Senin, 21 Maret 2016

Langitpun Terhapuskan

Pagi ini sepertinya sama dengan pagi-pagi yang kemaren. Dari bangun sangat pagi sekali, untuk menunaikan sholat malam. Hingga, beraktivitas pagi seperti biasanya. Anehnya, tadi malam saya terbangun jam 12 malam. Sangat jarang sekali saya bangun disaat jam belum menunjukkan jam 3 pagi. Agar tidak meninggalkan sholat tahajud, akhirnya saya sholat pada jam 1 malam dan tidur lagi hingga subuh menjelang.

Pagi hari disaat subuh, saya terbangun dan melihat jam. Ternyata subuh ini saya bangun agak siang. "Astarfirullah," keluh saya pada waktu itu. Tidak biasanya saya terlambat bangun pagi. Mungkin, terlalu dini sekali saya melaksanakan sholat tahajud. Kemudian, sayapun bergegas menuju kamar mandi. Menyiram tubuh dengan air pagi agar segar dan tak lupa gosok gigi. Setelah itu, saya sholat subuh dengan memakai pakaian yang harum. Berdzikir sebentar setelahnya, berdoa berharap rahmat dan rezekinya.

"Alhamdulillah," sukur saya pada waktu itu. Sebab, saya masih sempat sholat subuh meskipun waktu subuh hampir habis. Selesai sholat subuh saya menghidupkan hape asus. Disana saya lihat aplikasi 'whatsap,' didalamnya ada dua grup yang saya ikuti, yang pertama grup chating keluarga dari jalur ibu. Isinya obrolan orang tua yang bernostalgia pada masa lalu. Senang saya membaca apa yang ada di dalamnya. Terkadang memuat materi hikmah yang menyejukkan, kadang memuat informasi yang bermanfaat dan menakutkan 'berita kematian keluarga.' Yang kedua, grup teman kuliahku. Sepertinya tidak akan jauh berbeda isinya dengan grup pertama yang saya ikuti. Cerita nostalgia yang menjadi tawa untuk di kenang. Yang paling menarik isinya adalah undangan reuni atau acara sukuran teman-teman. Sebab, acara tersebut akan memperkuat tali silaturahmi antar teman. Tapi sayangnya, saya terkadang jarang hadir untuk bisa mengikuti acara tersebut. "Maafnya....teman-teman, semoga jika ada pertemuan lagi saya bisa hadir," salah satu doa pagiku, smga Allah mengabulkannya.

Setelah itu, saya beralih ke aplikasi berikutnya. Aplikasi yang saya suka karna bisa membekukan teks pikiran saya didalamnya. Aplikasi itu adalah 'Blog,' miliknya mbah google. Ketika saya buka, muncullah beberapa tulisan yang terbaru. Kemudian saya lihat blog dalam versi web. Terasa aneh, sebab tulisan terbaru dari pertengahan tahun dua ribu lima belas hingga saat ini hilang tak berbekas. Sayapun panik dan mengecek aplikasi blog untuk di 'segarkan'. Ternyata memang benar, tulisan saya yang  disimpan di langit (baca: blog) memang hilang atau terhapus. Sepertinya memang terhapus, ketika saya ingat kembali beberapa waktu lalu. Pernah saya menulis di gadget yang tak begitu 'apik'. Saya menulis didalamnya dan menghapus, juga mengedit beberapa bagian blog. Waktu itu, saya kira sudah sempurna dan terlihat bagus. Saya coba cek kembali dalam gadget yang sama tetap tidak ada perubahan, masih baik-baik saja.

Hari ini, ketika saya beralih dari hape jadul ke yang baru, aplikasi blog yang saya buka yang menyimpan tulisan saya menjadi hilang. Entah apa yang terjadi, apakah ini murni kesalahan saya atau system yang apabila berganti hape maka tulisan akan terhapus dengan sendirinya. Atau mungkin ada orang usil yang menjahili saya, sudahlah saya tidak mau berburuk sangka. Mungkin yang terjadi ini menjadi motivasi saya untuk menulis yang lebih baik lagi, lebih bagus lagi dan lagi. Smoga pula langit yang menjadi tempat saya untuk menyimpan buah pikiran akan    abadi. Teringat petuah dari abah pramoedya "pekerjaan yang abadi adalah menjadi seorang penulis,". Dan saya akan menulis, selamannya akan menulis. Tentang apapun, bisa tentang agama, percintaan, politik, sastra, atau tentang perjalanan hidup saya.

Jika diungkapkan dengan kata perasaan saya ketika melihat tulisan hilang maka saya akan tulis 'krommmpyang...,' tapi, jika di ungkap dengan kata lidah. Saya tidak tau harus berkata apa. Inilah langit yang dicipta, yang dicipta bisa hancur. namun, pencipta sebenarnya tidak akan pernah hancur.

0 komentar:

Posting Komentar