Pp Ali imron 99
Kumpul-kumpul setelah mengadakan shalat tarawih serasa menyenangkan. Terawih disini sama dengan terawih pada umumny, yang di gunakan 23 rokaat. surat alquran yang dibaca, surat pendek. Kecuali, jika Mbah Tarom yang jadi imam, maka suratnya panjang.
Imam terawih dan bilal dipesantren ini sudah terjadwal jauh hari sebelum puasa. Kebanyakan imam dari alumni yang sudah hatam ngaji quran ke mbah tarom. Umurnya sudah banyak diatas empat puluh tahun. Mereka sudah tua tapi, semangat mereka untuk bisa mengaji al-quran layak untuk di acungkan jempol.
Tepat di depan "ndalem" ada tempat yang terbuat dari semen dan batu, tempat buat kumpul, berbentuk lingkaran yang tak tersambung, di tengahnya dibuatkan meja dari semen juga. Pas di tengah-tengah meja ada tiang dari besi yang dipergunakan untuk lampu. Kami berkumpul disana setelah shalat tarawih.
Aku disana duduk bersama mereka, bersama para alumni. Sedangkan para santri sebagian jongkok, sebagian lagi duduk di kursi kayu. Untuk pelengkap obrolan kami, di meja ada kopi, jajan dan es. Rokok jangan di tanya itu jadi barang penting yang harus ada.
Mbah Tarom duduk disamping kiriku, ia menjadi central di seluruh pembicaraan yang ada. Kalau beliau diam maka seluruhnya akan ikut diam, kalau beliau bicara maka yang tidak dia ajak bicara, akan ikut mendengarkan dengan khidmat. Meskipun, sebagian santri lebih asik dengan bermain gedget. Tapi, mereka tetap bisa fokus mendengarkan ngobrolan kiai.
Banyak hal yang di omongkan. Hal yang penting sepertinya seputar buka bersama dengan anak yatim di bulan ramadhan ini. Juga, setelah ramadhan tepatnya bulan syawal akan ada pertemuan dengan para alumni. Aku hanya mendengarkan saja, terkadang aku juga butuh proses untuk menterjemah perkataan mereka. Beda daerah, satu-dua, ada perkataan mereka yang masih belum ku mengerti.
Tiba-tiba disela pembicaraan mbah tarom memutar badanya mengarah padaku.
"Le...hadap Mbah!" Beliau menyuruhku untuk mengahadapnya.
"Enggeh," reflek tubuhku langsung berotasi menghadap Mbah tarom dan saling pandang
"Lihat mata...mbah...." beliau menyuruhku untuk fokus melihat matanya atau diantara matanya.
Aku kemudian melihat matanya mbah tarom. Tanpa bisa terkontrol tubuhku mulai bereaksi, aku masih sadar dan mengerti apa yang terjadi. Diriku yang tak bisa kukontrol ini mulai melawan mbah tarom, ia mencekik lehar mbah, tapi kalah kuat. "Ayo bantu..." mbah tarom mengomando seluruh santri.
Diriku pada waktu itu, banyak yang memegang tubuhku. Aku berteriak begitu keras, ngomonganku juga jelas. Ia ingin Menyakitiku sebab ada yang menyuruh, ia menyebut nama, yang kukenal nama itu adalah seorang tokoh yang ada didesa tempat ida tinggal. Tokoh itu membenci almarhum mertuaku, itu yang kutau, karna belum puas ia menyerang seluruh keluarga.
Aku kaget juga ketika ada omongan darinya, dari makhluk yang ada ditubuhku. Katanya, yang menyebabkan hancurnya hub keluargaku dengan keluarganya ida adalah ia. Ia mengakuinya, ketika tubuhku dibawa digotong oleh anak-anak ke tempat pemandian, ketempat wudlu yang berbentuk lingkaran besar, aku dimandikan dan disuruh berwudlu.
Setelah itu, ia pamit mau keluar dari dalam tubuhku, berteriak minta maaf mohon ampun pada pencipta, pada Allah.
"Ya saya ikhlas saya maafkan, jangan tingal di tubuh ku lagi, bawa semua alat-alat atau media untuk menyakitiku, hancurkan media itu.. keluarlah dengan tenang, jangan menyakiti tubuhku setelah engkau keluar dari dalamnya"
setelah itu akupun lemas. Tubuhku kedinginan, para santri dan alumnni menggotongku kedalam kamar. Aku berganti pakaian, aku direbahkan dan diselimuti, aku beristigfar mohon ampun sama Allah. Kemudian akupun tertidur dengan tubuh yang teramat lelah.
0 komentar:
Posting Komentar