Pptq Ali imron
6 mei 2019
Saur pertama di bulan Ramadlan ini berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, juga tidak menyangka akan ada disini di pondok pesantren yang letaknya ditengah-tengah sawah, Ali. Imron 99. Sejarahku atau garis takdir tanganku harus mondok disini, intropeksi diri tentang semua yang terjadi.
Perjalanan hidupku selama sembilan tahun ke belakang tak ada kemajuan sama sekali boleh dibilang hanya jalan ditempat. Mungkin ini dikarnakan dosa masa lalu yang tidak pernah ku ketahui bahwa itu dosa.
Kata ida, istriku, entahlah apa yang harus kutulis nama untuknya, idakah, istrikukah, mantan istrikukah. Hem..ida aja agar lebih dikenal dan namanya biar berkibar. Dia bilang bahwah dulunya pernikahan kami ini tidak ada restu dari orang tua, tapi, kami memaksa bahasa kami karna saling mencinta, untuk melangsungkan pernikahan.
Berjalannya waktu, pernikahan kami asik, menurut kami. Tapi tidak menurut kebanyakan orang. Selalu berdua, tanpa anak, terkadang ada pertengkaran kecil yang ujungnya sedikit menggangu tetangga. Hal ini dulu pernah di omongkan oleh salah seorang ustad "pernikahannya akan banyak berantemmnya..."
"Mas bangun....," salah seorang santri membangunkan aku untuk sau sekitar jam tiga pagi. Pagi ini diwaktu saur menu makananya daging sapi, tempe, sempol sepiring nasi. Sebenarnya ada kuah rawon tapi aku gak mau.
Makan bersama menjadi kebiasaan di pondok ini, satu nampan bersama. Senang lihatnya, aslinya saya suka jika makan bersama bareng santri-santri. Lebih barokah jika makan bersama, he tapi aku lebih memilih di nampan yang berbeda.
Setelah itu para santri menunggu untuk shalat jamah subuh, ada juga yang tidur, sebenarnya semuanya tidur sih. Hanya aku, abah Tarom dan mbah Ti yang sholat berjemaah di masjid pondok. Maklumlah ini hari pertama Ramadlan, hari dimana seluruh manusia yang berpuasa dibulan ini sedang beradaptasi. Dari yang tak pernah bangun sebelum subuh dan bangun diwaktu itu. Juga yang tak pernah puasa, mungkin ini akan terasa berat. Yang paling berat, tetap melawan rasa malas untuk melakukan ibadah.
Ada salah seorang santri, namanya peter kalau pagi sekitar jam 10an ia merawat burung, ngasih makan juga mencoba ngajarin terbang untuk burung yang masih anak-anak. Peter salah satu santri yang agak lama tinggal dipesantren ini. Dulu, katanya kalau sudah memasuki bulan ramdlan banyak kegiatan di pondok. Karna pada waktu itu masih banyak santri yang mukim, sekarang, sudah jarang, hampir gak ada kegiatan. Paling-paling hanya sholat jemaah saja. Bisa jadi santrinya sedikit, pondok ini dipecah menjadi empat tempat, ada pondok induk, pondok 1, pondok 2 dan pondok 3. Jadi santrinya menyebar di beberapa tempat, tidak ngumpul jadi satu.
Pondok ini bukan seperti pondok kebanyakan, disini tempat untuk melatih hati dan ngaji quran. Kegiatannya banyak melakukan sesuatu berkaitan dengan taat dan kesabaran, adakalanya menjadi tukang bangunan, adakalanya jadi tukang masak, santri disini bebas. Katok'an boleh, sarungan juga boleh, gak ada yang ngelarang atau aturan yang tertulis. Sehingga hidupnya santri disini terlihat nyaman tak ada tekanan.
Pondok ini juga menyediakan wifi gratis. Bisa dibayangkan wifi gratis untuk para santri, bisa mengakses seluruh informasi yang ada didunia, semisal game mobile legend, haha.., ya..namanya juga santri ya suka permainan apalagi sekarang lagi booming game online.
Kalau makan, disediakan oleh pengasuh, atau ke dapur sendiri, kalau ada yang dimakan silakan makan kalau gak ada ya diam. Intinya pondok disini kalau bab makan selalu bersama. Makan gak makan asal kumpul, mungkin gitu motto kebersamaannya.
Selesai sholat dhuhur saya kira tidak ada kegiatan seperti yang saya pikirkan. Ternyata ada, ngaji ama abah, ngaji quran. Tapi, yang kulihat santrinya bukan santri yang netap, gak ada santri yang kukenal. Ada yang naik mobil, mobil merk honda type sedan. Mau ikut ngaji, karna gak disuruh, jadinya diem aja, takut mbah gak mengizinkan. Sepertinya ngaji duhur itu khusus santri kalong atau santri yang tidak netap di pondok.
Lanjut tidur lagi, rebahan nunggu asar menanti.
"Ayo ikut aku mas,"
"Kemana gus?"
"Ngabuburit..."
"Ok..."
Diajak maz robin, anak paling bungsu dari mbah tarom. Ia memang muda, tapi, kalau dari nasab dia lebih tua dariku, aku manggilnya om, om kecil. Umurnya masih empat belas tahun, masih lincah, masih semangat anak muda. Pembawaannya supel, bisa bergaul dengan siapa aja. Untuk menjalani kehidupan masih perlu terus untuk belajar.
Maz robin, sekarang dia adalah santri di pondok termas. Liburnya panjang, satu bulan penuh menghabiskan ramadlan dan pertengahan sawal. Pulang ke rumah enaknya, adalah bermain gadget dan tidur, termasuk hari "pembalasan" katanya. Karna, di pondok gak mungkin bisa membawa barang elektronik. Kalau ingin nelpon ke orang tua pinjam ke pengurus pondok, itu aturannya.
Aku diajak keliling mengitari dusun-dusun yang ada di kecamatan dolopo. Mulai dari tawang, doho dan lainnya, melewati berbagai jalan, dari jalan besar hingga jalan kecil. Di tunjukkannya juga aku tempat latihan perguruan "pagar nusa" lumayan besar.
Didaerah dolopo ini, sepertinya perguruan pencak silat setia hati lebih banyak diminati oleh kebanyakan masayarakat dolopo. Terbukti dengan adanya banyak tugu yang disetiap dusun memilikinya. Atau masih ada perguruan pencak silat yang lain yang tidak kuketahui, selain dari pagar nusa dan setia hati?, Menarik untuk diteliti lebih dalam.
Hampir maghrib kami bergegas pulang, sebelum itu mampir di indomaret buat beli pasta gigi. Antrinya pol, hingga adzan maghrib berkumandang, jadinya berbuka di indomaret beli sebotol aqua tanggu di minum bersama, syarat membatalkan puasa aja. Menurutku ini indah berkesan berbuka pertama kali dipinggir jalan dengan Maz Robin hanya dengan sebotol aqua.
Nyampek pondok seluruh santri sedang berjemaah, mereka belum berbuka, sholat dulu, hanya saja mereka sudah minum, sama seperti yang kami lakukan. Setelah sholat kami lanjut berbuka puasa, nasi bungkusan, nasi pecel ikan telor ama tempe ditambah ceker ayam dan teh hangat, ada juga kerupuk, nyaman dan mantap.
Isak berkumandang, solat isak dan tarawihpun dimulai. Lama, yang ngimami mbah, baca surat-surat panjang, ngantuk dan lelah jadinya. Tetap semangat, gak boleh, gak sholat. Ikut, tetap harus ikut hingga selesai. Santri disampingku yang ikut jemaah sudah "protol" gak ikut lagi mereka, pulang. Mereka santri kalong atau alumni yang ikut serta jemaah terawih disini.
Malam ini turun hujan, insya'alloh hujan rahmad dan keberkahan. Amien. Tadurannsanya libur, di isi ngobrol bareng ama para santrinya mbah yang sudah tua, gak ikut nimbrung. Ngumpul sama maz robin aja, ngbrol dengannya biar tambah lebih akrab.
Selang tak berapa lama, aku lihat whastaap ada orang nyari mobil avanza. Q telpon samsuri, dia temanku diwaktu sekolah aliyah dulu. Katanya masih ada, tapi tunggu di cekkan besok. Semoga jodoh dan laku terjual, agar ke uanganku sedikit banyak terbantu dengan itu. Amien.
Sudah malam, sudah waktunya membaca wirid yang diberikan abah, trus lanjut tidur. Kulihat diluar masih ada santri yang bekerja ngecat rumahnya abah bagian luar, catnya warna putih sedikit abu-abu. Tiba2 Aku ditawari jajan sama mereka, aku ngambil kita ngobrol.
Mereka cerita, kalau hatam disini harus riyadlah jalan kaki dari sunan ampel, mbah holil bangkalan hingga batu ampar madura. Perjalan itu mereka tempuh kurang lebih empat hari perjalanan siang dan malam. Setelah nyampek di batu ampar, maka para santri wajib hatam quran satu orang satu kali hatam. Mereka hebat bisa melakukan itu. Apa manfaatnya?, kata mereka agar ilmu yang diajarkan mbah tarom bisa bermaafaat dan melekat dunia hingga akherat.
0 komentar:
Posting Komentar