Dalam
keramahan malam disudut kota terindah yang selalu q kunjungi,, ditempat biasa
dalam riang nyanyian lagu pengamen jalanan. kehangatan kopi pahit terasa hingga
membuat ubun2 berdiri bersama kenikmatan. Disampingq terdapat banyak teks
berkeliaran bersama tawa-tawa tak beraturan. setiap berapa menit sekali
nyanyian rel kereta api serta belnya bersautan mengikuti irama malam yang
cerah. Kesendirianku ini lebih menyakitkan daripada sakit hati,.,.. tergambar
jelas pada diriku. dalam sadar, malam ini aku memikirkan seseorang yang q kenal
lewat pertemuan yang aneh. yang begitu mengejutkan dalam ketidaksengajaan,
seolah ini takdir Tuhan.
---°°---
Sabtu
pagi sepulang dari kampus menuju tempat kosan bu Paijah. mendadak temanku Aziz mengajakku
mengunjungi museum sebagai salah satu tempat penelitian akhirnya, ia
kebingungan dengan penelitian akhirnya itu. meskipun diriku juga sedang dalam
tugas akhir yang sama. tetap saja q ikut temanku Aziz.
Di
musium banyak terdapat data yang dibutuhkan. Aziz sibuk dengan pencarian
datanya. dan saya sibuk dengan absen di tempat lobi musium. berlama2 di lobi
musium tak hanya sekedar mengisi absen. tanpa adanya niat, q bertanya-tanya ke
penjaga lobi yang q tau namanya fifi, cantik q bilang dan sangat cantik q rasa.
akhirnya q kenalan denganya, tanpa memikirkan Aziz yang telah selesai dengan
datanya. tanpa berpikir panjang q minta pin bbnya fifi, ternyata ia tak punya.
Selang
beberapa waktu, berhari-hari diriku mengerjakan teks skripsi yang sangat melelahkan
pikiran. ternyata ada data yang kurang, yang mengharuskan tuk mencarinya. q
tanya-tanya ternyata data itu terdapat di musium yang telah q kunjungi beberapa
waktu lalu bersama Aziz. selanyaknya pengunjung, q mengikuti prosedur musium.
mengisi absen dan tak diperbolehkan memotret. ditempat lobi ternyata bukan Fifi
yang jaga, gerah hati ini. ku lanjutkan mencari data untuk mengisi kekurangan
skripsiku.
Berjam-jam
q mengitari musium dan kucatat apa yang di butuhkan untuk mengisi skripsiku.
untuk sementara dalam pikirq terasa cukup. ketika q berjalan ke pintu keluar,
terasa dalam tubuh ini getaran yang luar biasa sepertinya q mati rasa untuk
melangkahkan kaki keluar musium. q tak bisa memalingkan wajahq tuk menghindar
dari memandang dirinya. entah apa yang kurasa, seperti ada lagu klasik yang
bernyanyi di telingaq "pandangan pertama, awal aku berjumpa".
entahlah apa yang kurasa ini.
Fifi
sepertinya tau kedatanganku, dan tersenyum kecil seperti kepada pengjung lainnya.
Ia menggantikan temannya yang sudah selesai jadwal tugas tunggunya di musium. q
terkadang kasihan dengan pekerjaan ini, sebab di musim yang nilai ketertarikan
masyakat pada sejarah minim. hingga membuat musium begitu sepi dari pengunjung.
terkadang dalam satu hari yang datang satu, dua, tiga orang. jika ramai
biasanya ada program dari sekolah untuk mengunjungi musium. barulah musium itu
ramai, yang membuat fifi tak terasa sepi. dan sibuk dengan kata yang monoton
"silakan diisi absenya dulu".
Sangat
lama dia bercerita tentang musium kepadaq, ia sama sekali tidak beranjak dari
tempat duduknya. sepertinya ia senang dengan kedatangq. akhirnya q pamit pulang
duluan. dia tak mau untuk ditunggu, sebab ada keluarganya yang akan
menjemputnya. didalam perjalanan pulang, pikiranq yang pusing memikirkan tugas
akhir sedikit berkurang, senyuman Fifi menjadi penyembuh pikiranq yang sedang
ruwet. kupasrahkan saja apa yang kurasakan ini kepada Tuhan. q tak mau diakhir
tugasq terbengkalai gara2 sosok yang baru kukenal. meskipun dalam hatiq ada
teks yang terucap "Tuhan jika ia jodohku dekatkanlah dan jika bukan
jodohku maka jodohkanlah denganku". doa paksaan yang membuatku tertawa
sendiri dalam perjalanan pulang.
---°°---
Malam
ini, malam terakhir. dimana esok adalah ujian akhirku. skripsiku akan diuji
oleh para penguji. sukurnya q sudah siap dengan apa yang kan diujikan pada q
tentang isi skrisiq. q jadikan malam ini bersantai doa pada Tuhan. meminta
kelacaran dalam menjalankan ujian skripsi. anehnya sosok wajah Fifi q ingat
begitu jelas, yang sudah hampir q lupa sebab kesibukanku dalam mengerjakan
skripsi. pikiran anehku menjalar ke bibirku yang tanpa sadar q tersenyum
sendiri mengingatnya.
Di
kampus, sudah banyak temanku2 yang menunggu untuk di uji. pakaian putih, celana
hitam tak lupa memakai dasi. pemandangan yang sangat biasa dikampusq jika
diadakan ujian skripsi. "selanjutnya....", panggilan itu yang biasanya
membuat kami merasa degdegan. para mahasiswa biasanya menunggu giliran, ada
yang belajar ada yang ngobrol dan ada yang asyik dengan dirinya sendiri. tiba-tiba
ada yang keluar dari pintu tempat para penguji. ia tak sempat bernafas banyak
banyak yang mengkerumuninya, gmna ujiannya?. akhirnya Tiba giliranku.
Aku
lulus. teriakanku mengema diruangan tunggu yang dilihat banya teman2q. pelukan
banyak mendarat ditubuhku. selamatnya..selamatnya..., ucapan itu bergiliran
antri menggedor gendang telingaku. tak terasa air mata haru menetes pada
pipiku, yang mengiringi sujud sukurku. aku sangat bahagia sebab usahaku selama
ini tak sia-sia. terimakasih pada setiap semangat yang diberikan orang tuaq dan
temanq2. terimakasih pula pada guru-guruku. aku bahagia, anehnya dalam bahagia
ini ku ingat dia. dia, yang pertemuannya hanya sekejap mata.
Entahlah,
apa yang terjadi pada diriku. q pacu sepeda motorku menuju musium. q ingin
bertemu dengan Fifi. q ingin berbagi kebahagian ini denganya. q ingin bercerita
padanya tentang ujianku ini. q ingin ia tau bahwa diriku sekarang bergelar
sarjana. bahwa diriku sudah lulus dari almamaterku. bahwa aku cinta padanya, q
ingin katakan seluruh hasrat jiwa ini padanya...
Di
musium, diriku sangat kecewa. ternyata Fifi sudah tidak lagi bertugas di
musium, sudah satu bulan lebih. tak kehabisan akal, q minta alamat rumah Fifi.
serta no telponnya. awalnya putagas musium tak memberikannya. hingga q jelaskan,
bahwa ini masalah hati. barulah diberikan begitu bahagianya hati ini. alamat
dan no telponya ada padaku sekarang. tak sabar q ingin menghubunginya langsung.
tapi hati masih belum mampu untuk mendengar suaranya, yang sudah lama tak
kudengar lembut suaranya. mungkin, besok sajalah sebab hari ini q ingin pulang
dengan bahagia.
---°°---
Halo,
Fifi?. ternyata yang mengakat telfon adalah ibunya. q ceritakan hal ihwal
tentang diriku padanya. q ingin bermain kerumahnya Fifi. anehnya seakan-akan q
mendengar, ia seperti menangis terisak-isak. ia menyuruhku datang kerumahnya,
katanya Fifi ingin bertemu denganku. dan tidak ingin bicara lewat telpon
denganku. pikiranku berkecamuk antara senang dan bertanya-tanya. khayalan
anehku datang lagi, mungkin ia juga merindukan dan mencintaiku. tanpa aba-aba
diriku tersenyum mengkhayal kebahagiaan dengannya.
Keesokan
malam, dengan persiapan hati yang matang. kan bertemu dengan fifi, kan kutakan
padanya q cinta padanya. assalamualaikum?, waalaikumsalam, pintu rumah fifi terbuka.
ku lihat bukan fifi yang membuka pintu. ibunya, yang kulihat matanya sembab
seperti menangis begitu lama. ternyata benar, ia menangis dan menceritakan
semuanya padaku, tentang fifi. tentang pujaan hatiku.
Air
mata ini tak kuasa bertahan lebih lama. ia menetes mengaliri pipiku begitu
deras. cerita fifi yang berjuang untuk hidup dari penyakitnya. mencapai
klimaks, itu bertepatan dihari dimana q sedang mengikuti ujian skripsi. namaku,
adalah ucapan pesan yang disampaikan Fifi pada ibunya. ia menitipkan surat
padaku. surat yang tak boleh q baca, kecuali sendirian.
Q
pacu sepeda motorku. q tak kuasa menahan tangisku. q berhenti di sudut kota,
berima rel kereta api. tak kuasa tuk membuka surat dari fifi. kupaksakan tubuh
ini tuk membaca surat ini…
Dear,
mas faisal…
Entah
q mulai dari mana surat yang kutulis ini untukmu, tanganku serasa kaku tuk
menuliskan setiap kata untukmu. Anehnya q ingin tulis saja surat ini untukmu,
kata demi kata kususun untuk menyapa dirimu melalui tulisan ini. Hanya tulisan
ini yang bisa mewakili batinku yang begitu rapuh dalam menyapamu. Menyapamu,
untuk sejenak dalam beberapa menit dengan tulisan ini. Sebab, jika tulisan ini
ada ditanganmu berarti diriku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Q
tau, q bukan siapa2 dihadapmu. Pertemuan pertama kita hanya sebatas perkenalan
sejenak. Tetapi, jika dirimu merasa itu hanya pertemuan tanpa arti. Diriku
ternyata berbeda, pertemuan itu seakan membuatku kan hidup untuk beberapa lama
lagi, seperti ada semangat yang tumbuh dalam dada ini. Hingga kuyakinkan pada
diriku dan kutanyakan, benarkah dirimu penyamangat itu?.
Terasa
aneh dalam tubuh ini, berhari-hari q memikirkan dirimu setelah pertemuan itu.
Ketika q di museum, setiap pengunjung yang datang, q berharap itu dirimu. Q
hanya ingin melihat dirimu, berkeliling melihat-lihat di museum. Hati ini
terasa begitu senang. Meskipun itu lamunanq setiap saat setiap waktu dalam
proses penyembuhanq, hal itu membuatku merasa ada tongkat yang menuntunku untuk
memulai hidup baru. Ya. Itu dirimu, dirimu yang sebenarnya ingin q panggil
“kasih”.
Ndak
pa2kan, hehe. Jika dirimu q panggil “kasih”?. Toh diriku sudah tidak ada lagi
di dunia ini. Dan q ndak malu jika dirimu tak cinta aku. Hehe.
Aku
terus berdansa dengan pikiranku, menjauhkan sakitku dari tubuhku. Aku ingin
berlari kembali seperti masa kecilku. Aku ingin berteriak tanpa rasa malu di
emperan rumahku. Aku ingin menikmati hari seperti teman2 seumuranku. Bukannya
menikmati hari dengan berkegiatan untuk sedikit menghilangkan penatku. Agar
pikirku tak beku, agar ada motivasi hidup dalam proses penyembuhanku. Dimuseum,
atas saran dokter. Disanalah diriku, sedikit tau tentang dunia. Aku membaca
beberapa naskah-naskah kuno, dan kutemukan kenikmatan didalamnya. Kenikmatan
serta keindahan masa lalu yang tak terlukiskan. Hingga beberapa bulan lalu,
diriku bertemu denganmu. Mengubah semua kenikmatan pikir ilmiahq menjadi
kenikmatan cinta.
Mas
faisal, q tau selama ini kamu sibuk dengan tugas skripsimu. Q berdoa semoga
engkau cepat selesai. Sebab kata temanku, skripsi yang baik adalah skripsi yang
selesai. Hehehe.. semangat mas. Maaf diriku tidak bisa bantu untuk tugas
akhirmu itu. Hanya doa yang selalu q pinta pada Tuhan agar tugas akhirmu cepat
selesai. Pasti sekarang dah selesai kan? Dan dirimu tinggal menunggu wisuda.
Maafnya q ndak bisa hadir tuk lihat wisudamu, meskipun q hadir, itu mungkin
tidak ada artinya bagimu. Sebab q bukan siapa2. Hanya kasih dalam tulisan ini
saja.
Waktu
sidang skripsimu, q tau dirimu sedang fokus untuk itu. Sukurnya, pada waktu itu
juga sepertinya Tuhan memberikan sedikit padaku, memberikan kekuatan padaku
untuk menulis ini. Meskipun waktu itu q sedang dalam keadaan kritis dirumah
sakit. Yang kuingat dirimu saja, q ingin kamu tau bahwa hingga detik ini rindu
q padamu begitu kuat. Rindu ini sepertinya memakan setiap sel dalam tubuhku,
rindu ini lebih kejam dari penyakitku ini. Rindu ini perlahan-lahan seperti
akan membunuhku dengan racun kebahagian. Sungguh, meskipun rindu ini sakit tapi
aku bahagia. Sangat bahagia, bahagia melihat senyummu meskipun sesaat. Bahagia
mendengar suaramu meskipun itu sudah tak terdengar lagi. Q hanya ingin kau tau,
rindu inilah yang selama ini membuat diriku sedikit bertahan. Seakan-akan aku
memaksa Tuhan untuk tidak memanggilku dulu, sebelum q tuangkan rindu ini kedalam
tulisan yang kubuat untukmu. Sepertinya Tuhan menginyakan pintaku, q sangat
bersukur. Q hanya bisa menangis sedikit, sebenarnya bukan sedikit sih.
Sebenarnya q malu tuk menangis. Sebab disampingq banyak keluargaku yang
melihat. Q ndak perduli, mataku sepertinya buta dan hanya melihat satu nama, ya
itu dirimu. Kamu segalanya bagiku mas, kamu adalah cinta pertama dan
terakhirku. Kamu adalah rindu yang tak beku di makan waktu. Kamu laki-laki yang
diriku cinta hingga mati…
Mas
faisal, yang q ingin ketika dirimu membaca surat ini bukan untuk menjadi
pesimis hidup didunia ini. Hidup ini indah mas, tetap semangat dalam menghadapi
hidup ini. Jadikan diriku sebagian kisah dalam hidupmu. Salah satu kisah yang
membuat dirimu hidup dengan optimis, selalu bahagia dan ceria. Jika dikemudian
hari dirimu punya masalah, ingatlah kisahku ini mas, agar dirimu tau hidup ini
bukan untuk lari dari masalah tapi terus harus dihadapi hingga masalah itu
selesai. Hingga kita bisa menjadikan masalah jadi cerita yang menyenangkan dikemudian
hari.
Mas,
sepertinya tubuhku sudah tidak kuat lagi tuk melanjutkan tulisan ini. Q
bersukur bisa mencintai dirimu, meskipun q tak tau apakah dirimu juga
mencintaiq. Q hanya minta maaf jika tulisan ini menggangu pikiranmu. Q hanya
ingin engkau tau mas, q benar-benar mencintaimu. Jika Tuhan mengizinkan diriku,
q ingin jadi bidadarimu kelak, Q akan menunggu dirimu mas. Menunggumu dengan
rindu, menunggumu dengan cinta, menunggu dengan setia.
Selamat
tinggal mas!
Yang
mencintaimu
Fifi
Puspita Sari
0 komentar:
Posting Komentar