Disuatu pagi yang cerah dihalaman mushollah
at-taqwa, Ahmad dan Abdul bebincang tentang masalah dzikir yang diberikakn oleh
kyai mereka.
Ahmad: “Dul, kemaren ketemu kyai dikasih dzikiran
apa, bagi dong….!!!”
Abdul: “dzikir hati Mad, sama seperti teman-teman
yang lain, emang kenapa?”
Ahmad: “itu harus khusuk Dul bacanya, agar mantap
dan bisa merasakan kekuatan dzikir itu dul, dibaca setiap hari kan?”
Abdul: “ia, terus kenapa?”
Ahmad: “ada banyak manfaatnya itu Dul, diantaranya:
pertama, senantiasa diingat oleh Allah ta’ala, dalam quran kan dah dijelaskan
tuh Dul, “Ingatlah kamu kepada-Ku,
niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (QS. Al-Baqarah [2]: 152),” gman coba, pasti
enakkan hidupnya manusia yang selalu diingat oleh sang pencipta?”
Abdul: “trus, manfaat yang lain apa?”
Ahmad: “satu lagi Dul, orang yang selalu berzikir
itu, ia akan diliputi kebaikan demi kebaikan dalam hidupnya, ini berdasarkan
hadist Nabi yang artinya “Tiada
suatu kaum yang berkumpul sambil mengingat Allah dimana dengan perbuatan itu
mereka tidak menginginkan apa pun selain diri-Nya, melainkan penghuni langit
akan berseru kepada mereka, ‘Bangkitlah, kalian telah diampuni.
Keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan-kebaikan’.” (HR.
Ahmad).”
Abdul: “gitunya,
pantesan hidupnya pak kyai selalu tentram dan damai.”
Ahmad: “pak Kyai itu
sudah berproses lama Dul, beliau berdzikir sudah tingkat maqom yang tinggi, kalau kita-kita ini masih jauh dari beliau. Biasanya
Dul, jika kita berdzikir khusuk, seakan-akan kita melihat ka’bah tepat didepan
kita, tapi saya belum tau masalah itu Dul, sebab dzikir saya masih belum khusuk.”
Abdul: “lah…kalau
zikiran sambil lihat ka’bah saya sih sering itu, jelas dan live.”
Ahmad: “ngawur kamu
Dul, lah wong kamu itu masih barusan belajar dzikir, kok langsung sakti, ora percoyo aku Dul.”
Abdul: “Sumpah….aku
gak bohong Mad, dan bisa aku tunjukkan padamu sekarang.”
Ahmad: “ora
percoyo aku, lah orang-orang yang belajar zikir itu mesti berbulan-bulan
dan bertahun-tahun untuk bisa seperti itu Dul.”
Abdul: “demi Allah Mad, aku itu setiap dzikir malam
selalu lihat ka’bah secara langsung”
Ahmad: “masya Allah hebat kamu Dul, berarti kamu
termasuk orang-orang pilihan, bisa kamu ajarkan padaku Dul?”
Abdul: “bisa, sangat bisa, gampang kok, tapi ada
syaratnya”
Ahmad: “walah Dul…Dul, teman sendiri kok masih ada
syaratnya sih. Yo wis ku gellem, opo?”
Abdul: “mantap,,,, ini syaratnya Mad, habis ku
beritahu syaratnya, kamu harus traktir aku minum kopi sama makan nasi pecel,
lapar aku ini, lapar,,, hehe”
Ahmad: “tak
kiro syarati poso dul, e…malah traktir makan awakmu. Trus caranya gimana?”
Abdul: “ini dia caranya…..jreng, jreng…..!!!,” Abdul
menunjukkan sesuatu ke ahmad berupa handpone miliknya.
Ahmad: “jangkrik…..!!!,
aku ketipu cuk, dadi selama ini awakmu nonton youtube live in Mekkah……!!!, jangkrik
temen awakmu iku….tak kiro awakmu sakti mandraguna, eh malah aku ketipu. Hahahahahaahah.”
Abdul: “hahahahahaha, tapi ingat janji lo mad, traktir
kopi and makan peccel.”
Ahmad: “haduh……yo wislah, ayo berangkat toh ku juga
laper nie.
Abdul: “heheheheehe….., mantap”
0 komentar:
Posting Komentar