"Ahmad, sudahlah kita pulang!, mau apalagi kita
disini". Gerutu Udin padaku. Ia sepertinya sangat marah karna menunggu
terlalu lama. Tingkahnya sudah tak karuan, pisau yang digenggam ia sabet kesana
kemari hingga melukai berapa tumbuhan.
"Tunggulah sebentar, pasti ia datang, apakah kita akan
pergi meninggalkannya?". Aku mencoba menyakinkanya, meskipun aku sedikit
ragu pada keyakinanku itu.
"Baiklah, kita tunggu 15 menit lagi, jika ia tak muncul
juga, kita pergi atau aku sendiri yang pergi, biar kalian disini yang menunggu
datangnya ke ajaiban...." balas Udin padaku.
Tiba-tiba, Tarno datang dari kejauhan dengan berlari padaku
dan Udin. Ia seperti dikejar oleh sesuatu, hingga kami berdua merasa
ketakutan.
"Ayo cepat lari", perintah tarno pada kami.
"Gmana apa sudah dapat barangnya, dan kenapa kita
berlari?" Ungkapku dengan nada penasaran pada Tarno.
"Entar aku ceritakan ketika kita sudah ditempat yang
aman". Tarno enggan bercerita, ia terus saja berlari dengan membawa
sesuatu ditangannya.
"Cepat-cepat....!", tarno berlari seperti syetan,
ia tak punya lelah sedikitpun. Kami sangat menyesal, kenapa dulu tak pernah
lari pagi seperti yang Tarno sering lakukan.
"Sudahlah tarno, istirahat sebentar, aku tak sanggup
lagi untuk berlari", Udin mengiba pada Tarno dan akupun mengiyakannya.
"Ia Tarno, kita harus istirahat, apa kamu rela kita
mati berlari?", ucapan ngawurku keluar begitu saja, sehingga membuat Tarno
emosi.
"Anjrit, siapa yang mau kalian mati, aku malah gak
ingin kalian mati di tempat ini, jika kita tak berlari bagaimana kita bisa
hidup?". Tarno sangat gugup dan emosi berkata seperti itu. Ia sadar bahaya
yang mengintai dibelakang. Ia tak mau teman-teman yang ia sayangi tewas
terbunuh.
"Ada apa ini Tarno?, kenapa kita harus mati, toh hanya
barang kecil yang kita ambil, dan itu memang hak kita...hak kita!", akupun
berteriak padanya mengungkapkan kekesalan dan juga kelelahan tiada tara.
"Ia Tarno ada apa, katakan saja pada kami, sepertinya
kamu mendapatkan sesuatu yang lebih ketika kau pergi kesana". Udin menyela
pembicaraan kami, ia juga penasaran tentang apa yang didapat oleh Tarno.
"Aku tidak bisa mengatakannya disini, ini sesuatu yang
sangat penting, jika ini diketahui oleh khalayak maka akan terjadi perubahan
yang sangat besar." Tarno gemetar berkata itu, beban psikis yang ia
sembunyikan tampak jelas dihadapan kami. Ia benar-benar ketakutan. Sangat
ketakutan.
"Hanya kita bertiga disini Tarno, cepat katakan
!!," bentak udin pada tarno, sambil ia mengacungkan pisaunya.
"Sabar udin, biarkan Tarno bernapas dulu," aku
mencoba membuat mereka tenang. Kemudian ku ajak mereka ketepian sungai yang
dekat. Kamipun minum bersama, air sungai yang begitu jernih dan segar.
"Ayo kita tempat yang sepi", ajak Tarno pada kami.
Ditempat yang kami tuju, sangat begitu asri sepi.
Pohon-pohon menjulang tinggi. Nyanyian burung begitu merdu sehingga menambah ke
elokan sepi di tempat ini. "Ayo katakan pada kami, ada apa ini
sebenarnya?", pinta udin pada Tarno yang sudah kehilangan rasa sabar.
Entah apa yang dilakukan Tarno, ia berlari-lari kecil,
melihat kesana-kemari seperti mencari sesuatu. Sehingga membuat kami jadi
heran. "Apa yang kau cari Tarno?". Aku bertanya padanya.
"Tidak ada, aku hanya melihat-lihat, takutnya yang
mengejar kita ada disini". Balasnya padaku. Ia kemudian menghampiri kami
yang sedang duduk berdua, tepat berada di depan kami.
"Baiklah akan aku ceritakan, dengarkan baik-baik".
Tarno memulai pembicaaran kisahnya pada kami.
"Tapi ingat, INI RAHASIA". serentak dengan
ucapnya, terdengar suara peluru yang melobangi dada Tarno. Kami terkejut,
sangat terkejut. Darah dimana-mana, tarno sudah meninggal, ia terkena peluru.
"Tarno bangun, bangun, bangun, jangan tinggalkan kami
seperti ini, ada apa ini...!!!". Aku menangis, Udinpun juga. Kami tak tau
yang harus kami lakukan. Suasana ini begitu mencekam di mata kami.
Tak terasa disamping kami sudah ada beberapa pria yang
gagah, wajahnya begitu sangar. Mereka membawa senapan laras panjang. "Apa
kalian temannya!!!." Bentak sesorang yang berkepala plontos kepada kami.
"Ia, pak," sahut kami berdua serempak. Dengan
wajah tertunduk takut kami hanya pasrah saja apa yang akan terjadi. Toh kami
tidak tau apa-apa tentang masalah ini.
"Apa, yang temanmu katakan pada kalian?!!!" Bentak
sie kepala plontos itu pada kami, sepertinya ia sosok pimpinan bagi orang-orang
yang mengitari kami ini.
"Tidak ada pak, bener, tidak ada". Ucap Udin
dengan terbata-bata.
"Bohong kamu....!"
"Benar pak, tidak ada, cuman terakhir ia berkata pada
kami, INI RAHASIA". Balas Udin pada pak plontos.
Doar....doar....!!!, dua kali suara itu terdengar. Aku mengangkat
wajahku, udin berdarah. Aku refleks menangkap tubuhnya yang hampir jatuh ke
tanah. "Udin.........,udin......bangun udin....jangan tinggalkan aku
disini...., apa yang kalian lakukan, kami benar benar tidak tau
apa-apa.....!!!" Aku berteriak sekuat tenaga, kupandangi mereka satu
persatu, dengan sorot mata kebencian.
Plak...!, sie kepala plontos itu menamparku, akupun terjatuh
ke tanah. "Hahahahaha, jika kau tak ungkapkan apa yang diungkap temanmu
padaku, maka kau akan menyusul mereka!!!", ia mengancamku dengan wajah
bengisnya.
"Aku benar-benar tidak tau apa-apa".
"Bohong,,,cepat katakan apa yang temanmu
katakan?!!!".
"INI RAHASIA....!!!".
Doar....!, terdengar lagi suara itu. Aku lihat dadaku
ternyata sudah berdarah, akupun jatuh ketanah. Pelan-pelan mataku tertutup dan
kudengar tawa serta langkah kaki mereka pergi.
"Akhirnya, mereka mati, sudah tidak ada lagi yang tau
akan rahasia ini, hahaha,".
Akupun tak sanggup lagi menahan sakit tembakan ini. Akupun
terpejam hilang kesadaran. Tanpa tau sebuah kebenaran tentang SUATU RAHASIA.
0 komentar:
Posting Komentar