A.
Pendahuluan
Semua Muslim percaya bahwa ajaran Islam adalah suatu
norma ideal yang dapat diadaptasi oleh bangsa apa saja dan kapan saja. Ajaran
Islam bersifat universal dan tidak bertentangan dengan rasio. Semua kaum Muslim
harus selalu membangun peradaban yang bertumpu pada pesan-pesan abadi itu. Persoalannya,
bagaimana semestinya mendekati dan mengkaji aspek-aspek peradaban, kesejarahan,
politik, ekonomi dan sosial Islam yang dibangun atas universalitas itu?
Sekian banyak cendikiawan Muslim, dalam arti pemikir,
yang memiliki komitmen cukup baik kepada Islam dan juga keahlian dalam
ilmu-ilmu agama Islam, yang tetap berusaha mengembangkan pemikirannya untuk
membangun peradaban yang didasarkan atas nilai-nilai universalitas Islam
tersebut. Salah satu dari cendikiawan itu adalah Hassan Hanafi, yang berusaha mengambil
inisiatif dengan memunculkan suatu gagasan tentang keharusan bagi Islam untuk
mengembangkan wawasan kehidupan yang progresif dengan dimensi pembebasan.
Dengan gagasan tersebut, baginya, Islam bukan sebagai institusi penyerahan diri
yang membuat kaum Muslimin menjadi tidak berdaya dalam menghadapi kekuatan arus
perkembangan masyarakat, tetapi Islam merupakan sebuah basis gerakan ideologis
populistik yang mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Proyek besar
itu dia tempuh dengan gayanya yang revolusioner dan menembus semua dimensi
ajaran keagamaan Islam.
Hassan Hanafi adalah Guru Besar pada fakultas Filsafat
Universitas Kairo. Ia lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, di dekat Benteng
Salahuddin, daerah perkampungan Al-Azhar. Kota ini merupakan tempat bertemunya
para mahasiswa muslim dari seluruh dunia yang ingin belajar, terutama di
Universitas Al-Azhar. Meskipun lingkungan sosialnya dapat dikatakan tidak
terlalu mendukung, tradisi keilmuan berkembang di sana sejak lama. Secara
historis dan kultural, kota Mesir memang telah dipengaruhi peradaban-peradaban
besar sejak masa Fir’aun, Romawi, Bizantium, Arab, Mamluk dan Turki, bahkan
sampai dengan Eropa moderen. Hal ini menunjukkan bahwa Mesir, terutama kota
Kairo, mempunyai arti penting bagi perkembangan awal tradisi keilmuan Hassan
Hanafi.
B.
Pembahasan
1.
Biografi Hassan Hanafi
Hassan Hanafi, sebagaimana disebutkan oleh Abad
Badruzzaman, lahir di Kairo, ibukota Republik Arab Mesir (Jumhuriyyat Mishr
al-‘Arabiyah), pada tanggal 13 Februari 1935.[1] Keluarganya
berasal dari provinsi Banu Swaif, salah satu provinsi di Mesir bagian selatan.
Namun kemudian mereka kemudian pindah ke Kairo. Kakek Hassan Hanafi berasal
dari al-Maghrib (Maroko), sedangkan neneknya berasal dari kabilah Bani Mur.
Kakek Hassan Hanafi yang orang Maroko itu memutuskan untuk menetap di Mesir
ketika ia singgah di negeri itu sepulang menunaikan ibadah haji. Dalam
persinggahan itu pula ia menikah dengan seseorang yang kemudian menjadi nenek
Hassan Hanafi.
Pada usia sekitar lima tahun. Hassan Hanafi
mulai menghafal Al-Qur’an dibawah bimbingan Syaikh Sayyid. Sentuhan awal Hassan
Hanafi dengan Al-Qur’an itu berlangsung di jalanan al-Banhawi kompleks bab
al-Sya’riyah, pinggiran kota Kairo bagian selatan. Pendidikan dasarnya ia
selesaikan selama lima tahun di Madrasah Sulayman Ghawish, Bab al-Futuh, suatu
daerah yang berbatasan dengan Benteng Salahuddin. Setamat dari sekolah itu,
Hassan Hanafi masuk ke sekolah pendidikan guru Al-Mu’allimin. Namun ketika
hendak memasuki tahun kelima, tahun terakhir pendidikan di sekolah tersebut, ia
pindah mengikuti jejak kakaknya ke sekolah Silahdar. Sekolah barunya itu berada di komplek Al-Hakim bin Amrillah.
Di sekolah itu pula Hassan Hanafi banyak belajar bahasa asing. Pendidikan menengah
atasnya ditempuh di Sekolah Menengah Atas Khalil Agha.[2]
Pada tahun 1946, memasuki usia sekitar sebelas
tahun, Hassan Hanafi sudah ikut serta dalam demonstrasi bersama buruh dan
mahasiswa. Di usianya masih relatif muda, ia sudah memandang perlunya tindakan
turun ke jalan, tidak cukup hanya duduk belajar di bangku sekolah. Ilmu yang
dimiliki di sekolah harus didedikasikan untuk membela tanah air. Pada tahun
1948, Hanafi mencoba mendaftarkan diri
ke Organisasi Pemuda Islam (Jam’iyah Syubban al-Muslimin) untuk bergabung
dengan para prajurit sukarelawan yang membantu perjuangan bangsa Palestina
melawan kaum Zionis. Namun permohonannya
ditolak. Usia masih terlalu muda untuk menjadi pejuang. Itulah alasan penolakan
tersebut.[3]
Gagal ikut berjuang ke Palestina, Hanafi
menyalurkan semangat revolusionernya ke dalam gerakan-gerakan politik-keagamaan
di negaranya. Ia berkenalan dengan pemikiran dan aktivitas Ikhwan al-Muslimin
(Moslem Brothers) di Khalil Agha. Pada tahun 1952 ia tercatat
sebagai anggota resmi gerakan itu. Ketika
menjadi mahasiswa di Universitas Kairo, Hassan Hanafi terus terlibat aktif
dalam berbagai aktivitas Ikhwan hingga organisasi itu dilarang oleh Pemerintah
Mesir.[4] Pada
tahun 1951, Hassan Hanafi mendapat kesempatan untuk ikut dalam perjuangan
pembebasan al-Qanat (terusan Suez).
Waktu itu ia sempat belajar memegang senjata di Fakultas Teknik di Abbasiyah,
Kairo bagian selatan. Dalam perjuangan
pembebasan itu Hassan Hanafi ikut mengantar dan mensholatkan jenazah para
syahid di masjid al-Kukhya dengan mengenakan pakaian kumal sambil membawa
tongkat yang dibuat mirip senapan. Pada bulan Januari 1952 di kota Kairo terjadi kebakaran hebat. Kebakaran
itu konon disengaja guna mengalihkan perhatian gerakan nasionalisme Mesir yang
anti pemerintah yang bersekongkol dengan kolonialis Inggris. Dalam hal itu,
Hassan Hanafi jelas berada di pihak kaum nasionalis yang memperjuangkan nasib kaum lemah. Ia tidak suka dengan
kekuasaan kaum istana yang bersekongkol dengan Inggris.
Pada musim panas Juli 1952 terjadi peristiwa
penting dalam sejarah pergerakan politk di Mesir. Peristiwa itu kemudian
dikenal dengan nama “Revolusi Juli” – suatu revolusi yang telah merubah
konstelasi sosial, politik dan kulturah yang cukup mendasar. Dan agama termasuk
pula di dalamnya. Revolusi itu telah merubah bentuk pemerintahan Mesir dari Monarki-Kerajaan
menjadi Republik-Demokrasi. Oleh Hassan Hanafi, Revolusi Juli dijadikan sebagai
titik awal untuk membahas pergulatan pemikiran dan pergolakan politik dalam
kaitannya dengan agama di Mesir. Pikiran-pikiran Hassan Hanafi tersebut
kemudian dibukukan dengan judul Al-Din
wa al-Tsawrah fi Mishr 1952-1981, yang dicetak dalam delapan volume.[5]
Gelar kesarjanaannya ia raih pada tanggal 11
Oktober 1956 dari Kulliyat al-Adab (Fakultas Sastra) Jurusan Filsafat Universitas
Kairo. Setelah itu Hassan Hanafi pergi ke Perancis untuk memperdalam filsafat
di Universitas Sorbonne, dengan spesialisasi Filsafat Barat Modern dan
Pra-Modern. Selama kurang dari sepuluh tahun Hassan Hanafi tinggal di Perancis,
salah satu Negara tempat orientalis berada. Dalam rentang waktu tersebut,
tradisi, pemikiran, dan keilmuan barat dikuasainya. Ia sempat pula mengajar
Bahasa Arab di Ecole des Langues Orientales di Paris. Pada tahun-tahun awal
keberadaannya di Perancis, Hassan Hanafi sempat mengikuti kursus musik di salah
satu sekolah tinggi musik di Paris. Hal itu tak lain karena Hassan Hanafi
memiliki minat pada dunia seni. Keluarganya pun terkenal sebagai keluarga
musisi. Begitu seriusnya ia menekuni bidang itu sampai-sampai ia pernah
bercita-cita menjadi musisi dan komponis dunia. Pagi hari kursus musik,
siangnya kuliah, dan sore hari ia gunakan untuk membaca atau mencipta suatu
simponi musik. Ia harus membagi waktu untuk kursus musik, kuliah, membaca dan
menggubah. Setelah dua tahun, dengan kesibukan seperti itu, Hassan Hanafi
sempat terserang TBC akibat kelelahan. Dokter menyarankan untuk menentukan
pilihan antara musik atau filsafat. Hassan Hanafi akhirnya memilih filsafat,
sebab dalam filsafat ia masih dapat menemukan pandangan yang apresiatif
terhadap aspek estetis kehidupan. Pandangan itu ia temukan dalam aliran
Filsafat Romantisme.[6]
Reputasi internasionalnya sebagai pemikir
ternama mengantarkan Hassan Hanafi untuk merengkuh beberapa jabatan guru besar
luar biasa di berbagai perguruan tinggi diluar Mesir. Pada tahun 1969, Hassan
Hanafi menjadi professor tamu di Perancis. Kecuali itu, Hassan Hanafi pernah
mengajar di Belgia (1970), Amerika Serikat (1971-1975), Kuwait (1979), Maroko
(1982-1984), Jepang (1984-1985) dan Uni Emirat Arab (1985). Hassan Hanafi juga
pernah berkunjung ke negeri Belanda, Swedia, Portugal, Spanyol, India, Sudan,
Saudi Arabia, dan juga Indonesia. Kunjungan-kunjungan itu berlangsung antara
1980-1987. Dalam berbagai kunjungan tersebut, Hassan Hanafi banyak bertemu
dengan para pemikir ternama, yang kemudian memberi sumbangan pada keluasan
tentang persoalan hakiki yang dihadapi oleh umat manusia umumnya, dan umat
Islam khususnya.
Pada tahun 1975, Hassan Hanafi kembali ke
Mesir dengan membawa obsesi lamanya, yaitu membangun kesadaran diri (al-wa’y)
lewat penelusuran dan pengkajian serta penafsiran ulang atas tradisi klasik
(turats) di satu sisi, dan menjadikan Barat sebagai objek kajian sekaligus
mitra sejajar dalam hubungan Timur (Islam) – Barat. Ia pun mulai menulis buku AlTurats
al-Tajdid. Namun, naskah buku tersebut belum sempat selesai ditulis, karena ia
kemudian (antara tahun 1976-1981) ikut aktif
dalam gerakan anti-pemerintahan Presiden Anwar Sadat yang dinilainya pro
Barat dan bersedia untuk berdamai dengan Israel, musuh
bebuyutan bangsa Arab.
2.
Perkembangan Pemikiran
dan Karya-Karyanya
Untuk
memudahkan uraian pada bagian ini, kita dapat mengklasifikasikan karya-karya
Hanafi dalam tiga periode seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa penulis
yang telah lebih dulu mengkaji pemikiran tokoh ini: Periode pertama berlangsung
pada tahun-tahun 1960-an; periode kedua pada tahun-tahun 1970-an, dan periode
ketiga dari tahun-tahun 1980-an sampai dengan 1990-an.
Pada
awal dasawarsa 1960-an pemikiran Hanafi dipengaruhi oleh faham-faham dominan
yang berkembang di Mesir, yaitu nasionalistik-sosialistik populistik yang
juga dirumuskan sebagai ideologi Pan Arabisme,7
dan oleh situasi nasional yang kurang menguntungkan setelah kekalahan Mesir
dalam perang melawan Israel pada tahun 1967. Pada awal dasawarsa ini pula
(1956-1966), sebagaimana telah dikemukakan, Hanafi sedang berada dalam
masa-masa belajar di Perancis. Di Perancis inilah, Hanafi lebih banyak lagi
menekuni bidang-bidang filsafat dan ilmu sosial dalam kaitannya dengan hasrat
dan usahanya untuk melakukan rekonstruksi pemikiran Islam.
Untuk
tujuan rekonstruksi itu, selama berada di Perancis ia mengadakan penelitian
tentang, terutama, metode interpretasi sebagai upaya pembaharuan bidang ushul
fikih (teori hukum Islam, Islamic legal theory) dan tentang
fenomenologi sebagai metode untuk memahami agama dalam konteks realitas
kontemporer. Penelitian itu sekaligus merupakan upayanya untuk meraih gelar
doktor pada Universitas Sorbonne (Perancis), dan ia berhasil menulis disertasi
yang berjudul Essai sur la Methode d’ Exegese (Esai
tentang Metode Penafsiran). Karya setebal 900 halaman itu memperoleh
penghargaan sebagai karya ilmiah terbaik di Mesir pada tahun 1961. Dalam
karyanya itu jelas Hanafi berupaya menghadapkan ilmu ushul fikih pada mazhab
filsafat fenomenologi Edmund Husserl.8
Pada
fase awal pemikirannya itu, tulisan-tulisan Hanafi masih bersifat ilmiah murni.
Baru pada akhir dasawarsa itu ia mulai berbicara tentang keharusan Islam untuk
mengembangkan wawasan kehidupan yang progresif dan berdimensi pembebasan (taharrur,
liberation).9 Ia mensyaratkan
fungsi pembebasan jika memang itu yang diinginkan Islam agar dapat membawa
masyarakat pada kebebasan dan keadilan, khususnya keadilan sosial, sebagai
ukuran utamanya. Struktur yang populistik adalah manifestasi kehidupannya dan
kebulatan kerangka pemikiran sebagai resep utamanya.10
Hanafi sampai pada kesimpulan bahwa Islam sebaiknya berfungsi orientatif bagi
ideologi populistik yang ada.
Pada
akhir periode ini, dan berlanjut hingga awal periode 1970-an, Hanafi juga
memberikan perhatian utamanya untuk mencari penyebab kekalahan umatIslam dalam
perang melawan Israel tahun 1967. Oleh karena itu, tulisan-tulisannya lebih
bersifat populis. Di awal periode 1970-an, ia banyak menulis artikel di
berbagai media massa, seperti Al Katib, Al-Adab, Al-Fikr al-Mu’ashir, dan
Mimbar Al-Islam. Pada tahun 1976, tulisan-tulisan itu diterbitkan
sebagai sebuah buku dengan judul Qadhaya Mu’ashirat fi Fikrina
al-Mu’ashir. Buku ini memberikan deskripsi tentang realitas
dunia Arab saat itu, analisis tentang tugas para pemikir dalam menanggapi problema
umat, dan tentang pentingnya pembaruan pemikiran Islam untuk menghidupkan
kembafi khazanah tradisional Islam. Kemudian, pada tahun 1977, kembali ia
menerbitkan Qadhaya Mu `ashirat fi al Fikr al-Gharib. Buku
kedua ini mendiskusikan pemikiran para sarjana Barat untuk melihat bagaimana
mereka memahami persoalan masyarakatnya dan kemudian mengadakan pembaruan.
Beberapa pemikir Barat yang ia singgung itu antara lain Spinoza, Voltaire,
Kant, Hegel, Unamuno, Karl Jaspers, Karl Marx, Marx Weber, Edmund Husserl, dan
Herbert Marcuse11
Kedua
buku itu secara keseluruhan merangkum dua pokok pendekatan analisis yang
berkaitan dengan sebab-sebab kekalahan umat Islam; memahami posisi umat lslam
sendiri yang lemah, dan memahami posisi Barat yang superior. Untuk yang pertama
penekanan diberikan pada upaya pemberdayaan umat, terutama dari segi pola
pikirnya, dan bagi yang kedua ia berusaha untuk menunjukkan bagaimana menekan
superioritas Barat dalam segala aspek kehidupan. Kedua pendekatan inilah yang
nantinya melahirkan dua pokok pemikiran baru yang tertuang dalam dua buah
karyanya, yaitu Al-Turats wa al-Tajdid (Tradisi dan Pembaruan),
dan Al-Istighrab (Oksidentalisme).
Pada
periode ini, yaitu antara tahun-tahun 1971-1975, Hanafi juga menganalisis
sebab-sebab ketegangan antara berbagai kelompok kepentingan di Mesir, terutama
antara kekuatan Islam radikal dengan pemerintah. Pada saat yang sama situasi
politik Mesir mengalami ketidakstabilan yang ditandai dengan beberapa peristiwa
penting yang berkaitan dengan sikap Anwar Sadat yang pro-Barat dan memberikan
kelonggaran pada Israel, hingga ia terbunuh pada Oktober 1981. Keadaan
itumembawa Hanafi pada pemikiran bahwa seorang ilmuan juga harus mempunyai
tanggung jawab politik terhadap nasib bangsanya. Untuk itulah kemudian ia
menulis Al-Din wa al-Tsaurah fi Mishr 1952-1981. Karya ini terdiri dari
8 jilid yang merupakan himpunan berbagai artikel yang ditulis antara tahun 1976
sampai 1981 dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1987. Karya itu berisi
pembicaraan dan analisis tentang kebudayaan nasional dan hubungannya dengan
agama, hubungan antara agama dengan perkembangan nasioanlisme, tentang gagasan
mengenai gerakan “Kiri Keagamaan” yang membahas gerakan-gerakan keagamaan
kontemporer, fundamentalisme Islam, serta “Kiri Islam dan Integritas Nasional”.
Dalam analisisnya Hanafi menemukan bahwa salah satu penyebab utama konflik
berkepanjangan di Mesir adalah tarik-menarik antara ideologi Islam dan Barat
dan ideologi sosialisme. Ia juga memberikan bukti-bukti penyebab munculnya
berbagai tragedi politik dan, terakhir, menganalisis penyebab munculnya
radikalisme Islam.
Karya-karya
lain yang ia tulis pada periode ini adalah Religious Dialogue and
Revolution dan Dirasat al-Islamiyyah. Buku pertama
berisi pikiran-pikiran yang ditulisnya antara tahun 1972-1976 ketika ia berada
di Amerika Serikat, dan terbit pertama kali pada tahun 1977. Pada bagian
pertama buku ini ia merekomendasikan metode hermeneutika sebagai metode dialog antara
Islam, Kristen, dan Yahudi. Sedangkan bagian kedua secara khusus membicarakan
hubungan antara agama dengan revolusi, dan lagi-lagi ia menawarkan fenomenologi
sebagai metode untuk menyikapi dan menafsirkan realitas umat Islam.12
Sementara
itu Dirasat Islamiyyah, yang ditulis sejak tahun 1978 dan terbit tahun
1981, memuat deskripsi dan analisis pembaruan terhadap ilmu-ilinu keislaman
klasik, seperti ushul fikih, ilmu-ilmu ushuluddin, dan filsafat. Dimulai dengan
pendekatan historis untuk melihat perkembangannya, Hanafi berbicara tentang
upaya rekonstruksi atas ilmu-ilmu tersebut untuk disesuaikan dengari realitas
kontemporer.
Periode
selanjutnya, yaitu dasawarsa 1980-an sampai dengan awal 1990-an,
dilatarbelakangi oleh kondisi politik yang relatif lebih stabil ketimbang
masa-masa sebelumnya. Dalam periode ini, Hanafi mulai menulis Al-Turats wa
al-Tajdid yang terbit pertama kali tahun 1980. Buku ini merupakan landasan
teoretis yang memuat dasar-dasar ide pembaharuan dan langkah-langkahnya.
Kemudian, ia menulis Al- Yasar Al-lslamiy (Kiri Islam), sebuah tulisan
yang lebih merupakan sebuah “manifesto politik” yang berbau ideologis, sebagaimana
telah saya kemukakan secara singkat di atas.
Jika
Kiri Islam baru merupakan pokok-pokok pikiran yang belum memberikan rincian
dari program pembaruannya, buku Min Al-Aqidah ila Al-Tsaurah (5 jilid),
yang ditulisnya selama hampir sepuluh tahun dan baru terbit pada tahun 1988.
Buku ini memuat uraian terperinci tentang pokok-pokok pembaruan yang ia
canangkan dan termuat dalam kedua karyanya yang terdahulu. Oleh karena itu,
bukan tanpa alasan jika buku ini dikatakan sebagai karya Hanafi yang paling monumental.
Satu
bagian pokok bahasan yang sangat penting dari buku ini adalah gagasan
rekonstruksi ilmu kalam. Pertama-tama ia mencoba menjelaskan seluruh karya dan
aliran ilmu kalam, baik dari sisi kemunculannya, aspek isi dan metodologi
maupun perkembangannya. Lalu ia melakukan analisis untuk melihat kelebihan dan
kekurangannya, terutama relevansinya dengan konteks modernitas. Salah satu
kesimpulannya adalah bahwa pemikiran kalam klasik masih sangat teoretis, elitis
dan statis secara konsepsional. Ia merekomendasikan sebuah teologi atau ilmu
kalam yang antroposentris,13 populis, dan transformatif.
Selanjutnya,
pada tahun-tahun 1985-1987, Hanafi menulis banyak artikel yang ia presentasikan
dalam berbagai seminar di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Perancis,
Belanda, Timor Tengah, Jepang, termasuk Indonesia. Kumpulan tulisan itu
kemudian disusun menjadi sebuah.buku yang berjudul Religion, Ideology,
and Development yang terbit pada tahun 1993. Beberapa artikel
lainnya juga tersusun menjadi buku dan diberi judul Islam in the Modern
World (2 jilid). Selain berisi kajian-kajian agama dan filsafat, dalam
karya-karyanya yang terakhir pemikiran Hanafi juga berisi kajian-kajian ilmu
sosial, seperti ekonomi dan teknologi. Fokus pemikiran Hanafi pada karya karya
terakhir ini lebih tertuju pada upaya untuk meletakkan posisi agama serta
fungsinya dalam pembangunan di negara-negara dunia ketiga.
Pada
perkembangan selanjutnya, Hanafi tidak lagi berbicara tentang ideologi tertentu
melainkan tentang paradigma baru yang sesuai dengan ajaran Islam sendiri maupun
kebutuhan hakiki kaum muslimin. Sublimasi pemikiran dalam diri Hanafi ini
antara lain didorong oleh maraknya wacana nasionalisme-pragmatik Anwar Sadat
yang menggeser popularitas paham sosialisme Nasser di Mesir pada dasawarsa
1970-an. Paradigma baru ini ia kembangkan sejak paroh kedua dasawarsa 1980-an
hingga sekarang.14
Pandangan
universalistik ini di satu sisi ditopang oleh upaya pengintegrasian wawasan
keislaman dari kehidupan kaum muslimin ke dalam upaya penegakan martabat
manusia melalui pencapaian otonomi individual bagi warga masyarakat; penegakan
kedaulatan hukum, penghargaan pada HAM, dan penguatan (empowerment) bagi
kekuatan massa rakyat jelata.15
Pada
sisi lain, paradigma universalistik yang diinginkan Hanafi harus dimulai dari
pengembangan epistemologi ilmu pengetahuan baru. Orang Islam, menurut Hanafi,
tidak butuh hanya sekadar menerima dan mengambil alih paradigma ilmu
pengetahuan modern Barat yang bertumpu pada materialisme, melainkan juga harus
mengikis habis penolakan mereka terhadap peradaban ilmu pengetahuan Arab.
Seleksi dan dialog konstruktif dengan peradaban Barat itu dibutuhkan untuk
mengenal dunia Barat dengan setepat-tepatnya. Dan upaya pengenalan itu sebagai
unit kajian ilmiah, berbentuk ajakan kepada ilmu-ilmu kebaratan (al-Istighrab,
Oksidentalisme)16 sebagai imbangan bagi ilmu-ilmu ketimuran (al-Istisyraq,
Orientalisme). Oksidentalisme dimaksudkan untuk mengetahui peradaban Barat
sebagaimana adanya, sehingga dari pendekatan ini akan muncul kemampuan
mengembangkan kebijakan yang diperlukan kaum muslimin dalam ukuran jangka
panjang.17 Dengan pandangan ini Hassan Hanafi
memberikan harapan Islam untuk menjadi mitra bagi peradaban-peradaban lain
dalam penciptaan peradaban dunia baru dan universal.
3.
Penutup
Melalui studi pemikirannya, Hassan
Hanafi berusaha “menelanjangi” sekaligus membongkar hegemoni Barat atas dunia
Islam. Pembongkaran atas Hegemoni Barat tersebut tidak dilakukan secara
sosiologis, melainkan filosofis, terutama melalui penelusuran basis
epistemologi, munculnya kesadaran Eropa (Barat) yang telah melahirkan sikap
superioritas Barat atas dunia Timur. Secara ideologis, kajian pemikiran versi
Hanafi diciptakan dengan maksud sebagai alat untuk menghadapi Barat yang
memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran peradaban Timur. Dengan munculnya kajian pemikiran yang
dilakukan Hanafi, diharapkan posisi dunia Timur yang selama ini dijadikan
sebagai objek kajian dan posisi Barat yang menjadi subyek kajian bisa berubah
bentuk relasinya.
Daftar Pustaka
Badruzaman, Abad. Kiri Islam Hassan Hanafi:
Menggugat Kemapanan Agama dan Politik. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005.
Hanafi, Hassan. Qadhaya Mu`ashirat fi
al-Fikr al-Gharb al-Mu’ashir. Beirut: Al-Muassasat al-Jami’iyyat li Dirasat
wa al-Nasyr wa al-Tauzi, 1990.
____________. Dialog Agama dan Revolosi. Jakarta,
Pustaka Firdaus, 1991.
Saenong, Ilham B. Hermeneutika
Pembebasan, Metodologi
Tafsir Al-Qur'an menurut Hassan Hanafi. Jakarta: Teraju, 2002.
Wahid,
Abdurrahman. Pengantar Kiri Islam: Hassan Hanafi dan eksperimentasinya. Jogjakarta: LKIS
1993.
[1] Abad
Badruzaman. Kiri Islam Hassan Hanafi : Menggugat Kemapanan Agama dan Politik,
(Yogyakarta : Tiara Wacana, 2005), 41.
[4] Ilham
B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Metodologi
Tafsir Al-Qur'an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju, 2002), 71.
[6] Abdurrahman
Wahid, Pengantar Kiri Islam: Hassan Hanafi dan eksperimentasinya (Jogjakarta: LKIS
1993), XI.
10Abdurrahman Wahid, Pengantar,
dalam Hassan Hanafi, Agama, Ideologi dan Pembangunan, (Jakarta, P3M,
1991), XI.
11 Hassan Hanafi, Qadhaya
Mu`ashirat fi al-Fikr al-Gharb al-Mu’ashir, (Beirut: Al-Muassasat
al-Jami’iyyat li Dirasat wa al-Nasyr wa al-Tauzi, 1990), 4.
13 Arthur Schopenhauer, seorang
filosof Barat modern, pernah memberikan gagasan agar teologi juga berarti
bermakna dan berisi Antropologi. Maksudnya, ia menghendaki agar teologi tidak
melulu berbicara tentang Tuhan, tetapi harus muIai berbicara tentang manusia.
16 Gagasan awal ini kemudian ia tuangkan
dalam bukunya Al-Mukaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab yang diterbitkan di
Kairo pada tahun 1991.
17 Abdurrahman Wahid, Hassan Hanafi dan
Eksperimentasinya”, XVII.
0 komentar:
Posting Komentar