Rabu, 19 November 2014

MALAM TANPA BULAN


Dalam keramahan malam disudut kota terindah yang selalu q kunjungi,, ditempat biasa dalam riang nyanyian lagu pengamen jalanan. kehangatan kopi pahit terasa hingga membuat ubun2 berdiri bersama kenikmatan. Disampingq terdapat banyak teks berkeliaran bersama tawa-tawa tak beraturan. setiap berapa menit sekali nyanyian rel kereta api serta belnya bersautan mengikuti irama malam yang cerah. Kesendirianku ini lebih menyakitkan daripada sakit hati,.,.. tergambar jelas pada diriku. dalam sadar, malam ini aku memikirkan seseorang yang q kenal lewat pertemuan yang aneh. yang begitu mengejutkan dalam ketidaksengajaan, seolah ini takdir Tuhan.
---°°---
Sabtu pagi sepulang dari kampus menuju tempat kosan bu Paijah. mendadak temanku Aziz mengajakku mengunjungi museum sebagai salah satu tempat penelitian akhirnya, ia kebingungan dengan penelitian akhirnya itu. meskipun diriku juga sedang dalam tugas akhir yang sama. tetap saja q ikut temanku Aziz.
Di musium banyak terdapat data yang dibutuhkan. Aziz sibuk dengan pencarian datanya. dan saya sibuk dengan absen di tempat lobi musium. berlama2 di lobi musium tak hanya sekedar mengisi absen. tanpa adanya niat, q bertanya-tanya ke penjaga lobi yang q tau namanya fifi, cantik q bilang dan sangat cantik q rasa. akhirnya q kenalan denganya, tanpa memikirkan Aziz yang telah selesai dengan datanya. tanpa berpikir panjang q minta pin bbnya fifi, ternyata ia tak punya.
Selang beberapa waktu, berhari-hari diriku  mengerjakan teks skripsi yang sangat melelahkan pikiran. ternyata ada data yang kurang, yang mengharuskan tuk mencarinya. q tanya-tanya ternyata data itu terdapat di musium yang telah q kunjungi beberapa waktu lalu bersama Aziz. selanyaknya pengunjung, q mengikuti prosedur musium. mengisi absen dan tak diperbolehkan memotret. ditempat lobi ternyata bukan Fifi yang jaga, gerah hati ini. ku lanjutkan mencari data untuk mengisi kekurangan skripsiku.
Berjam-jam q mengitari musium dan kucatat apa yang di butuhkan untuk mengisi skripsiku. untuk sementara dalam pikirq terasa cukup. ketika q berjalan ke pintu keluar, terasa dalam tubuh ini getaran yang luar biasa sepertinya q mati rasa untuk melangkahkan kaki keluar musium. q tak bisa memalingkan wajahq tuk menghindar dari memandang dirinya. entah apa yang kurasa, seperti ada lagu klasik yang bernyanyi di telingaq "pandangan pertama, awal aku berjumpa". entahlah apa yang kurasa ini.
Fifi sepertinya tau kedatanganku, dan tersenyum kecil seperti kepada pengjung lainnya. Ia menggantikan temannya yang sudah selesai jadwal tugas tunggunya di musium. q terkadang kasihan dengan pekerjaan ini, sebab di musim yang nilai ketertarikan masyakat pada sejarah minim. hingga membuat musium begitu sepi dari pengunjung. terkadang dalam satu hari yang datang satu, dua, tiga orang. jika ramai biasanya ada program dari sekolah untuk mengunjungi musium. barulah musium itu ramai, yang membuat fifi tak terasa sepi. dan sibuk dengan kata yang monoton "silakan diisi absenya dulu".
Sangat lama dia bercerita tentang musium kepadaq, ia sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. sepertinya ia senang dengan kedatangq. akhirnya q pamit pulang duluan. dia tak mau untuk ditunggu, sebab ada keluarganya yang akan menjemputnya. didalam perjalanan pulang, pikiranq yang pusing memikirkan tugas akhir sedikit berkurang, senyuman Fifi menjadi penyembuh pikiranq yang sedang ruwet. kupasrahkan saja apa yang kurasakan ini kepada Tuhan. q tak mau diakhir tugasq terbengkalai gara2 sosok yang baru kukenal. meskipun dalam hatiq ada teks yang terucap "Tuhan jika ia jodohku dekatkanlah dan jika bukan jodohku maka jodohkanlah denganku". doa paksaan yang membuatku tertawa sendiri dalam perjalanan pulang.
---°°---
Malam ini, malam terakhir. dimana esok adalah ujian akhirku. skripsiku akan diuji oleh para penguji. sukurnya q sudah siap dengan apa yang kan diujikan pada q tentang isi skrisiq. q jadikan malam ini bersantai doa pada Tuhan. meminta kelacaran dalam menjalankan ujian skripsi. anehnya sosok wajah Fifi q ingat begitu jelas, yang sudah hampir q lupa sebab kesibukanku dalam mengerjakan skripsi. pikiran anehku menjalar ke bibirku yang tanpa sadar q tersenyum sendiri mengingatnya.
Di kampus, sudah banyak temanku2 yang menunggu untuk di uji. pakaian putih, celana hitam tak lupa memakai dasi. pemandangan yang sangat biasa dikampusq jika diadakan ujian skripsi. "selanjutnya....", panggilan itu yang biasanya membuat kami merasa degdegan. para mahasiswa biasanya menunggu giliran, ada yang belajar ada yang ngobrol dan ada yang asyik dengan dirinya sendiri. tiba-tiba ada yang keluar dari pintu tempat para penguji. ia tak sempat bernafas banyak banyak yang mengkerumuninya, gmna ujiannya?. akhirnya Tiba giliranku.
Aku lulus. teriakanku mengema diruangan tunggu yang dilihat banya teman2q. pelukan banyak mendarat ditubuhku. selamatnya..selamatnya..., ucapan itu bergiliran antri menggedor gendang telingaku. tak terasa air mata haru menetes pada pipiku, yang mengiringi sujud sukurku. aku sangat bahagia sebab usahaku selama ini tak sia-sia. terimakasih pada setiap semangat yang diberikan orang tuaq dan temanq2. terimakasih pula pada guru-guruku. aku bahagia, anehnya dalam bahagia ini ku ingat dia. dia, yang pertemuannya hanya sekejap mata.
Entahlah, apa yang terjadi pada diriku. q pacu sepeda motorku menuju musium. q ingin bertemu dengan Fifi. q ingin berbagi kebahagian ini denganya. q ingin bercerita padanya tentang ujianku ini. q ingin ia tau bahwa diriku sekarang bergelar sarjana. bahwa diriku sudah lulus dari almamaterku. bahwa aku cinta padanya, q ingin katakan seluruh hasrat jiwa ini padanya...
Di musium, diriku sangat kecewa. ternyata Fifi sudah tidak lagi bertugas di musium, sudah satu bulan lebih. tak kehabisan akal, q minta alamat rumah Fifi. serta no telponnya. awalnya putagas musium tak memberikannya. hingga q jelaskan, bahwa ini masalah hati. barulah diberikan begitu bahagianya hati ini. alamat dan no telponya ada padaku sekarang. tak sabar q ingin menghubunginya langsung. tapi hati masih belum mampu untuk mendengar suaranya, yang sudah lama tak kudengar lembut suaranya. mungkin, besok sajalah sebab hari ini q ingin pulang dengan bahagia.

---°°---
Halo, Fifi?. ternyata yang mengakat telfon adalah ibunya. q ceritakan hal ihwal tentang diriku padanya. q ingin bermain kerumahnya Fifi. anehnya seakan-akan q mendengar, ia seperti menangis terisak-isak. ia menyuruhku datang kerumahnya, katanya Fifi ingin bertemu denganku. dan tidak ingin bicara lewat telpon denganku. pikiranku berkecamuk antara senang dan bertanya-tanya. khayalan anehku datang lagi, mungkin ia juga merindukan dan mencintaiku. tanpa aba-aba diriku tersenyum mengkhayal kebahagiaan dengannya.
Keesokan malam, dengan persiapan hati yang matang. kan bertemu dengan fifi, kan kutakan padanya q cinta padanya. assalamualaikum?, waalaikumsalam, pintu rumah fifi terbuka. ku lihat bukan fifi yang membuka pintu. ibunya, yang kulihat matanya sembab seperti menangis begitu lama. ternyata benar, ia menangis dan menceritakan semuanya padaku, tentang fifi. tentang pujaan hatiku.
Air mata ini tak kuasa bertahan lebih lama. ia menetes mengaliri pipiku begitu deras. cerita fifi yang berjuang untuk hidup dari penyakitnya. mencapai klimaks, itu bertepatan dihari dimana q sedang mengikuti ujian skripsi. namaku, adalah ucapan pesan yang disampaikan Fifi pada ibunya. ia menitipkan surat padaku. surat yang tak boleh q baca, kecuali sendirian.
Q pacu sepeda motorku. q tak kuasa menahan tangisku. q berhenti di sudut kota, berima rel kereta api. tak kuasa tuk membuka surat dari fifi. kupaksakan tubuh ini tuk membaca surat ini…

Dear, mas faisal…
Entah q mulai dari mana surat yang kutulis ini untukmu, tanganku serasa kaku tuk menuliskan setiap kata untukmu. Anehnya q ingin tulis saja surat ini untukmu, kata demi kata kususun untuk menyapa dirimu melalui tulisan ini. Hanya tulisan ini yang bisa mewakili batinku yang begitu rapuh dalam menyapamu. Menyapamu, untuk sejenak dalam beberapa menit dengan tulisan ini. Sebab, jika tulisan ini ada ditanganmu berarti diriku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Q tau, q bukan siapa2 dihadapmu. Pertemuan pertama kita hanya sebatas perkenalan sejenak. Tetapi, jika dirimu merasa itu hanya pertemuan tanpa arti. Diriku ternyata berbeda, pertemuan itu seakan membuatku kan hidup untuk beberapa lama lagi, seperti ada semangat yang tumbuh dalam dada ini. Hingga kuyakinkan pada diriku dan kutanyakan, benarkah dirimu penyamangat itu?.
Terasa aneh dalam tubuh ini, berhari-hari q memikirkan dirimu setelah pertemuan itu. Ketika q di museum, setiap pengunjung yang datang, q berharap itu dirimu. Q hanya ingin melihat dirimu, berkeliling melihat-lihat di museum. Hati ini terasa begitu senang. Meskipun itu lamunanq setiap saat setiap waktu dalam proses penyembuhanq, hal itu membuatku merasa ada tongkat yang menuntunku untuk memulai hidup baru. Ya. Itu dirimu, dirimu yang sebenarnya ingin q panggil “kasih”.
Ndak pa2kan, hehe. Jika dirimu q panggil “kasih”?. Toh diriku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan q ndak malu jika dirimu tak cinta aku. Hehe.
Aku terus berdansa dengan pikiranku, menjauhkan sakitku dari tubuhku. Aku ingin berlari kembali seperti masa kecilku. Aku ingin berteriak tanpa rasa malu di emperan rumahku. Aku ingin menikmati hari seperti teman2 seumuranku. Bukannya menikmati hari dengan berkegiatan untuk sedikit menghilangkan penatku. Agar pikirku tak beku, agar ada motivasi hidup dalam proses penyembuhanku. Dimuseum, atas saran dokter. Disanalah diriku, sedikit tau tentang dunia. Aku membaca beberapa naskah-naskah kuno, dan kutemukan kenikmatan didalamnya. Kenikmatan serta keindahan masa lalu yang tak terlukiskan. Hingga beberapa bulan lalu, diriku bertemu denganmu. Mengubah semua kenikmatan pikir ilmiahq menjadi kenikmatan cinta.
Mas faisal, q tau selama ini kamu sibuk dengan tugas skripsimu. Q berdoa semoga engkau cepat selesai. Sebab kata temanku, skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Hehehe.. semangat mas. Maaf diriku tidak bisa bantu untuk tugas akhirmu itu. Hanya doa yang selalu q pinta pada Tuhan agar tugas akhirmu cepat selesai. Pasti sekarang dah selesai kan? Dan dirimu tinggal menunggu wisuda. Maafnya q ndak bisa hadir tuk lihat wisudamu, meskipun q hadir, itu mungkin tidak ada artinya bagimu. Sebab q bukan siapa2. Hanya kasih dalam tulisan ini saja.
Waktu sidang skripsimu, q tau dirimu sedang fokus untuk itu. Sukurnya, pada waktu itu juga sepertinya Tuhan memberikan sedikit padaku, memberikan kekuatan padaku untuk menulis ini. Meskipun waktu itu q sedang dalam keadaan kritis dirumah sakit. Yang kuingat dirimu saja, q ingin kamu tau bahwa hingga detik ini rindu q padamu begitu kuat. Rindu ini sepertinya memakan setiap sel dalam tubuhku, rindu ini lebih kejam dari penyakitku ini. Rindu ini perlahan-lahan seperti akan membunuhku dengan racun kebahagian. Sungguh, meskipun rindu ini sakit tapi aku bahagia. Sangat bahagia, bahagia melihat senyummu meskipun sesaat. Bahagia mendengar suaramu meskipun itu sudah tak terdengar lagi. Q hanya ingin kau tau, rindu inilah yang selama ini membuat diriku sedikit bertahan. Seakan-akan aku memaksa Tuhan untuk tidak memanggilku dulu, sebelum q tuangkan rindu ini kedalam tulisan yang kubuat untukmu. Sepertinya Tuhan menginyakan pintaku, q sangat bersukur. Q hanya bisa menangis sedikit, sebenarnya bukan sedikit sih. Sebenarnya q malu tuk menangis. Sebab disampingq banyak keluargaku yang melihat. Q ndak perduli, mataku sepertinya buta dan hanya melihat satu nama, ya itu dirimu. Kamu segalanya bagiku mas, kamu adalah cinta pertama dan terakhirku. Kamu adalah rindu yang tak beku di makan waktu. Kamu laki-laki yang diriku cinta hingga mati…
Mas faisal, yang q ingin ketika dirimu membaca surat ini bukan untuk menjadi pesimis hidup didunia ini. Hidup ini indah mas, tetap semangat dalam menghadapi hidup ini. Jadikan diriku sebagian kisah dalam hidupmu. Salah satu kisah yang membuat dirimu hidup dengan optimis, selalu bahagia dan ceria. Jika dikemudian hari dirimu punya masalah, ingatlah kisahku ini mas, agar dirimu tau hidup ini bukan untuk lari dari masalah tapi terus harus dihadapi hingga masalah itu selesai. Hingga kita bisa menjadikan masalah jadi cerita yang menyenangkan dikemudian hari.
Mas, sepertinya tubuhku sudah tidak kuat lagi tuk melanjutkan tulisan ini. Q bersukur bisa mencintai dirimu, meskipun q tak tau apakah dirimu juga mencintaiq. Q hanya minta maaf jika tulisan ini menggangu pikiranmu. Q hanya ingin engkau tau mas, q benar-benar mencintaimu. Jika Tuhan mengizinkan diriku, q ingin jadi bidadarimu kelak, Q akan menunggu dirimu mas. Menunggumu dengan rindu, menunggumu dengan cinta, menunggu dengan setia.
Selamat tinggal mas!

Yang mencintaimu
Fifi Puspita Sari



0 komentar:

Posting Komentar