Dear Muhammad
Hai, sepertinya tak pantas jika kusapa dengan kata itu. Lantas apa? Sepertinya aku masih grogi untuk menulis surat padamu, seperti baru ingin berkenalan dengan seseorang yang tak pernah tau sebelumnya. Tapi, tentang dirimu aku tau, aku mengenalmu, meskipun hanya sebatas pada cerita teks dan cerita-cerita dari guru atau teman diskusiku. Diriku menulis surat ini sebenarnya ingin sekali bertemu dan bercerita, juga ingin mendengar petuah-petuah darimu. Semoga dirimu mengabulkan itu, dirimu datang padaku menyapaku, memelukku dan berkata “engkau-aku menyatu dalam rindu padaNYA”. Sepertinya, aku akan terus mengkhayal tentangmu tentang kepribadianmu yang selalu jadi contoh bagi umat manusia. Dan aku juga termasuk salah satu manusia itu, manusia yang selalu berusaha untuk jadi baik. Meskipun, hanya lewat hati, semoga prilakuku akan mengikuti. Amien.
Taukah engkau, saat ini aku hidup dalam Negara yang penuh dengan hiruk pikuk politik yang tak stabil. Pola pendidikan yang berubah-rubah mengikuti subjek otoritas intitusi, serta makanan yang terus melambung tak terbeli.
Berbicara politik, taktik strategi, engkaulah rajanya. Penguasaan massa, doktrin intelektual berbasis agama, penyatu golongan yang bertikai, dan pemimpin yang tau akan rakyatnya, engkaulah yang terhebat. Bisa jadi aku keliru menilaimu, sebab penilaianku padamu sebatas orang awam yang rindu pada idolanya. Yang kubaca dalam teks karya Michael H. Hart, namamu di nomor satukan diantara seratus tokoh yang berpengaruh, yang hebat dalam sejarah hidup mereka. Diriku benar-benar bangga Namamu tertulis dengan tinta emas, di nomer satu mengalahkan nama-nama besar lainnya. Sebut saja, Nabi Isa, Budha, Aristoteles, asoka dan banyak yang lainnya. Berarti engkau memang hebat dalam segala hal termasuk politik.
Ingin sekali aku belajar politik padamu, menjadi murid setia. Agar kelak bisa membawa bangsaku Indonesia menjadi Negara yang lebih baik lagi. Aku teringat perkataan salah satu filosof terkenal, Aristoteles ia berkata bahwa politk adalah Usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Emang benar sih, kebaikan itu seharusnya bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir golongan di dalam Negara. Kebijakan-kebijakan yang jadi aturan terhadap masyarakat setidaknya tidak malah membebankan mereka dalam hidup bernegara. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan semboyan dalam menyongsong Indonesia lebih baik dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat, khususnya masyarakat yang termarginalkan. Bukankah seharusnya begitu? Tidak malah saling hujat satu dengan yang lainya, membenarkan golongan sendiri sehingga golongan yang lain adalah musuh dan mereka salah. Lantas, dimana letak persatuan Indonesia?
Di negaraku ini, kalau sudah berbicara kelompok, sepertinya arahnya adalah primordialisme fanatik extrim. Jujur saya tidak tau, apa itu termasuk dosa besar, karna sudah pengagungan berlebih pada suatu yang tak seharusnya. Seakan-akan hal itu menjadi Tuhan yang mengalahkan Tuhan sebenarnya. Bukankah itu syirik?, entahlah apa makna hal tersebut. Mungkin jika dirimu ada disini, dirimu akan menjelaskan kepadaku makna itu. Sehinggga tidak ada lagi yang mendiskreditkan makna Tuhan dalam alam pikiranku. Tuhan sudah mati, Tuhan 5 cm, Tuhan membusuk, Tuhan golongan, Tuhan materi.
Seumpama tulisan Abbas Aqqad sejarawan Islam, ia pernah menulis tentang dirimu bahwa, -Sesungguhnya gerakan dakwahmu adalah gerakan politik agung, invasimu adalah invasi keimanan dan kekuatanmu adalah kekuatan iman. Dan dirimu tidak goyah dalam menanamkan nilai-nilai keimanan yang mengesakan Allah SWT, meski godaan-godaan duniawi datang menghampirimu, fitnah duniawi yang tidak akan pernah ditemukan di mana pun dan kepada siapa pun kecuali kepadamu- Jika perkataan Abbas Aqqad ini Bisa diaminkan dalam dada pembesar negaraku niscaya Negaraku akan jadi tambah makmur dan sejalan dengan sunnahmu. Memang benar, iman adalah peneguh disegala bidang aktivitas manusia, tanpanya akan ada penyelewengn akidah yang ujung-ujungnya tidak takut dengan dosa. Perbuatan mereka akan terus berjalan tanpa dilandasi iman yang kuat. Merekapun tak akan takut dengan perbuatan yang melanggar aturan Negara, sebab mereka berpedoman, “aturan Tuhan aja dilanggar, apalagi aturan manusia.” Hehe..benerkan?.
Begitulah Negaraku saat ini, gambaran awam yang kulihat dari kacamata cerita banyak manusia. Meskipun sebenarnya kebenaran tak ubahnya khayalan subjektif disetiap ucap manusia. Bisa jadi gambaran satu dengan yang lainnya tidaklah sama, tapi ini adalah realita objektif yang mendominasi cerita di akar rumput. Dan aku merasakannya, mereka juga, mereka yang sama denganku, mereka yang memahami bahwa kita berada di ujung zaman. Engkau pernah menggambarkan itu. Menggambarkan bahwa akhir zaman begitu dekat sedekat jari telunjuk dengan jari tengah. Alangkah sangat dekatnya, jika diukur dengan zamanmu kemudian zamanku saat ini.
Kiamat sudah dekat
Sekarat menggelepar tamat
Manusia semakin melarat
Dalam dunia sesaat
Semua jadi berkarat
Karna kuasa laknat
Menghamba pada maksiat
Melingkar berkutat
Untuk senang sesaat
Neraka menunggu di akhirat
Memberi pembalasan kuat
Marilah bertaubat
Muhammad datang bersafaat
Manusia banyak berharap
Safaatnya akan mengikat
Mengangkat dengan kuat
Menuju sorga penuh rahmat
Banyak bidadari nikmat
Bersama Muhammad
Akhirnya kan selamat
Jari dan pikiranku masih ingin sekali bercerita banyak denganmu, sebab salah satu inginku adalah bertemu, bercerita, mendengar petuahmu. Tetapi, manusia aku ini punya batas sebab ada batas, seumpama batas itu tidak ada, mungkin rasa rinduku padamu akan terus tertuang dalam bentuk tulisan-tulisan semacam ini.
Yang Merindukanmu,
0 komentar:
Posting Komentar