Sabtu, 24 September 2016

PAKU

Memulai dalam getaran kasih. Kalut terkadang basah jadi dingin. Entah apa dengan kisah, beribu alur terpapah dalam siraman rohani jasmani. Sejenak berlibur, mengibaskan bendera putih yang bertulis "kemenangan". Siapa yang akan membaca, itu hanyalah episode-episode tak bertuan. Sungguh gila, akan jadi semacam apa ini kelak. Kekosongan menjadi buah bibir yang mengena pada riuhnya gendang telinga. Ini sepertinya bukan gurauan yang menghibur dada para penikmat cerita. Mungkin ini hanya fatamorgana atau sebuah telaga yang menyenangkan bagi para musafir jalanan. Yang pada akhirnya hilang tanpa tujuan.

***

Sunarto menguyah makanannya dengan pelan. Hampa jadi teman pendamping tuan. Gemericik sungai disamping kanannya tak lagi dihiraukan. Ia berdansa dalam pikiran syetan. Membayangkan Delima hingga mabuk kepayang. Indah, sangat indah. Lamunannya mengambang dalam ukiran mendung alam. Tak terasa hujan sudah datang. Akan tetapi, sunarto tetap terpesona dengan keindahan yang tak bertuan.

Sejauh mata memandang, sunarto melihat pak kadir bawa pedang. Sosok yang tak diundang. Ini sebuah bencana datang, ia berjalan dengan cepat seperti larinya kijang. Peluh sunarto berkembang jadi muara yang airnya keruh petang. Tanpa berpikir panjang. Sunarto lari terbirit-birit mengejang.

"Sunarto, engkau bawa kemana delimaku?!!!".

Sunarto tak berani pulang, ia tak tau akan kebenaran. Fitnah sudah bertebaran. Ia jadi korban. semua tau, Sunarto penyuka Delima, ia selalu bercerita pada semua, Delima akan jadi miliknya. Milik Sunarto. Cerita bersambut pada bibir lembut, terus menjalar seperti akar pohon tua keramat. Ini Salah sunarto, cerita hasrat tanpa ada ikatan kuat. Akhirnya, Sunarto jadi objek kegaduhan ummat.

"Delima...hilang...delima hilang....delima hilang!!!".

Ini pasti ulah Sunarto, riuh suara tertuju padanya. Ia jadi objek makian tak ada habisnya. Kesalahan tetap tertuju padanya, tak ada ampun, tak ada kasihan. Ia harus diberi pelajaran. Agar ia jera, agar ia tau Delima begitu berharga. Sangat berharga dibanding Sunarto, lebih baik ia yang tak ada daripada Delima hilang ditelan senja.

Sunarto cari akal, akal-akalan tanpa ketidakpastian. Ia tetap teguh pendirian. Berjalan mencari kebenaran menuju hutan. Ia tertidur, lelah berlari meski perut keroncongan. Berhari-hari dalam hutan, berteman ribuan dedaunan. Untungnya ada air segar, jernih mengalir nyaman ditenggorokan. Alangkah senangnya sunarto, sendirian hidup tentram.

Tiba-tiba sunarto kedatangan Tuan bejubah. Ia pasrah, mungkin ini akhir sudah. Tapi ia salah, tuan berjubah hanya seorang pertapa dalam goa. Ia turun khusus bertemu sunarto. Bertutur kisah mimpi gundah. Ternyata pertapa pesuruh amanah. Ia berkisah, ia berpetuah. "Jangan kwatir", ucapnya penuh wibawah.
Sunarto jadi pendengar, ia tau betul seorang pertapa ucapnya makbul. Mimpinya adalah kebenaran, dan murkanya akan jadi ketakutan. Sunarto hanya diam, pertapupun hilang.

Berbulan-bulan sudah Sunarto tinggal di Hutan. Ia jadi Tarzan, temannya banyak hewan kecuali macan. Kesukaanya pisang, dia sangat girang ketika makan. Tapi, naluri manusiawinya terasa bosan. Ia ingin keluar dari hutan, ingin bertemu kerabat atau kawan. Sunarto resah, harus kemana kaki melangkah. Ia takut, ia gelisah. Bukankah yang terjadi manusia diluar sana memburunya. Gemetar hati mengingat pelariannya. Hingga, Kakinya berdarah-darah, tanpa lelah ia terus melangkah menuju persembunyian penuh berkah.

"Aku harus keluar, ini bukan duniaku". Sunarto beranjak dari tempatnya duduk. Semacam kursi kayu buatan tangan sunarto, terasa empuk. Ditempat itu, gubuk kecil Sunarto bagaikan istana raja yang melindungi dari panas dan hujan, dari siang dan malam. Ada pengawal, segerombolan jebakan kreatif buah tangan Sunarto. Sedikit banyak bobot tubuh Sunarto sudah berisi, makanan selalu terisi. Setiap waktu ada saja hewan yang tertangkap. Dimakan bergizi, nikmat.

Sunarto memantapkan hati. Gubuknya ia kunci, ia tulis "tempat orang benar terbuang". Ia pergi, selangkah demi selangkah jejaknya terlukis rapi. Tanah bumi mengantarnya menuju kisah lalu yang harus diperbaiki.
Ini pasti, jalan-jalan yang telah dilalui. Jadi bekal Sunarto memantapkan hati. Berdamai, mencari bukti atau mati. Lari bukan jalan tapi ketakutan. Maju bukan keangkuhan tapi anugrah cari kebenaran.

Di tengah jalan, di jalan begitu ramai. Sunarto berpapasan dengan pak Songkok. Pak Songkok bukan nama sebenarnya, namanya ibrahim. Ia seorang penjual songkok, hingga namanya terkenal jadi pak Songkok. Pak Songkok terkenal ramah dan bijak, ia juga dermawan. sehingga ia disenangi banyak kalangan. Mulai dari yang kuat hingga rakyat melarat.
"Dirimu dicari masyarakat sebelah, hingga kini". Ucapan terasa paku menancap didada. Getar tubuh tak bisa sembunyi dari pandang mata. Pak Songkok beda daerah beda masa. Ia hanya begumam mengikuti lidah tak bertuan "mencari Sunarto".

Sunarto bergegas menuju tempat kelahiran. Anehnya di gapura terpampang tulisan besar. Membuat Sunarto hilang akal, terpaku bediri berpikir akan apa yang dilihat mata. "Benarkah ini", lirih Sunarto tak percaya. Bagaimana bisa, ada apa sebenarnya. Sudah hilangkah, sudah terungkapkah. Siapa dan bagaimana? Tanpa sadar Sunarto senyum sumringah. Ia bebas, ia lepas. Tulisan itu menyadarkan Sunarto, bahwa ia bukanlah objek kesalahan.

"Dicari Sunarto, hidup atau mati sebab ia teman kami. maaf".



0 komentar:

Posting Komentar