Sabtu, 04 Mei 2019

Berpikir

Pptq Ali Imron
4 Mei 2019

Hingga jam satu malam belum bisa tidur mungkin karna masih beradaptasi dengan lingkungan. Masih merasakan bahwa sekarang tidak lagi berada di Surabaya, di kos. Atau karna sudah minum kopi jadinya gak bisa tidur meskipun sedikit, gak habis.

Tapi, gak lama kemudian aku tertidur dan terbangun jam setengah lima pagi. Gak jemaah subuh, sholat sendiri. Di pondok ini, anak2nya sepertinya bangun terlambat ketika subuh. Mereka setiap malam kalau tidur sangat larut jadinya paginya terkadang kesiangan.

Ternyata setelah sholat subuh masih ngantuk, tiba2 tertidur lagi. Hanya sebentar, jam enam pagi lebih sedikit sudah bangun. Aku keluar kamar pakai celana sarung dan pakai baju hitam, mau olahraga sedikit dengan olah nafas.

Didepan masjid aku berlari kecil, peregangan melemaskan otot-otot dan melakukan olah nafas yang diajarkan Gus Fahmi. Dilanjutkan berjemur agar keringat keluar. Alhamdulillah badan terasa enteng dan enak.

Madura begitu jauh dengan Dlopo silaturahmi hanya lewat telpon. Ku hubungi ummi tanyakan kabar beliau, ummi cepat-cepat, sebab mau ke wisudanya Hurin, cucunya. Acaranya hingga siang, kira-kira selesai jam dua siang. "Entar sore aja hubungi lagi..." "engge ummi"

Andi, fais juga ku hubungi juga. Ku telpon mereka menyakan kabar. Faiz menceritakan anaknya, lucu putranya, panggilannya fatkur. Aku tau putranya lewat vidio call. Andipun demikian ku hubungi juga, tetapi bahasnya tentang bisnis, jual ini jual itu. "Semoga Allah memberikan kelancaran dan dimudahkan segala urusannya," cair-cair...  amien.

Waktu asik-asik nelpon holis datang bersama orang tua yang belum kukenal. Mereka membawa seorang wanita yang teriak-teriak marah. Aku gak tau apa yang terjadi, hanya kulihat dari jauh. Aku gak ikut campur, aku orang baru disini, hanya bisanya melihat dan mendengarkan obrolan mereka. "Nunggu bah yai- beliau lagi pergi"

Aku menyelesaikan olahragaku. Baju yang kotor aku cuci dan terus kulanjutkan mandi. Sholat duha kulakukan habis mandi. Santai-santai dikamar menikmati suasana baru ceria. Dari dalam kudengar banyak kata cerita. Pikirku, kasihannya juga abah yang selalu melayani keluh kesah masyarakat. Ia hebat dan tangguh.

Pak Zaka, aku menelponnya menyakan gmana kelanjutan jual beli gudang. Pak zaka menjajikan, untuk bisa tejual secepatnya. Ia berasumsi sebelum lebaran harus cair. Ia juga bercerita di Ngoro ada proyek bangun rumah. Ada tanah 8 hektar, jika deal dengan pemilik tanah akan langsung  diproses menjadi beberapa tempat tinggal. Trus dijual, q ditawarkan jadi marketingnya jk jalan dan ku iyakan.

Pada waktu asar aku melihat mbah putri membuat rawon dan pecel. Kutanyakan, ternyata nanti malam setelah isyak ada acara kumpul keluarganya mbh putri. Mereka semua bersaudara sebanyak lima orang dengan orang tua perempuan yang masih hidup. Jika total saat ini kumpul semua sekitar dua puluh tiga dengan anak cucu. Acara tersebut hanya kumpul, ngobrol makan pulang.

Selang waktu isyak semua santri pergi mengikuti abah Tarom, ia tidak mengajakku, ku disuruh tinggal. Agar gak kesepian kutemani mbah putri, juga bantu beliau ngangkat jajan dan makanan untuk diletakkan  diruang tamu. Sedikit-sedikit tamunya mulai berdatangan. Karna ku malu nemani, ku pergi ke kamar dan tertidur.

Terbangun kembali ketika jam sebelas malam, waktu abah Tarom sudah datang dan mendoakan acara kumpulan agar berkah. Akhirnya acara selesai semua keluarga pulang, santripun bersih-bersih teras yang digunakan untuk kumpulan keluarga.

Aku belum ngantuk, abah mau tidur, akupun menghampiri tempat ia tidur. Beliau tidur hanya beralaskan karpet, banyak nyamuk beliau sedikit terganggu. Ku pijat kakinya agar beliau merasa nyaman, "sudah le abah mau tidur," "engge..."..

Akupun kembali kekamar dan tertidur lagi...

0 komentar:

Posting Komentar