Jumat, 03 Mei 2019

Menuju

Pptq ali imron 99
3 mei 2019

Surabaya tadi pagi, kemudian aku menuju ke tempat yang tak ubahnya ketentraman. Dimana ada alur cerita baru dalam keinginan. Baru menuju, baru melangkah, smga tak salah akan pasrah. Ini niat, ini upaya, ini hasrat, ini doa. Jadi baik, baik, tapi, baik itu apa?. Mungkin baik itu tak menyakiti dan tak tersakiti, begitukah? Dunia sepertinya tertawa dengan kisah ini atau mereka malah tak perduli, sebab kisah ini hanyalah kisah anak manusia yang terulang disetiap masa.

Ida, ia istriku, tadi pagi jam 5 pagi ia mau pulang ke gresik. Tapi, sebelum itu ia pergi menemui ibunya "kulakan barang" untuk menyambut bulan puasa. Ibu mertua memang berangkat dari gresik untuk kulakan barang. Sedangkan ida, ia berangkat dari kos di wonocolo. Mereka bertemu di terminal osowilangun, kemudian berangkat bersama kulakan di ampel, pasar bonk, dll. Setelah itu pulang ke gresik.

Di kos sebelum ku mengantar ia cari bus di depan KFC jln ahmad yani, ia masih tetap bekomitmen tentang keputusannya padaku. Ia mau berpisah dengan cara yang baik tanpa ada pertikaian. Kemantapannya tidak bisa dirubah, ia sudah berpikir dengan matang dan dari beberapa refrensi yang ada ia percaya dengan "sesuatu" jika pernikahan tanpa restu orang tua.

"Apa benar kamu sudah mantap?", "gak usah pisah po'o".. sederet  kata untuk menyadarkannya bahwa kita selalu bersama hingga 9 tahun lamanya. Ia tetap tidak merubah pendiriannya. Ia tetap berkisah tentang masa lalu kita bahwa selama ini kita jarang dan hampir tak pernah berbahagia. Kenapa?? Kok endingnya seperti ini?? Mungkin ini karnaku, hingga kini masih belum mampu merasa bahwa wanita wajib untuk dibahagiakan.

Hingga akhir keputusan kami berdua adalah berpisah, dan ia bahagia, lega tersenyum, aneh. Mungkin memang benar selama ini ia ingin berpisah, tapi belum ada moment yang tepat untuk menggungkapkannya. Terbukti dari WA yang pernah ku baca miliknya. Ia pernah Curhat ke seseorang Tokoh, ia menceritakan tentang doanya ditengah malam untuk berpisah denganku. Hingga akhirnya Tuhan mengabulkannya.

Kemudian sekitar jam 7 pagi, aku pergi ke terminal bungurasih naik Grab, jarak gak begitu jauh seharga Rp. 13.000,- yang jadi drivernya udah tua. Berangkat dari indomaret, gg lebar wonocolo, ngambil uang di ATM buat ongkos untuk pergi ke dlopo. Ia ngantar hingga tepat di terminal dalam bungurasih, hingga ku langsung naik bus. Meskipun sebelumnya aku masih bertanya kepada penjual asongan "mana bus untuk pergi ke Dlopo?." "Naik Restu mas ...."

Bus ekonomi memang membebaskan orang-orang yang bejualan atau yang ngamen bebas melakukan aktifitas mereka. Salah satu yang kusuka di pertengahan jalan ada yang menyanyikan lagu berkisah tentang ibu. Sayangnya aku tak merekam itu. Yang paling tak mengenakkan jika bus penuh dan berdesakan, hingga banyak yang berdiri.

Sekitar jam 11.25 bus sudah di pasar Dlopo, aku turun menuju masjid. Sholat jumat  dulu kemudian menuju PPTQ ALI IMRON 99. Khutbahnya tentang puasa ramadlan, ya... kurang tiga hari lagi menuju bulan Ramadlan 2019. Pada akhirnya ramdlan 2019 ganti status dari menikah jadi duda. Apa bisa kembali? Kembalikan semuanya pada Allah. 

Setelah sholat jumat di Masjid samping pasar Dlopo, ku lupa namanya. Grab pesananku datang, namanya Haris, ia terlahir di Dlopo. Nge-Grab sebagai sampingan dalam mencari rejeki. Ia pekerja di swalayan, bisa jadi gajinya lebih besar dari pada jasa ojek online.

"Empat ribu mas!"
"Ini.." kutunjukkan uang pecahan 20.000,-
"Maaf, gak ada kembaliaanya"
"Sudah yang ada aja"
"Adanya tiga ribu mas"
"Ok-ndak p2".

Aku kemudian diantar hingga gerbang pesantren. Ku ucapkan terimakasih ia langsung pergi. Namanya haris, sudah dua bulan yang lalu ia nge-Grab. Katanya untuk daerah Dlopo "sepi." Ia beralih ke ponorogo, disana cukup ramai, penghasilannya besar. Sangat dituntut fisik yang kuat jika jadi pekerja jasa ojek online.

"Assalamualaikum?" Tak ada jawaban. Tenyata abah tarom sedang tidur, nyenyak. Aku tak berani bangunkan, aku duduk didepannya lihat ikan di kolam ikan. Senang lihat ikan besar-besar, gak tau apa jenisnya. Tiba-tiba beliau bangun sedikit kaget melihatku. "Kapan datang le?," "Barusan abah."

Tiba-tiba abah bertanya tentang ida. Kuceritakan semuanya. Sedikit wajahnya mengkerut tanda ia kaget. Ia bilang jika mengembalikan sesuatu yang patah khusus hati seorang wanita itu sulit, apalagi ia mantap dengan meminta berpisah. "Ikhlaskan saja" ia berkata demikian.

Dulu pesantren  ini pernah kudatangi bersama istri tapi sekarang sendiri. Pesantren ini dari segi bangunan sudah sedikit banyak berubah lebih artistik modern. Meskipun ranah keilmuannya religius-klasik, tetap nyaman dan indah.

Adam ada holis mereka salah satu teman yang kukenal sejak dulu, mereka menyapaku, menyapa dengan keraguan "sepertinya kita pernah ketemu, kapannya?" Dan mereka tersadarkan ketika aku jelaskan identitasku. "Oooowalah....sampeyan to," "enggeh niki kulo..."

Setelah isyak ketika kami duduk bareng. Abah memintaku untuk ada di pondok hingga tanggal 27 ramadlan. Setelah itu kegiatan pondok kosong dan boleh pulang. Aku mengiyakan, "manut abah..."

22.34
Aku selesai menulis coretan ini.

0 komentar:

Posting Komentar