Selasa, 11 Oktober 2016

INI RAHASIA

"Ahmad, sudahlah kita pulang!, mau apalagi kita disini". Gerutu Udin padaku. Ia sepertinya sangat marah karna menunggu terlalu lama. Tingkahnya sudah tak karuan, pisau yang digenggam ia sabet kesana kemari hingga melukai berapa tumbuhan.

"Tunggulah sebentar, pasti ia datang, apakah kita akan pergi meninggalkannya?". Aku mencoba menyakinkanya, meskipun aku sedikit ragu pada keyakinanku itu.

"Baiklah, kita tunggu 15 menit lagi, jika ia tak muncul juga, kita pergi atau aku sendiri yang pergi, biar kalian disini yang menunggu datangnya ke ajaiban...." balas Udin padaku.

Tiba-tiba, Tarno datang dari kejauhan dengan berlari padaku dan Udin. Ia seperti dikejar oleh sesuatu, hingga kami berdua merasa ketakutan.

"Ayo cepat lari", perintah tarno pada kami.

"Gmana apa sudah dapat barangnya, dan kenapa kita berlari?" Ungkapku dengan nada penasaran pada Tarno.

"Entar aku ceritakan ketika kita sudah ditempat yang aman". Tarno enggan bercerita, ia terus saja berlari dengan membawa sesuatu ditangannya.

"Cepat-cepat....!", tarno berlari seperti syetan, ia tak punya lelah sedikitpun. Kami sangat menyesal, kenapa dulu tak pernah lari pagi seperti yang Tarno sering lakukan.

"Sudahlah tarno, istirahat sebentar, aku tak sanggup lagi untuk berlari", Udin mengiba pada Tarno dan akupun mengiyakannya.

"Ia Tarno, kita harus istirahat, apa kamu rela kita mati berlari?", ucapan ngawurku keluar begitu saja, sehingga membuat Tarno emosi.

"Anjrit, siapa yang mau kalian mati, aku malah gak ingin kalian mati di tempat ini, jika kita tak berlari bagaimana kita bisa hidup?". Tarno sangat gugup dan emosi berkata seperti itu. Ia sadar bahaya yang mengintai dibelakang. Ia tak mau teman-teman yang ia sayangi tewas terbunuh.

"Ada apa ini Tarno?, kenapa kita harus mati, toh hanya barang kecil yang kita ambil, dan itu memang hak kita...hak kita!", akupun berteriak padanya mengungkapkan kekesalan dan juga kelelahan tiada tara.

"Ia Tarno ada apa, katakan saja pada kami, sepertinya kamu mendapatkan sesuatu yang lebih ketika kau pergi kesana". Udin menyela pembicaraan kami, ia juga penasaran tentang apa yang didapat oleh Tarno.

"Aku tidak bisa mengatakannya disini, ini sesuatu yang sangat penting, jika ini diketahui oleh khalayak maka akan terjadi perubahan yang sangat besar." Tarno gemetar berkata itu, beban psikis yang ia sembunyikan tampak jelas dihadapan kami. Ia benar-benar ketakutan. Sangat ketakutan.

"Hanya kita bertiga disini Tarno, cepat katakan !!," bentak udin pada tarno, sambil ia mengacungkan pisaunya.

"Sabar udin, biarkan Tarno bernapas dulu," aku mencoba membuat mereka tenang. Kemudian ku ajak mereka ketepian sungai yang dekat. Kamipun minum bersama, air sungai yang begitu jernih dan segar.

"Ayo kita tempat yang sepi", ajak Tarno pada kami.

Ditempat yang kami tuju, sangat begitu asri sepi. Pohon-pohon menjulang tinggi. Nyanyian burung begitu merdu sehingga menambah ke elokan sepi di tempat ini. "Ayo katakan pada kami, ada apa ini sebenarnya?", pinta udin pada Tarno yang sudah kehilangan rasa sabar.

Entah apa yang dilakukan Tarno, ia berlari-lari kecil, melihat kesana-kemari seperti mencari sesuatu. Sehingga membuat kami jadi heran. "Apa yang kau cari Tarno?". Aku bertanya padanya.

"Tidak ada, aku hanya melihat-lihat, takutnya yang mengejar kita ada disini". Balasnya padaku. Ia kemudian menghampiri kami yang sedang duduk berdua, tepat berada di depan kami.

"Baiklah akan aku ceritakan, dengarkan baik-baik". Tarno memulai pembicaaran kisahnya pada kami.

"Tapi ingat, INI RAHASIA". serentak dengan ucapnya, terdengar suara peluru yang melobangi dada Tarno. Kami terkejut, sangat terkejut. Darah dimana-mana, tarno sudah meninggal, ia terkena peluru.

"Tarno bangun, bangun, bangun, jangan tinggalkan kami seperti ini, ada apa ini...!!!". Aku menangis, Udinpun juga. Kami tak tau yang harus kami lakukan. Suasana ini begitu mencekam di mata kami.

Tak terasa disamping kami sudah ada beberapa pria yang gagah, wajahnya begitu sangar. Mereka membawa senapan laras panjang. "Apa kalian temannya!!!." Bentak sesorang yang berkepala plontos kepada kami.

"Ia, pak," sahut kami berdua serempak. Dengan wajah tertunduk takut kami hanya pasrah saja apa yang akan terjadi. Toh kami tidak tau apa-apa tentang masalah ini.

"Apa, yang temanmu katakan pada kalian?!!!" Bentak sie kepala plontos itu pada kami, sepertinya ia sosok pimpinan bagi orang-orang yang mengitari kami ini.

"Tidak ada pak, bener, tidak ada". Ucap Udin dengan terbata-bata.

"Bohong kamu....!"

"Benar pak, tidak ada, cuman terakhir ia berkata pada kami, INI RAHASIA". Balas Udin pada pak plontos.

Doar....doar....!!!, dua kali suara itu terdengar. Aku mengangkat wajahku, udin berdarah. Aku refleks menangkap tubuhnya yang hampir jatuh ke tanah. "Udin.........,udin......bangun udin....jangan tinggalkan aku disini...., apa yang kalian lakukan, kami benar benar tidak tau apa-apa.....!!!" Aku berteriak sekuat tenaga, kupandangi mereka satu persatu, dengan sorot mata kebencian.

Plak...!, sie kepala plontos itu menamparku, akupun terjatuh ke tanah. "Hahahahaha, jika kau tak ungkapkan apa yang diungkap temanmu padaku, maka kau akan menyusul mereka!!!", ia mengancamku dengan wajah bengisnya.

"Aku benar-benar tidak tau apa-apa".

"Bohong,,,cepat katakan apa yang temanmu katakan?!!!".

"INI RAHASIA....!!!".

Doar....!, terdengar lagi suara itu. Aku lihat dadaku ternyata sudah berdarah, akupun jatuh ketanah. Pelan-pelan mataku tertutup dan kudengar tawa serta langkah kaki mereka pergi.

"Akhirnya, mereka mati, sudah tidak ada lagi yang tau akan rahasia ini, hahaha,".

Akupun tak sanggup lagi menahan sakit tembakan ini. Akupun terpejam hilang kesadaran. Tanpa tau sebuah kebenaran tentang SUATU RAHASIA.



0 komentar:

Posting Komentar