifat pragmatis dan lebih berorientasi
pada dataran aplikatif-praktis, selanjutnya makalah ini akan membahas tentang
pemikiran pendidikan Islam menurut Ibn Khaldun.
B.
Pembahasan
1.
Biografi Ibn Khaldun
Nama lengkapnya adalah Abdullah al-Rahman Abu Zayd Ibn Muhammad Ibn
Khaldun.[6]
Ia dilahirkan di Tunisia pada bulan Ramadhan pada tanggal 27 mei
1332 M. ia berasal dari keluarga politis,
intelectual, dan aristocrat. Sebelum
pindah ke Afrika, keluarganya adalah para pemimpin politik di Moorish (Spanyol)
selama beberapa abad.
Ayahnya bernama Abu Abdullah Muhammad. Ia berkecimpung dalam bidang
politik. Kemudian mengundurkan diri dari bidang politik serta menekuni ilmu
pengetahuan dan kesufian.[7]
Ia ahli dalam bahasa dan sastra Arab. Ia meninggal pada tahun 749 H, akibat
wabah pes yang melanda Afrikan Utara dengan meninggalkan lima orang anak.
Ketika ayahnya meninggal, Ibn Khaldun baru berusia 18 tahun.
Selanjutnya pada tahun 1362 M Ibn Khaldun menyeberang ke Spanyol
dan bekerja pada raja Granada. Di Granada, ia menjadi utusan raja untuk berunding
dengan Pedro dan raja Castila di
Sevilla. Karena kecakapannya yang luar biasa, ia ditawari pula bekerja oleh
penguasa Kristen saat itu. Sebagai imbalannya, tanah-tanah bekas milik
keluarganya dikembalikan kepadanya. Akan tetapi, dari tawaran-tawaran yang ada,
ia akhirnya memilih tawaran untuk bekerja sama dengan raja Granada.
Kesanalah ia memboyong keluarganya dari Afrika. Ia tidak lama
tinggal di Granada. Ia selanjutnya kembali ke Afrika dan diangkat menjadi
perdana menteri oleh Sultan al-Jazair. Ketika antara tahun 1362-1375 terjadi
pergolakan politik, menyebabkan Ibn Khaldun terpaksa mengembara ke Maroko dan
Spanyol.
Pada
tahun 1382 M ibnu khaldun berniat pergi haji,
tetapi dalam perjalanan hajinya ia singgah di Mesir. Raja dan rakyat
mesir yang cukup mengenal reputasi Khaldun
menyebabkan ia tidak melanjutkan perjalanan hajinya. Di daerah ini ia
ditawari jabatan guru kemudian ketua Mahkamah agung dibawah pemerintahan
dinasti Mamluk.
pada
tahun 1387 M[8]
setelah pulang haji ia ingin hidup
tenang di Kairo tetapi tidak tercapai. Sebab, kemampuannya yang luas itu telah
mengundang sultan Mamluk untuk memanfaatkannya. Bersama-sama dengan hakim dan
ahli-ahli hukum lainnya ia dibawa sultan ke Damaskus, kota yang terancam
gempuran tentara Timur Lenk. Damaskus tidak dapat dipertahankan dan Sultan
bersama dengan tentaranya mundur ke Mesir. Namun, Khaldun dan beberapa orang
terkemuka lainya tetap tidak pulang. ia diserahi tugas berunding mengenai
penyerahan kota itu ke tangan Timur Lenk. Di tangan Timur Lenk, Damaskus
dihancurkan. Tetapi Khaldun berhasil menyelamatkan bukan hanya dirinya,
melainkan juga beberapa orang terkemuka, anggota tim perundingan ke Mesir. Di
Mesir, ia tetap seorang yang terhormat. Sebab, tidak lama kemudian ia kembali
pada jabatannya semula, sebagai ketua Mahkamah Agung. Ia meninggal pada tahun
1406 M dalam usia 74 tahun, bersama
jabatan yang dipegangnya. [9]
2.
Pendidikan Ibn Khaldun
Ibn Khaldun mengawali pendidikan dengan membaca al-Quran, Hadis,
Fikih, Sastra dan Nahwu Sharaf. Tunisia pada waktu itu merupakan pusat ulama
dan sastrawan di daerah Maghrib. Dan umur 20 tahun ia berkerja sebagai
sekretaris sultan Fez di Maroko. Akan tetapi setelah Tunisia dan sebagaian
besar kota-kota di Masyriq dan Magrib dilanda wabah pes yang dahsyat pada tahun
749 H, mengakibatkan ia tidak dapat melanjutkan studinya. Bahkan, dalam
peristiwa tersebut, ia kehilangan kedua orang tuanya dan beberapa orang
pendidiknya. Dengan kondisi yang demikian, maka pada tahun 1362 ia pindah ke
Spanyol.
Menurut Ali Abdul Wahid Wafi, ada dua factor yang menyebabkan Ibn
Khaldun tidak dapat melanjutkan studinya, yaitu:
a.
Peristiwa
waba pes yang melanda sebagian besar dunia Islam mulai dari Samarkand sampai
Maghrib.
b.
Hijrahnya
sebagaian besar Ulama dan sastrawan yang selamat dari wabah pes dari Tunisia ke
Maghrib al-Aqsa pada tahun 750H/1349 M, bersama-sama dengan Sultan Abu
al-Hasan, penguasa Daulah Bani Marin.
Di antara pendidik Ibn Khaldun yang
terkenal adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn saad Ibn Burral al-Anshari. Darinya,
ia belajar al-Qur’an dan al-Qira’at al-Sab’ah. Selain itu, gurunya yang lain
adalah; Syaikh Abu Abdullah Ibn al-Arabi al-Hasayiri, Muhammad al-Syawwas
al-Zarazli, Ahmad Ibn al-Qassar, Syaikh Syams al-Din Abu Abdullah Muhammad
al-Wadisyasyi (belajar ilmu hadis, bahasa Arab, Fiqh), dan Abdullah Muhammad
Ibn Abd al-Salam (Belajar Kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik)[10]
Muhammad Ibn Sulaiman al-Satti Abd. Al-Muhaimin al Hadrami, dan Muhammad Ibn
Ibrahim al-Abili (belajar ilmu-ilmu pasti, logika dan seluruh ilmu (Teknik)
kebijakan dan pengajaran di samping dua ilmu pokok (Quran dan Hadis).[11]
Diantara sekian banyak pendidik
tempat Ibn Khaldun menimba ilmu, namun ada dua orang yang dianggap paling
berjasa terhadapnya yaitu: Syaikh Muhammad Ibn Ibrahim al-Abili dalam Ilmu-ilmu
filsafat dan Syaikh Abd. al-Muhaimin Ibn al-Hadrami dalam ilmu-ilmu agama. Dari
kedua pendidik tersebut, ia mempelajari kitab-kitab hadis, seperti al-Kutub
al-Sittah dan al-Muwattha’.
3.
Pemikiran Pendidikan Islam Menurut
Ibn Khaldun
a.
Tujuan
Pendidikan
Menurut
Ibn Khaldun, tujuan pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal. Di antara
tujuan pendidikan tersebut adalah;
1)
Tujuan
peningkatan pemikiran
Ibn Khaldun
memandang bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah memberikan kesempatan
kepada akal untuk lebih giat dan melakukan aktivitas. Hal ini dapat dilakukan
melalui proses menuntut ilmu dan keterampilan. Dengan menuntut ilmu dan
keterampilan, seorang akan dapat meningkatkan kegiatan potensi akalnya. Di
samping itu, melalui potensinya, akal akan mendorong manusia untuk memperoleh
dan melestarikan pengetahuan. Melalui proses belajar, manusia senantiasa
mencoba meneliti pengetahuan-pengetahuan atau informasi-informasi yang
diperoleh oleh pendahulunya. Manusia mengumpulkan fakta-fakta dan menginventarisasikan
keterampilan-ketermapilan yang dikuasainya untuk memperoleh lebih banyak
warisan pengetahuan yang semakin meningkat sepanjang masa sebagai hasil dari
aktivitas akal manusia.[12]
Atas dasar pemikiran tersebut, maka tujuan pendidikan menurut Ibn Khaldun
adalah peningkatan kecerdasan manusia dan kemampuannya berfikir. Dengan
kemampuan tersebut, manusia akan dapat meningkatkan pengetahuannya dengan cara
memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan pada saat belajar.
2)
Tujuan
peningkatan kemasyarakatan
Dari segi
peningkatan kemasyarakatan, Ibn Khaldun berpendapat bahwa Ilmu dan pengajaran
adalah lumrah bagi peradaban manusia.[13]
Ilmu dan pengajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat
manusia kea rah yang lebih baik. Semakin dinamis budaya suatu masyarakat, maka
akan semakin bermutu dan dinamis pula keterampilan di masyarakat tersebut.
Untuk itu, manusia seyogyanya senantiasa berusaha memperoleh ilmu dan
keterampilan sebanyak mungkin sebagai salah satu cara membantunya untuk dapat
hidup dengan baik dalam masyarakat yang dinamis dan berbudaya. Jadi, eksistensi
pendidikan menurutnya merupakan satu sarana yang dapat membantu individu dan
masyarakat menuju kemajuan dan kecemerlangan. Di samping bertujuan mendorong
terciptanya tatanan kehidupan masyarakat kea rah yang lebih baik.
3)
Tujuan
pendidikan dari segi kerohanian adalah dengan meningkatkan kerohanian manusia
dengan menjalankan praktek ibadat, zikir, khalwat (menyendiri) dan mengasingkan
diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan ibadah sebagaimana yang
dilakukan oleh pra sufi.[14]
b.
Kurikulum
Pendidikan dan Klasifikasi Ilmu
Ibn
Khaldun membuat klasifikasi ilmu dan menerangkan pokok-pokok bahasannya bagi
peserta didik. Ia menyusun kukikulum yang sesuai sebagai salah satu sarana
untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini dilakukan, karena kukikulum
dan sistem pendidikan yang tidak selaras dengan akal dan kejiwaan peserta
didik, akan menjadikan mereka enggan dan malas belajar. Berkenaan dengan hal
tersebut, Ibn Khaldun membagi ilmu menjadi dua macam, yaitu:
1)
Kelompok
ilmu Naqli: ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi.
2)
Kelompok
ilmu Aqli: ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui kemampuan berfikir. Proses
perolehan tersebut dilakukan melalui panca indera dan akal.
Ibn Khaldun menyusun ilmu-ilmu naqli sesuai dengan manfaat dan
kepentingannya bagi peserta didik kepada beberapa ilmu, yaitu:
a)
Al-Quran
dan hadis
b)
Ulum
al-Quran
c)
Ulum
al-Hadis
d)
Ushul
al-Fiqh
e)
Fiqh
f)
Ilm
al-Kalam
g)
Ilm
al-Tasawuf
h)
Ilm
Ta’bir al-Ru’ya
Menurutnya, al-Quran adalah ilmu yang pertama kali harus diajarkan
kepada anak. Al-Quran mengajarkan kepada anak tentang syari’at Islam yang
dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap umat
Islam.[15]
Al-Qur’an yang telah ditanamkan pada peserta didik akan jadi pegangan hidupnya.
Proses ini hendaknya dilakukan sedini mungkin, karena pengajaran pada masa
kanak-kanak masih mudah karena otaknya masih jernih.
Secara khusus, ilmu aqli dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
a)
Ilmu
logika (Mantiq)
b)
Ilmu
Fisika: termasuk di dalamnya ilmu kedokteran dan ilmu pertanian
c)
Ilmu
metafisika (‘Ilm al-Ilahiyat)
d)
Ilmu
matematika termasuk di dalamnya ilmu geografi, aritmatika dan aljabar, ilmu
music, ilmu astronomi, dan ilmu nujum.
Mengenai ilmu nujum, Ibn Khaldun menganggapnya sebagai ilmu yang
fasid. Pandangannya ini didasarkan asumsi bahwa ilmu tersebut dapat
dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar
pebintangan. Hal itu, merupakan sesuatu yang bathil dan berlawanan dengan ilmu
tauhid yang menegaskan bahwa tak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.
Menurut Ibn Khaldun, mempelajari ilmu-ilmu aqli (rasio) dipandang
sebagai sesuatu yang lumrah bagi manusia dan tidak hanya milik suatu agama.
Ilmu-ilmu aqli dipelajari oleh penganut seluruh agama. Mereka sama-sama
memenuhi syarat untuk mempelajari dan melakukan penelitian terhadap ilmu-ilmu
aqli. Ia menyebut bahwa ilmu-ilmu aqli merupakan ilmu filsafat dan kearifan.[16]
Hanya dapat diketahui oleh manusia melalui proses berfikir dan meneliti, bukan
berdasarkan wahyu an sich. Ilmu-ilmu rasio sepantasnya dipelajari dan dikuasai
sebagian manusia. Hal ini disebabkan, demikian besar manfaatnya untuk kehidupan
inividu dan masyarakat.
Ibnu Khaldun membagi ilmu pengetahuan berdasarkan tujuan
fungsionalnya bukan substansialnya menjadi dua yaitu: pertama ilmu yang
bernilai intrinsic, seperti ilmu-ilmu keagamaan (syar’iyyat); tafsir, hadis,
fiqh, kalm; juga teologi dan ontology dari cabang filsafat. Kedua, ilmu-ilmu
yang bersifat ekstrinsik-instrumental bagi ilmu-ilmu jenis pertama, seperti,
kebahasa araban dan sejenisnya bagi ilmu syar’iy, logika bagi filsafat dan ilmu
hitung.[17]
c.
Metode
pengajaran
Menurut Ibn
Khaldun bahwa mengajarkan pengetahuan kepada peserta didik hanyalah akan
bermanfaat apabila dilakukan dengan berangsur-angsur, dan sedikit demi sedikit.
Pertama-tama ia harus diberi pelajaran tentang soal-soal mengenai setiap cabang
pembahasan yang dipelajarinya. Keterangan diberikan harus secara umum, dengan memperhatikan
kekuatan pikiran peserta didik dan kesanggupannya memahami apa yang diberikan
kepadanya. Apabila dengan jalan itu seluruh pembahasan pokok telah dipahami, maka
ia telah memperoleh keahlian dalam cabang ilmu pengetahuan tersebut, tetapi itu
baru sebagian keahlian yang belum lengkap. Sedangkan, hasil keseluruhan dari
keahliannya itu adalah ia memahami pembahasan pokok itu seluruhnya dengan
segala seluk-beluknya. Untuk itu jika pembahasan yang pokok itu belum dicapai
dengan baik, maka harus diulanginya kembali hingga dikuasai benar.
Dalam
hubungannya dengan mengajarkan ilmu kepada peserta didik, Ibn Khaldun
menganjurkan agar para guru mengajarkan ilmu pengetahuan kepada peserta didik
dengan metode yang baik dan mengetahui faedah yang dipergunakannya[18].
Ibn Khaldun lebih lanjut mengemukakan kesulitan yang dihadapi para peserta
didik yang didasarkan pada penglihatannya yang tajam terhadap para peserta
didik yang dijumpainya. Kesalahan tersebut disebabkan karena para pendidik
tidak menguasai ilmu jiwa anak. Menurutnya seseorang yang dahulunya diajarkan
dengan cara kasar, keras dan cacian, akan dapat mengakibatkan gangguan jiwa
pada anak. Anak yang demikian cenderung menjadi pemalas dan pendusta, murung
dan tidak percaya diri serta berperangai buruk, mengemukakan sesuatu yang tidak
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang disebabkan ia merasa takut dipukul.
d.
Sifat-sifat
Pendidik
Seorang
pendidik akan berhasil dalam tugasnya apabila memiliki sifat-sifat yang mendukung
profesionalismenya. Adapun sifat-sifat tersebut adalah:
1)
Pendidik
hendaknya lemah lembut, senatiasa menjauhi sifat kasar, serta menjauhi hukuman
yang merusak fisik dan psikis peserta didik, terutama terhadap anak-anak yang
masih kecil. Hal ini disebabkan, karena dapat menimbulkan kebiasaan yang buruk
bagi mereka (peserta didik); seperti pemalas, berdusta dan tidak jujur, atau
berpura-pura menyatakan apa yang tidak terdapat di dalam pikirannya. Sikap yang
demikian dapat terjadi disebabkan karena merasa takut disakiti dengan perlakuan
yang kasar, terutama jika mereka berkata yang sebenarnya.[19]
2)
Pendidik
hendaknya menjadikan dirinya sebagai Uswah al-Hasanah (suri teladan) bagi
peserta didik. Keteladanan di sini dipandang sebagai suatu cara yagn ampuh
untuk membina akhlak dan menanamkan prinsip-prinsip terpuji kepada jiwa peserta
didik. Menurut Ibn Khaldun, peserta didik akan memperoleh ilm pengetahuan, ide,
akhlak, sifat terpuji dan pendidikan adalakanya dengan meniru atau melakukan
kontak pribadi dengan lingkungannya, khususnya kepribadian para pendidik.
3)
Pendidik
hendaknya memperhatikan kondisi peserta didik dalam memberikan pengajaran,
sehingga metode dan materi dapat disesuaikan secara proporsional.
4)
Pendidik
hendaknya mengisi waktu luang dengan aktivitas yang berguna. Menurut Ibn
Khaldun, diantara cara yang paling baik untuk mengisi waktu senggang adalah
dengan membiasakan anak membaca, terutama membaca al-Qur’an, sejarah,
syair-syair, hadis nabi, bahasa Arab, dan retorika.[20]
5)
Pendidik
harus professional dan mempunyai wawasan yang luas tentang peserta didik,
terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwanya, serta
kesiapan untuk menerima pelajaran. Di antara sikap terpenting yang harus
dimiliki oleh seorang pendidik ialah kemampuan mengungkapkan diri dengan jelas
dalam dialog dan diskusi, serta mencoba menyampaikan kemampuan ilmiah kepada
peserta didik yang dianggap sebagai suatu keahlian dalma pelajaran.
e.
Pandangan
tentang manusia didik
Ibnu Khaldun lebih
banyak melihat manusia dalam hubungannya dan interaksinya dengan
kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Dalam konteks inilah ia sering
disebut sebgai salah seorang pendiri sosiolog dan antropolog.
Apa yang
terkesan tentang konsep manusia menurut Ibn Khaldun adalah karena ia seorang
muslim. Ia telah mempunyai asumsi-asumsi kemanusian sebelumnya lewat
pengetahuan yang ia peroleh dalam ajaran Islam oleh karena itu,
konsepsi-konsepsi kemanusiannya adalah hasil dari derivikasi upaya intektual
Khaldun untuk membuktikan dan memahami asumsi al-Qur’an tersebut lewat gejala
dan aktivitas kemanusiaan. Ibn Khaldun memandang manusia sebagai makhluk yang
berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia, kata Ibn Khaldun adalah makhluk
berpikir. Oleh karena itu ia mampu melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sifat-sifat semacam itu tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Lewat kemampuan
berpikirnya itu, manusia tidak hanya membuat kehidupan, tetapi juga menaruh
perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup, proses-proses
yang semacam ini melahirkan peradaban.
Menurut Ibn
Khaldun, manusia memiliki perbedaan dengan makhluk lainnya, khususnya binatang.
Perbedaan ini antara lain karena manusia di samping memiliki pemikiran yang
dapat menolong dirinya untuk menghasilkan kebutuhan hidupnya, juga meiliki
sikap hidup bermasyarakat yang kemudian dapat membentuk suatu masyarakat yang
antara satu dan lainnya saling menolong. Dari keadaan manusia yang demikian itu
maka timbullah ilmu pengetahuan dan masyarakat. Pemikiran tersebut pada suatu
saat diperlukan dalam menghasilkan sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh panca
indera. Ilmu yang demikiran mesti diperoleh dari orang lain yang telah lebih
dahulu mengetahuinya. Mereka itulah yang kemudian disebut guru. Agar proses
pencapaian ilmu yang demikian itu, maka perlu diselenggarakan kegiatan
pendidikan.[21]
Pada bagian
lain, Ibn Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar atau menuntut ilmu
pengetahuan, manusia di samping harus sungguh-sungguh juga harus memiliki
bakat. Menurutnya, dalam mencapai pengetahuan yang bermacam-macam itu seorang
tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu
keahlian dalam satu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.
f.
Spesialisasi
Menurut Ibn
Khaldun, orang yang mendapat keahlian dalam salah satu pertukangan jarang
sekali yang ahli dalam pertukangan lainnya, misalnya tukang jahit. Hal ini
disebabkan karena sekali seseorang telah menjadi ahli dalam menjahit hingga
keahliannya itu tertanam berurat berakar dalam jiwanya, maka setelah itu ia
tidak akan ahli dalam pertukangan kayu dan batu, kecuali apabila keahlian yang
pertama itu belum tertanam dengan kuat dan belum memberi corak terhadap
pemikirannya.
Hal ini juga
didasarkan pada alasannya bahwa keahlian itu adalah sifat dan corak jiwa yang
tidak dapat tumbuh serempak. Dan mereka yang pikirannya masih mentah, dan dalam
keadaan masih kosong akan lebih mudah mendapatkan keahlian-keahlian baru yang
dapat mereka peroleh denga lebih mudah. Tetapi apabila jiwa itu telah bercorak
dengan semacam keahlian tertentu dan tidak lagi dalam keadaan kosong, maka
cetakan keahlian itu akan menjadikan jiwa itu kurang tertarik dan kurang
bersedia menerima keahlian-keahlian baru.
C.
Penutup
Dari
pembahasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa bagi Ibnu Khaldun,
pendidikan utamanya untuk peserta didik. Pendidikan harus memberikan nilai
manfaat bagi peserta didik dengan pendekatan yang efektif dan efisien. Pendidik
tidak boleh memaksakan kehendak dalam memberikan materi kepada peserta didik.
Jenis ilmu yang diberikan kepada peserta didik jga harus bertahap, dan yang
terpenting pendidikan harus dilakukan dengan melalui proses yang bertahap dan
penuh kasih saying.
Aliran
pragmatism yang disampaikan oleh ibnu khaldun ini, merupakan salahsatu wacana
dalam pemikiran pendidikan Islam. Melalui pemikikrannya Ibnu khaldun ingin
mengakomodir ragam keilmuan yang nyata terkait dengan kebutuhan langsung
manusia, baik berupa kebutuhan spiritual-ruhaniah maupun kebutuhan material.
Daftar
Pustaka
Ali, Fachry. “Realitas
Manusia: Pandangan Sosiologi Ibnu Khaldun” dalam Dawam Rahardjo, Insan
Kamil:Konsepsi Manusia Menurut Islam. Jakarta: Grafiti Press, 1987.
Bawani, Imam. Segi-segi
Pendidikan Islam. Surabaya: al-Ihlas, 1987.
Fu’ad, Ahmad. al-Ahwani,
al-Tarbiyah fi al-Islam. Mesir: Dar al-Ma’arif: t.th.
Khaldun, Abd.
Al-Rahman Ibn. Muqaddimah Ibn Khaldun, Tahqiq Ali Abd al-Wahid Wafi. Cairo:
Dar al-Nandhah, t.th.
Mursi, Muhammad
Munir. al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad
al-Arabiyyah. Mesir: Dar al-Ma’arif, 1987.
Nata, Abudin. Sejarah
Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
Nizar, Samsul dan
Ramayulis,. Fisafat Pendidiklan Islam. Jakarta: kalam Mulia, 2009.
Syaihany (al),
Umar Muhammad al-Toumi. Falsafah al-Tarbiyah al-Islzuniyah. Tripoli
Lihia: al-Syarikah al-Ammah li al-Nasyr al-Tauzi wa al-‘Ikan, 1975.
Ridlo, Jawad. Tiga
Aliran Utama Teori Pendidikan Islam (Perspektif Sosiologis Filosofis), trj.
Mahmud Arif dari judul al-Fikr al-Tarbawi al-Islamiyu Muqoddimat fi
Usuli al-Ijtimaiyati wa al-Aklamiyat. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 2002.
[1] QS.
Al-Dzariyat 51:56
[2] QS. Al-Baqarah
2:30 dan QS. Hud 11:61
[3] Imam Bawani, Segi-segi
Pendidikan Islam, (Surabaya: al-Ihlas, 1987), 73-74.
[4] Abudin Nata, Sejarah
Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004),9.
[5]Jawad Ridlo, Tiga
Aliran Utama Teori Pendidikan Islam (Perspektif Sosiologis Filosofis), trj.
Mahmud Arif dari judul al-Fikr al-Tarbawi al-Islamiyu Muqoddimat fi Usuli
al-Ijtimaiyati wa al-Aklamiyat, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 2002), 74.
[6] Ramayulis,
samsul nizar, Fisafat Pendidiklan Islam, (Jakarta: kalam Mulia, 2009),
281.
[7]Abd. Al-Rahman
Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, Tahqiq Ali Abd al-Wahid Wafi. (Cairo:
Dar al-Nandhah, t.th), Jilid, I, h. 10-11.
[8]Fachry ali,
realitas manusia: “Pandangan Sosiologi Ibnu Khaldun” dalam Dawam Rahardjo, Insan
Kamil:Konsepsi Manusia Menurut Islam (Jakarta : Grafiti Press, 1987),
153.
[9] Ibid, 153.
[10]Umar Muhammad
al-Toumi al-Syaihany, Falsafah al-Tarbiyah al-Islzuniyah, (Tripoli
Lihia: al-Syarikah al-Ammah li al-Nasyr al-Tauzi wa al-‘Ikan, 1975) h, 282.
[11]Abd. Al-Rahman
Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, Tahqiq Ali Abd al-Wahid Wafi.28.
[12]Abd al-Rahman
Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Tahqiq Ali Abd al-Wahid Wafi,
(Kairo: Dar al-Nahdlah, t.th), 1018-1019.
[13]Ibid, 1018.
[14]Ibid, 1097.
[15]Ahmad Fu’ad, al-Ahwani,
al-Tarbiyah fi al-Islam, (Mesir: Dar al-Ma’arif: t.th),218.
[16]Abd Rahman Ibnu
Khaldun, Muqaddimah, 1019.
[17]Jawwad Ridha, Tiga
Aliran Utama…, 104.
[18]Muhammad Munir
Mursi, al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-Arabiyyah,
(Mesir: Dar al-Ma’arif, 1987), 255.
[19]Abd Rahman Ibnu
Khaldun, Muqaddimah, 1253.
[20]Ibid, 1253.
[21]Ahmad Fu’ad, Al-Tarbiyah fi al- Islam, 248.
0 komentar:
Posting Komentar