Rabu, 29 Mei 2019

SURGAKU

Ibu
Anakmu kini

Ini
Rindu tak bertepi

Ibu
Kau
Aku
Pernah menyatu

Kini
Satu itu
Masih

Ibu
Surgaku
Di telapak kakimu

07-01-2019

Senin, 20 Mei 2019

Nuzulul Quran

Keluarlah kalian hai manusia
Lihatlah langit malam ini
Purnama itu memanggil

Ia berteriak ...
Apa kalian tidak mendengar???

Coba pandanglah ia
Sinarnya membawa tangis
Ia sedang pudar
Sebentar lagi akan hilang

Ramdhan...ramadhan
Bulan ampunan, bulan rahmah...
Apakah kalian masih dalam ketidak tahuan???

Rugi...
Rugi...
Rugi...

Kembalilah
Ingatlah
Jgn lalai
Kejarlah

Jgan menyesal
Sujudlah
Bacalah
Lantas, apa yang kalian baca???

17 Ramadhan 2019

Kamis, 16 Mei 2019

SUNAH MEMBACA SHALAWAT KETIKA MAKAN NASI

===============================
Setiap hari kita mengkonsumsi nasi, dan bahkan nasi adalah di jadikan Allah untuk kita sebagai makanan pokok, namun jarang dari kita yang mengetahui dari apakah nasi di ciptakan Oleh Allah…?. Ternyata nasi di ciptakan Allah dari nur nabi muhamad saw. maka dari itu para ulama menganjurkan agar memperbanyak membaca sholawat saat makan nasi.
Dan kitapun jarang yang mengetahui betapa Allah telah memberikan barokah yang besar di dalamnya. Bahkan manfaatnya selain menjadi makanan pokok yang sangat di butuhkan oleh tubuh kita, ternyata nasi adalah berfungsi sebagai obat, dan yang menjadi keunikan dari karunia Allah di dalam nasi, nasi tidak mengandung penyakit di dalamnya. Hal ini telah di sampaikan oleh para ulama, berikut penjelasanya:
Dalam kitab Syarah Sittina Mas alah oleh Al alamah Assyeih Ahmad Al mihi di jelaskan:
ﻭﻳﺴﻦّ ﺍﻻﻛﺜﺎﺭ ﻋﻨﺪﺍﻛﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻻﻧّﻪ ﻛﺎﻥ ﺟﻮﻫﺮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨّﺔ ﺃﻭﺩﻉ ﺍﻟﻠّﻪ ﻓﻴﻪ ﻧﻮﺭ ﻣﺤﻤّﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻓﻠﻤﺎ ﺧﺮﺝ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻟﻤﺤﻤّﺪﻯ ﺗﻔﺘّﺖ ﻓﺨﻠﻖ ﻣﻨﻪ ﺍﻻﺭﺯ . ‏( ﺳﺘّﻴﻦ ﻣﺴﺌﻠﺔ . ﺹ ٦٨ )
artinya : Di sunnahkan perbanyak membaca sholawat kepada Nabi muhammad saw ketika makan nasi karena nasi itu adalah mutiara surga yang Allah titipkan atau letakkan di dalam nya nur Nabi muhammad SAW maka ketika nur muhammad keluar maka mutiara itu pecah berkeping2 maka Allah ciptakan nasi dr mutiara surga. (Sittina mas alah hal:64).
Dan sayyidina. ‘Aliy bin abi tholib pun berkata
ﻋﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻦ ﺍﺑﻲ ﻃﺎﻟﺐ ﻛﺮّﻡ ﺍﻟﻠّﻪ ﻭﺟﻬﻪ ﺍﻥّ ﻛﻞّ ﻣﺎ ﺍﻧﺒﺘﻪ ﺍﻻﺭﺽ ﻓﻴﻪ ﺩﻭﺍﺀ ﻭ ﺩﺍﺀ ﺍﻟّﺎ ﺍﻻﺭﺯّ ﻓﺎﻧّﻪ ﺷﻔﺎﺀ ﻻﺩﺍﺀ ﻓﻴﻪ
Dari sayidina Ali bin abi tholib karomallohu wajhah:”Sesungguhnya setiap sesuatu yang tumbuh di bumi itu mengandung obat dan penyakit kecuali nasi bahwa sesungguhnya nasi mengandung obat dan tdk ada penyakit di dlmnya”.
Dan dari keterangan di atas ternyata nasi ini di ciptakan oleh Allah dr nur Nabi muhammad saw maka dari itu kita di sunnah kan membaca sholawat kpd Nabi mohammad SAW.
Hal senda juga di sebutkan dalam kitab albajuri oleh Al ‘alamah al fadhil Assyeih Ali bin qosim al bajuri di terangkan :
ﻭﺗﺴﻦّ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻋﻨﺪ ﺍﻛﻠﻪ ﻻﻧّﻪ ﺧﻠﻖ ﻣﻦ ﻧﻮﺭﻩ . ‏( ﺣﺎﺷﻴﻪ ﺍﻟﺒﺎﺟﻮﺭﻯ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻦ ﻗﺎﺳﻢ ﺍﻟﻐﺰﻯ،ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ،ﺹ ٢٦٤ )
Artinya: Dan di sunnahkan membaca sholawat kepada Nabi muhammad saw ketika memakan nasi karena nasi di ciptakan dari nur Nabi muhammad Saw.
ﻓﺎﻥ ﻗﻴﻞ ﺍﻥ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﻛﻠﻬﺎ ﺧﻠﻘﺖ ﻣﻦ ﻧﻮﺭﻩ ﺍﺟﻴﺐ ﺑﺎﻧﻪ ﺧﻠﻖ ﻣﻦ ﻧﻮﺭﻩ ﺑﻼﻭﺍﺳﻄﺔ ﻭﻛﻞ ﺍﻻﺷﻴﺎﺀ ﺍﻟﺘﻰ ﺗﻨﺒﺖ ﻣﻦ ﺍﻻﺭﺽ ﻓﻴﻬﺎ ﺩﺍﺀ ﻭﺩﻭﺍﺀ ﺍﻻ ﺍﻟﺮﺯ ﻓﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺩﻭﺍﺀ ﻭﻻ ﺩﺍﺀ ﻓﻴﻪ . ‏( ﺣﺎﺷﻴﻪ ﺍﻟﺒﺎﺟﻮﺭﻯ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻦ ﻗﺎﺳﻢ ﺍﻟﻐﺰﻯ،ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ،ﺹ ٢٦٤ )
Artinya:” jika di tanyakan sesungguhnya setiap sesuatu itu di jadikan dari Nur nabi muhamad saw /. Maka di jawab:
sesungguhnya nasi di jadikan dari Nur nabi muhammad saw. dengan tanpa perantara, dan setiap sesuatu yang tumbuh dari bumi ada obat dan ada penyakit kecuali nasi, sesungguhnya di dalamnya nasi itu ada obat dan tidak ada penyakit di dalamnya (Bajuri juz: 1 hal: 264).
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺍﺟﻤﻌﻴﻦ
ADAB MENCUCI BERAS
=================================
Menggunakan tangan kanan untuk membasuh beras
Aduk dengan arah berlawanan dengan arah jarum jam ( seperti arah tawaf )
Membaca :
ﻟﻴﺲ ﻟﻬﺎ ﻣﻦ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﺎﺷﻔﺔ
Laysa lahaa min duunillahi kaasyifah
” Tidak ada penyembuh selain dari Allah”
Boleh juga baca ” Yaa Latiif ” 3x
Ulang basuhan selama 3x atau sampai bersih
Sholawat Niatkan dalam hati supaya dilembutkan hati diri sendiri, pasangan dan anak-anak.
Wahai muslimat, adik, kakak, dan ibu-ibu…masaklah makanan anda dengan berdzikir, Insya Allah akan membawa berkah bagi yang memakan.

Allahumma sholli ala Sayyidina muhammad wa ala ali Sayyidina muhammad

Selasa, 14 Mei 2019

14 mei 2019

Pp Ali imron 99

Kumpul-kumpul setelah mengadakan shalat tarawih serasa menyenangkan. Terawih disini sama dengan terawih pada umumny, yang di gunakan 23 rokaat. surat alquran  yang dibaca, surat pendek. Kecuali, jika Mbah Tarom yang jadi imam, maka suratnya panjang.

Imam terawih dan bilal dipesantren ini sudah terjadwal jauh hari sebelum puasa. Kebanyakan imam dari alumni yang sudah hatam ngaji quran ke mbah tarom. Umurnya sudah banyak diatas empat puluh tahun. Mereka sudah tua tapi, semangat mereka untuk bisa mengaji al-quran layak untuk di acungkan jempol.

Tepat di depan "ndalem" ada tempat yang terbuat dari semen dan batu, tempat buat kumpul, berbentuk lingkaran yang tak tersambung, di tengahnya dibuatkan meja dari semen juga. Pas di tengah-tengah meja ada tiang dari besi yang dipergunakan untuk lampu. Kami berkumpul disana setelah shalat tarawih.

Aku disana duduk bersama mereka, bersama para alumni. Sedangkan para santri sebagian jongkok, sebagian lagi duduk di kursi kayu. Untuk pelengkap obrolan kami, di meja ada kopi, jajan dan es. Rokok jangan di tanya itu jadi barang penting yang harus ada.

Mbah Tarom duduk disamping kiriku, ia menjadi central di seluruh pembicaraan yang ada. Kalau beliau diam maka seluruhnya akan ikut diam, kalau beliau bicara maka yang tidak dia ajak bicara, akan ikut mendengarkan dengan khidmat. Meskipun, sebagian santri lebih asik dengan bermain gedget. Tapi, mereka tetap bisa fokus mendengarkan ngobrolan kiai.

Banyak hal yang di omongkan. Hal yang penting sepertinya seputar buka bersama dengan anak yatim di bulan ramadhan ini. Juga, setelah ramadhan tepatnya bulan syawal akan ada pertemuan dengan para alumni. Aku hanya mendengarkan saja, terkadang aku juga butuh proses untuk menterjemah perkataan mereka. Beda daerah, satu-dua, ada perkataan mereka yang masih belum ku mengerti.

Tiba-tiba disela pembicaraan mbah tarom memutar badanya mengarah padaku.

"Le...hadap Mbah!" Beliau menyuruhku untuk mengahadapnya.
"Enggeh," reflek tubuhku langsung berotasi menghadap Mbah tarom dan saling pandang
"Lihat mata...mbah...." beliau menyuruhku untuk fokus melihat matanya atau diantara matanya.

Aku kemudian melihat matanya mbah tarom. Tanpa bisa terkontrol tubuhku mulai bereaksi, aku masih sadar dan mengerti apa yang terjadi. Diriku yang tak bisa kukontrol ini mulai melawan mbah tarom, ia mencekik lehar mbah, tapi kalah kuat. "Ayo bantu..." mbah tarom mengomando seluruh santri.

Diriku pada waktu itu, banyak yang memegang tubuhku. Aku berteriak begitu keras, ngomonganku juga jelas. Ia ingin Menyakitiku sebab ada yang menyuruh, ia menyebut nama, yang kukenal nama itu adalah seorang tokoh yang ada didesa tempat ida tinggal. Tokoh itu membenci almarhum mertuaku, itu yang kutau, karna belum puas ia menyerang seluruh keluarga.

Aku kaget juga ketika ada omongan darinya, dari makhluk yang ada ditubuhku. Katanya, yang menyebabkan hancurnya hub keluargaku dengan keluarganya ida adalah ia. Ia mengakuinya, ketika tubuhku dibawa digotong oleh anak-anak ke tempat pemandian, ketempat wudlu yang berbentuk lingkaran besar, aku dimandikan dan disuruh berwudlu.

Setelah itu, ia pamit mau keluar dari dalam tubuhku, berteriak minta maaf mohon ampun pada pencipta, pada Allah.

"Ya saya ikhlas saya maafkan, jangan tingal di tubuh ku lagi, bawa semua alat-alat atau media untuk menyakitiku, hancurkan media itu.. keluarlah dengan tenang, jangan menyakiti tubuhku setelah engkau keluar dari dalamnya"

setelah itu akupun lemas. Tubuhku kedinginan, para santri dan alumnni menggotongku kedalam kamar. Aku berganti pakaian, aku direbahkan dan diselimuti, aku beristigfar mohon ampun sama Allah. Kemudian akupun tertidur dengan tubuh yang teramat lelah.

Rabu, 08 Mei 2019

Sepi

Pptq Ali imron 99
7 mei 2019

Hari ini sepi, tak ada apapun untuk di jadikan tulisan. Dari saur, olahraga, nyuci baju, aktifitas yang kulakukan di pondok ini, sama. Hingga menunggku berbuka puasa aku terus menjalani ini dengan iklas dan sabar.

Masa lalu

Pptq Ali imron
8 mei 2019

Mas bangun, fathan membangunkan tidurku diwaktu pagi. Menu kali ini nasi kotak, dari orang, mungkin dari alumni santri yang pernah mondok disini. Masih jam tiga pagi, sebenarnya malam ramadlan ini gak pengen tidur, masih belum kuat untuk menahan kantuk, jadi tertidur dan dibangunkan waktu saur.

Sebelum makan aku berdoa dulu. Juga, sholat malam terlebih dahulu, mengaji quran sebentar berdoa tidak lupa kulakukan. Pagi ini masih tetap banyak nyamuk di kamarku. Jadikan aku terkadang terganggu dengan itu. Kamarku disebelah barat kamarnya mbah Tarom di aula dalem.

Pada waktu datang dihari pertama, aku gak ada kamar. Ada kamar, tapi bareng santri yang lain, aku gak minta, abah sendiri yang menyuruhku tidur diaula pada waktu pertama datang. Kata abah, entar kamarnya dibersihkan. Q gak tau kamar mana yang dimaksud, ternyata di dalam aula ada kamar pas pojok. Kamarnya enak, ada ranjangnya tanpa kasur tanpa bantal, hanya beralaskan karpet aja. 

Pagi yang cerah, aku keluar kamar memakai sarung, berbaju putih. Pergi ke depan masjid pondok. Melakukan aktifitas seperti biasanya, olahraga. Hanya jalan memutar dengan durasi waktu kurang lebih satu jam. Olahraga yang kulakukan selain lari adalah olah nafas.

Olah nafas ini, gampang-gampang susah, masuk cepat keluar cepat, katanya gus fahmi ya begitu. Yang cepat itu nafasnya. Harus ada gurunya lakukan ini, sukurnya aku sudah dibimbing oleh ahlinya. Syaratnya lagi harus benar-benar fokus dan pasrahkan diri pada Allah, nyatakan bahwa diri adalah pendosa, Allahlah maha pengampun dan yang memberikan pertolongan.

Olah nafas ini nantinya akan mengaktifkan "akal af'al", istilah ini ada pada pembagian akal menurut para pemikir. Tapi disini yang dimaksud mungkin "membangkitka  ruh murni, bisa jadi akal Tuhan" maksudnya jika seorang hamba dekat pada tuhan dan sangat dekat sekali maka akal ini yang akan "on", sehingga Tuhan yang akan menjadi pelindung sebenarnya.

Terbukti pagi ini, aku pasrahkan tubuhku pada Allah, aku minta padanya agar "akal afalku" ini dibangkitkan. Yang terjadi ada reaksi dari dalam tubuhku, seakan-akan seperti ada yang keluar dan beberapa kali aku teriak dengan sangat kencang, mungkin kalau diperkotaan akan ada banyak orang yang datang. Tapi disini aku sendirian diwaktu pagi, semuanya tertidur.

Badanku masih lemah aku jatuh tertidur di di halaman masjid. Sedikit lama hingga mentari pagi menyinariku, aku terhangatkan dan terbangun. Aku mencoba bangkit sendiri, aku kuat dan harus kuat. Aku sehat dan harus sehat. Aku masih punya masa depan, masih ada keinganan untuk lebih bermanfaat bagi sesama, bagi banyak manusia.

Selang berapa lama, Mbah Tarom datang dengan mobil cayla miliknya. Pakek katok selutut, ada tas kecil hitam dan kacamata yang selalu dibawanya. Ia melihat ke arahku yang sedang duduk dedepan rumah. Ia mendatangiku dan menyakan gmn keadaanku. Aku bercerita tentang yang kualami tadi.

"Mbah setiap hari selalu mendoakanmu"
"Enggeh..."

Kemudian mbah tarom bercerita tentang ibuku. Dulu sewaktu waktu ibumu menjual tanah, waktu itu ia pernah janji, mungkin lupa. Zakat penjualan dari hasil tanah akan diserahkan ke pondok ini, tapi, sampai saat ini gak ada. Gak apa-apa, mungkin sekarang sudah habis. Mbah sudah mengiklaskannya, mungkin dari itu hingga keluarga kalian banyak yang sakit.

Aku sebenarnya gak begitu tau dengan janji itu. Apa benar ibuku berjanji akan memberikan uang ke pondok, aku langsung konfirmasi ke beliau. Ku tanyakan kebenarannya, ternyata ibu lupa tentang janji itu. Apa benar apa tidak hanya Allah yang tau. Lantas ibu kusuruh nelpon mbah tarom untuk minta maaf jika itu lupa. Ibukupun mengiyakannya, ia menelpon mbah tarom tuk meminta maaf jika dulu pernah janji dan tidak ditepati, semuanya sama-sama mengiklaskan.

Senin, 06 Mei 2019

1 Ramadlan 2019

Pptq Ali imron
6 mei 2019

Saur pertama di bulan Ramadlan ini berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, juga tidak menyangka akan ada disini di pondok pesantren yang letaknya ditengah-tengah sawah, Ali. Imron 99. Sejarahku atau garis takdir tanganku harus mondok disini, intropeksi diri tentang semua yang terjadi.

Perjalanan hidupku selama sembilan tahun ke belakang tak ada kemajuan sama sekali boleh dibilang hanya jalan ditempat. Mungkin ini dikarnakan dosa masa lalu yang tidak pernah ku ketahui bahwa itu dosa.

Kata ida, istriku, entahlah apa yang harus kutulis nama untuknya, idakah, istrikukah, mantan istrikukah. Hem..ida aja agar lebih dikenal dan namanya biar berkibar. Dia bilang bahwah dulunya pernikahan kami ini tidak ada restu dari orang tua, tapi, kami memaksa bahasa kami karna saling mencinta, untuk melangsungkan pernikahan.

Berjalannya waktu, pernikahan kami asik, menurut kami. Tapi tidak menurut kebanyakan orang. Selalu berdua, tanpa anak, terkadang ada pertengkaran kecil yang ujungnya sedikit menggangu tetangga. Hal ini dulu pernah di omongkan oleh salah seorang ustad "pernikahannya akan banyak berantemmnya..."

"Mas bangun....," salah seorang santri membangunkan aku untuk sau sekitar jam tiga pagi. Pagi ini diwaktu saur menu makananya daging sapi, tempe, sempol sepiring nasi. Sebenarnya ada kuah rawon tapi aku gak mau.

Makan bersama menjadi kebiasaan di pondok ini, satu nampan bersama. Senang lihatnya, aslinya saya suka jika makan bersama bareng santri-santri. Lebih barokah jika makan bersama, he tapi aku lebih memilih di nampan yang berbeda.

Setelah itu para santri menunggu untuk shalat jamah subuh, ada juga yang tidur, sebenarnya semuanya tidur sih. Hanya aku, abah Tarom dan mbah Ti yang sholat berjemaah di masjid pondok. Maklumlah ini hari pertama Ramadlan, hari dimana seluruh manusia yang berpuasa dibulan ini sedang beradaptasi. Dari yang tak pernah bangun sebelum subuh dan bangun diwaktu itu. Juga yang tak pernah puasa, mungkin ini akan terasa berat. Yang paling berat, tetap melawan rasa malas untuk melakukan ibadah.

Ada salah seorang santri, namanya peter kalau pagi sekitar jam 10an ia merawat burung, ngasih makan juga mencoba ngajarin terbang untuk burung yang masih anak-anak. Peter salah satu santri yang agak lama tinggal dipesantren ini. Dulu, katanya kalau sudah memasuki bulan ramdlan banyak kegiatan di pondok. Karna pada waktu itu masih banyak santri yang mukim, sekarang, sudah jarang, hampir gak ada kegiatan. Paling-paling hanya sholat jemaah saja. Bisa jadi santrinya sedikit, pondok ini dipecah menjadi empat tempat, ada pondok induk, pondok 1, pondok 2 dan pondok 3. Jadi santrinya menyebar di beberapa tempat, tidak ngumpul jadi satu.

Pondok ini bukan seperti pondok kebanyakan, disini tempat untuk melatih hati dan ngaji quran. Kegiatannya banyak melakukan sesuatu berkaitan dengan taat dan kesabaran, adakalanya menjadi tukang bangunan, adakalanya jadi tukang masak, santri disini bebas. Katok'an boleh, sarungan juga boleh, gak ada yang ngelarang atau aturan yang tertulis. Sehingga hidupnya santri disini terlihat nyaman tak ada tekanan.

Pondok ini juga menyediakan wifi gratis. Bisa dibayangkan wifi gratis untuk para santri, bisa mengakses seluruh informasi yang ada didunia, semisal game mobile legend, haha.., ya..namanya juga santri ya suka permainan apalagi sekarang lagi booming game online.

Kalau makan, disediakan oleh pengasuh, atau ke dapur sendiri, kalau ada yang dimakan silakan makan kalau gak ada ya diam. Intinya pondok disini kalau bab makan selalu bersama. Makan gak makan asal kumpul, mungkin gitu motto kebersamaannya.

Selesai sholat dhuhur saya kira tidak ada kegiatan seperti yang saya pikirkan. Ternyata ada, ngaji ama abah, ngaji quran. Tapi, yang kulihat santrinya bukan santri yang netap, gak ada santri yang kukenal. Ada yang naik mobil, mobil merk honda type sedan. Mau ikut ngaji, karna gak disuruh, jadinya diem aja, takut mbah gak mengizinkan. Sepertinya ngaji duhur itu khusus santri kalong atau santri yang tidak netap di pondok.

Lanjut tidur lagi, rebahan nunggu asar menanti.

"Ayo ikut aku mas,"
"Kemana gus?"
"Ngabuburit..."
"Ok..."

Diajak maz robin, anak paling bungsu dari mbah tarom. Ia memang muda, tapi, kalau dari nasab dia lebih tua dariku, aku manggilnya om, om kecil. Umurnya masih empat belas tahun, masih lincah, masih semangat anak muda. Pembawaannya supel, bisa bergaul dengan siapa aja. Untuk menjalani kehidupan masih perlu terus untuk belajar.

Maz robin, sekarang dia adalah santri di pondok termas. Liburnya panjang, satu bulan penuh menghabiskan ramadlan dan pertengahan sawal. Pulang ke rumah enaknya, adalah bermain gadget dan tidur, termasuk hari "pembalasan" katanya. Karna, di pondok gak mungkin bisa membawa barang elektronik. Kalau ingin  nelpon ke orang tua pinjam ke pengurus pondok, itu aturannya.

Aku diajak keliling mengitari dusun-dusun yang ada di kecamatan dolopo. Mulai dari tawang, doho dan lainnya, melewati berbagai jalan, dari jalan besar hingga jalan kecil. Di tunjukkannya juga aku tempat latihan perguruan "pagar nusa" lumayan besar.

Didaerah dolopo ini, sepertinya perguruan pencak silat setia hati lebih banyak diminati oleh kebanyakan masayarakat dolopo. Terbukti dengan adanya banyak tugu yang disetiap dusun memilikinya. Atau masih ada perguruan pencak silat yang lain yang tidak kuketahui, selain dari pagar nusa dan setia hati?, Menarik untuk diteliti lebih dalam.

Hampir maghrib kami bergegas pulang, sebelum itu mampir di indomaret buat beli pasta gigi. Antrinya pol, hingga adzan maghrib berkumandang, jadinya berbuka di indomaret beli sebotol aqua tanggu di minum bersama, syarat membatalkan puasa aja. Menurutku ini indah berkesan berbuka pertama kali dipinggir jalan dengan Maz Robin hanya dengan sebotol aqua.

Nyampek pondok seluruh santri sedang berjemaah, mereka belum berbuka, sholat dulu, hanya saja mereka sudah minum, sama seperti yang kami lakukan. Setelah sholat kami lanjut berbuka puasa, nasi bungkusan, nasi pecel ikan telor ama tempe ditambah ceker ayam dan teh hangat, ada juga kerupuk, nyaman dan mantap.

Isak berkumandang, solat isak dan tarawihpun dimulai. Lama, yang ngimami mbah, baca surat-surat panjang, ngantuk dan lelah jadinya. Tetap semangat, gak boleh, gak sholat. Ikut, tetap harus ikut hingga selesai. Santri disampingku yang ikut jemaah sudah "protol" gak ikut lagi mereka, pulang. Mereka santri kalong atau alumni yang ikut serta jemaah terawih disini.

Malam ini turun hujan, insya'alloh hujan rahmad dan keberkahan. Amien. Tadurannsanya libur, di isi ngobrol bareng ama para santrinya mbah yang sudah tua, gak ikut nimbrung. Ngumpul sama maz robin aja, ngbrol dengannya biar tambah lebih akrab.

Selang tak berapa lama, aku lihat whastaap ada orang nyari mobil avanza. Q telpon samsuri, dia temanku diwaktu sekolah aliyah dulu. Katanya masih ada, tapi tunggu di cekkan besok. Semoga jodoh dan laku terjual, agar ke uanganku sedikit banyak terbantu dengan itu. Amien.

Sudah malam, sudah waktunya membaca wirid yang diberikan abah, trus lanjut tidur. Kulihat diluar masih ada santri yang bekerja ngecat rumahnya abah bagian luar, catnya warna putih sedikit abu-abu. Tiba2 Aku ditawari jajan sama mereka, aku ngambil kita ngobrol.

Mereka cerita, kalau hatam disini harus riyadlah jalan kaki dari sunan ampel, mbah holil bangkalan hingga batu ampar madura. Perjalan itu mereka tempuh kurang lebih empat hari perjalanan siang dan malam. Setelah nyampek di batu ampar, maka para santri wajib hatam quran satu orang satu kali hatam. Mereka hebat bisa melakukan itu. Apa manfaatnya?, kata mereka agar ilmu yang diajarkan mbah tarom bisa bermaafaat dan melekat dunia hingga akherat.