Rabu, 08 Mei 2019

Masa lalu

Pptq Ali imron
8 mei 2019

Mas bangun, fathan membangunkan tidurku diwaktu pagi. Menu kali ini nasi kotak, dari orang, mungkin dari alumni santri yang pernah mondok disini. Masih jam tiga pagi, sebenarnya malam ramadlan ini gak pengen tidur, masih belum kuat untuk menahan kantuk, jadi tertidur dan dibangunkan waktu saur.

Sebelum makan aku berdoa dulu. Juga, sholat malam terlebih dahulu, mengaji quran sebentar berdoa tidak lupa kulakukan. Pagi ini masih tetap banyak nyamuk di kamarku. Jadikan aku terkadang terganggu dengan itu. Kamarku disebelah barat kamarnya mbah Tarom di aula dalem.

Pada waktu datang dihari pertama, aku gak ada kamar. Ada kamar, tapi bareng santri yang lain, aku gak minta, abah sendiri yang menyuruhku tidur diaula pada waktu pertama datang. Kata abah, entar kamarnya dibersihkan. Q gak tau kamar mana yang dimaksud, ternyata di dalam aula ada kamar pas pojok. Kamarnya enak, ada ranjangnya tanpa kasur tanpa bantal, hanya beralaskan karpet aja. 

Pagi yang cerah, aku keluar kamar memakai sarung, berbaju putih. Pergi ke depan masjid pondok. Melakukan aktifitas seperti biasanya, olahraga. Hanya jalan memutar dengan durasi waktu kurang lebih satu jam. Olahraga yang kulakukan selain lari adalah olah nafas.

Olah nafas ini, gampang-gampang susah, masuk cepat keluar cepat, katanya gus fahmi ya begitu. Yang cepat itu nafasnya. Harus ada gurunya lakukan ini, sukurnya aku sudah dibimbing oleh ahlinya. Syaratnya lagi harus benar-benar fokus dan pasrahkan diri pada Allah, nyatakan bahwa diri adalah pendosa, Allahlah maha pengampun dan yang memberikan pertolongan.

Olah nafas ini nantinya akan mengaktifkan "akal af'al", istilah ini ada pada pembagian akal menurut para pemikir. Tapi disini yang dimaksud mungkin "membangkitka  ruh murni, bisa jadi akal Tuhan" maksudnya jika seorang hamba dekat pada tuhan dan sangat dekat sekali maka akal ini yang akan "on", sehingga Tuhan yang akan menjadi pelindung sebenarnya.

Terbukti pagi ini, aku pasrahkan tubuhku pada Allah, aku minta padanya agar "akal afalku" ini dibangkitkan. Yang terjadi ada reaksi dari dalam tubuhku, seakan-akan seperti ada yang keluar dan beberapa kali aku teriak dengan sangat kencang, mungkin kalau diperkotaan akan ada banyak orang yang datang. Tapi disini aku sendirian diwaktu pagi, semuanya tertidur.

Badanku masih lemah aku jatuh tertidur di di halaman masjid. Sedikit lama hingga mentari pagi menyinariku, aku terhangatkan dan terbangun. Aku mencoba bangkit sendiri, aku kuat dan harus kuat. Aku sehat dan harus sehat. Aku masih punya masa depan, masih ada keinganan untuk lebih bermanfaat bagi sesama, bagi banyak manusia.

Selang berapa lama, Mbah Tarom datang dengan mobil cayla miliknya. Pakek katok selutut, ada tas kecil hitam dan kacamata yang selalu dibawanya. Ia melihat ke arahku yang sedang duduk dedepan rumah. Ia mendatangiku dan menyakan gmn keadaanku. Aku bercerita tentang yang kualami tadi.

"Mbah setiap hari selalu mendoakanmu"
"Enggeh..."

Kemudian mbah tarom bercerita tentang ibuku. Dulu sewaktu waktu ibumu menjual tanah, waktu itu ia pernah janji, mungkin lupa. Zakat penjualan dari hasil tanah akan diserahkan ke pondok ini, tapi, sampai saat ini gak ada. Gak apa-apa, mungkin sekarang sudah habis. Mbah sudah mengiklaskannya, mungkin dari itu hingga keluarga kalian banyak yang sakit.

Aku sebenarnya gak begitu tau dengan janji itu. Apa benar ibuku berjanji akan memberikan uang ke pondok, aku langsung konfirmasi ke beliau. Ku tanyakan kebenarannya, ternyata ibu lupa tentang janji itu. Apa benar apa tidak hanya Allah yang tau. Lantas ibu kusuruh nelpon mbah tarom untuk minta maaf jika itu lupa. Ibukupun mengiyakannya, ia menelpon mbah tarom tuk meminta maaf jika dulu pernah janji dan tidak ditepati, semuanya sama-sama mengiklaskan.

0 komentar:

Posting Komentar