Selasa, 17 Februari 2015

KEPRIBADIAN MUSLIM DAN PEMBENTUKANNYA



A.    Pendahuluan
Pandangan Ibn Qayyim tentang manusia bahwa asal mulanya adalah dari tanah dan dilahirkan dari air yang hina, bahwa manusia diciptakan dari satu gumpalan yang Allah gumpalkan dari segala unsur tanah, yang tanah itu terdapat segala unsur baik, yang kotor, yang mudah, yang sedih, yang mulia, dan yang hina, hal itu terjadi ketika Allah mengutus malaikat jibril lalu malaikat itu mengepal suatu gumpalan kemudian menutupi gumpalan itu hingga menjadi tanah, gumpalan tanah itu dibuat bentuk manusia lalu ditiupkan ruh kepadanya, ketika ruh itu telah masuk kedalam gumpalan tanah yang telah berbentuk daging, darah, dan menjadi makhluk hidup yang berbicara. Kemudian Allah perintahkan para malaikat-malaikatnya untuk sujud kepadanya dan Allah mengajarkan kepadanya tentang nama-nama dari segala sesuatu, bahwa manusia dimulyakan dengan akal, ilmu pengetahuan, pemahaman, keterangan dan berbicara. Bahwa manusia diberi keistimewaan yaitu memiliki rasa malu. Manusia diberi keistimewaan dengan keterangan yaitu yang dibaca (Al-quran) dan yang dilihat (alam raya). Manusia memiliki kemampuan belajar karena telah diberikan kepadanya sarana-sarana tertentu untuk belajar. Manusia memiliki keistimewaan dengan memiliki kecendrungan dan tabi’at yang dapat membantunya dalam melaksanakan kemaslahatan-kemaslahatannya. Manusia memiliki kekuatan, syahwat dan kemaluan. Perintah-perintah Allah tidak akan terpisah dari manusia hingga manusia menghadapnya. Bahwa manusia tidak diciptakan sia-sia. Manusia memiliki keistimewaan dalam hal bentuk dan rupanya. Manusia adalah satu unit yang tidak terpisah-pisah, terdiri dari jiwa: akal, dan jasmani.[1]
Penciptaan manusia yang istimewa membawa kepada suatu masalah baru, keistimewaan yang disandang adalah sebuah kemaslahatan atau sebuah kenikmatan. Manusia seperti apa yang akan menjadikan ia sebagai penciptaan yang benar-benar istimewa. Adakalanya, dikarnakan manusia hidup dalam penciptaan social, ia seutuhnya hanyalah bagian yang terpisah dari satu kesatuan. Hinggga ada petuah yang jika manusia bisa memanusiakan manusia yang lainnya, maka ia adalah manusia yang istimewa. Akan tetapi hubungan semacam ini tidak telepas dari “siapa yang mencipta” dan “dimana ia hidup”. Basis semacam ini bagi manusia merupakan proses yang panjang, meskipun ukuran kehidupan dicontohkan pada umur nabi. Akhirnya tidak akan ada yang tau, karna kita sebagai manusia bukan penentu, siapakah yang akan mendapatkan title manusia seutuhnya di mata Tuhan.

B.     Pembahasan
Kepribadian seorang muslim merupakan jati diri dari “selimut” kehidupannya. Muslim sejati tidaklah tercapai manakala konsep-konsep yang diajarkan baginda nabi sebagai suri tauladan yang baik tidak di patrikan dalam hati serta di amalkan. Ajaran-ajaran baginda Nabi tidaklah mudah didapat hanya pada proses pembelajaran yang sifatnya stagnan. Ajaran-ajaran ini ada pada alam materi dan alam metafisik yang penggabungan kedua merupakan wadah air kehidupan yang saat ini mulai terasa langka. Sebagai Muslim (baca: bukan muslim KTP) hendaklah proses pengetahuan dari segala arah yang sifatnya berbekas pada ajaran syariah, tidaklah dijadikan sebagai ajang pencarian dunia, biarkan pipa ilmu itu mengalir pada kekosongan tong-tong dijalanan. Karna dilihat dari kehidupan kepribadian umat saat ini, dengan adanya era global yang begitu cepat, mulai dari media komunikasi hingga tatabusana. Mengakibatkan proses tumpul dan lemahnya jiwa muslim saat ini dalam akidah. Jika, percepatan tersebut tidak dibarengi dengan pengamalan-pengamalan ijtihad para alim ulama dalam menafsirakan sabda-sabda Nabi maupun firman Tuhan.
Penulis tidak tau, apakah saat ini adalah era dimana Tuhan membiarkan makluknya berlomba-lomba untuk mendapatkan alam materi? Ataukah itu hanya sebuah lelucon Tuhan untuk manusia seperti itu. Atau ini hanya permulaan dari akhir dunia yang dizaman itu manusia hidup dalam kemakmuran. Atau penulis memang belum pandai untuk memahaminya. Ambil contoh, Negara kita tercinta “Indonesia”, sebuah Negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, aneh memang ketika berbicara adanya ajaran-ajaran baginda Nabi yang kemudian didudukkan kepada ranah kemasyakatan Indonesia (baca: politik) akan dijadikan tameng kebenaran pada kesalahan. Kemakmuran masyarakat ini tidak berujung manis jika dilihat dari kepribadian-kepribadian kaum muda. Dahulu, sentuhan tidaklah manis jika dibicarakan pada khalayak ramai, akan tetapi sentuhan pada proses pacaran adalah sebuah kebanggaan yang jika itu diunggkapkan pada khalayak akan menjadi sebuah pujian. Banyak pemberitaan-pemberitaan abmoral yang terjadi dimasyarat yang notabanenya adalah muslim. Ada apa ini, dan siapa yang salah?. Bisa jadi masyarakat Muslim kita adalah korban dari ketidaktahuan akan hubungan berinteraksi dengan alam, hubungan berinteraksi dengan sesama manusia, dan hubungan dengan pencipta. Sepertinya ada sedikit ego didalam diri kaum muslim, mereka tidak mau menerima pemetaan akan pentingnya kehidupan yang dinamis. Proses salah dan benar selalu dijadikan patokan, meskipun dasar-dasar penguatannya tak lebih pada konteks yang berbeda, dan ini harus dibuang. Sudut pandang ini yang seharusya dijadikan oleh khalayak sebagai konsep kehidupan. Karna kehidupan sebenarnya ada pada senyum penantian Tuhan. Anehnya lagi, banyak sekali manusia Muslim yang tidak mengerti akan hal ini. Mereka malah berbondong-bondong menyaksikan acara tausiah-tausiah yang di TV yang akhirnya pengertian yang mereka dapat hanya sebatas pada materi. Ada ruang kosong yang harus diisi oleh Manusia Muslim era ini, ruang kosong ini adalah kebaikan, memang banyak orang melakukan kebaikan. Tetapi, apakah mereka istiqomah dengan kebaikan mereka, mungkin hanya bertahan satu minggu, dua minggu, paling lama satu bulan. Selanjutnya terserah anda.
Pemetaan penulis dalam membangun kepribadian muslim dalam mengarungi kehidupan yang diberikan tuhan, diantaranya adalah:
1.      Hubungan Manusia dengan Pencipta
Berbicara materi tidak terlepas dari pencipta, dan berbicara manusia juga tidak telepas dari hubungan Manusia terhadap Tuhan. Tuhan tidaklah seperti tukang kayu yang meminta imbalan tatkala selesai dalam pembuatan meja, ia adalah dzat dimana kekuasaan, kebendaan, keabstrakan hanyut dalam dzatnya, ia tidak bisa disamakan dalam setiap keadaan makhluknya. Ia adalah keyakinan dalam penyembahan umat Muslim, ia dikata dengan asma agung, Allah. Tuhan ini adalah immateri yang harus dijadikan sesembahan. Bahasan seperti ini lebih popular dengan sebutan ber-Taqwa kepada Tuhan oleh kalangan Muslim. Sentuhan ruang taqwa ini, melalui filosofi pemikirannya, al-Kindi berkata:
“massa adalah esensi yang berdimensi tiga, yakni panjang, lebar dan tinggi. Massa itu tersusun dari esensi yang sejenisnya dan dari dimensi yang merupakan pisahan-pisahannya; massa tersusun dari materi dan bentuk, massa adalah tersusun, jika tidak ada gerak, tidak ada massa. Jadi massa dan gerak tidak bisa saling mendahului, dengan adanya gerak itu, ada waktu. Tidak ada massa tanpa waktu, sebab waktu ialah tidak lain bilangan gerak, yakni bahwa waktu ialah periode yang terhitungkan oleh gerak. Maka bila ada gerak, ada waktu; dan bila tidak ada gerak, tidak ada waktu. Dan gerak itu tak lain adalah massa. Maka bila ada massa, ada gerak; dan bila tidak ada massa tidak ada gerak. Gerak adalah perubahan keadaan; perubahan yang menyangkut hanya ruang setiap bagian massa itu saja, adalah gerak ruang perubahan-perubahan tempat batas massa itu, baik dengan mendekati intinya atau menjauhi, adalah peningkatan atau kemerosotan; perubahan kualitas-kualitas muatannya saja adalah transmutasi (al-istihalah); sedangkan perubahan mengenai esensi massa itu adalah pengadaan atau peniadaan”.[2]
Tafsir pendapat al-Kindi dijadikan dasar filosofi taqwa. Apabila massa adalah manusia itu sendiri, kualitas muatan suatu massa dianalogikan dengan ketaqwaan, esensi atau inti massa adalah tauhid, maka gerak batas massa mendekati esensi atau intinya adalah ruang taqwa yang tercipta. Semakin dekat jarak terhadap esensinya maka semakin kuatlah muatan taqwanya. Sebaliknya, semakin menjauhi batas esensinya maka makin lemahlah muatan taqwa tersebut. Taqwa merupakan proses penghambaan manusia terhadap Tuhan. Hal ini, menimbulkan hubungan yang tidak terpisahkan akan keinginan manusia mencari kedekatannya dengan Tuhan.
Manusia dan Tuhan kaitannya sangat erat. Sifat manusia yang sosial sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain untuk melakukan aktifitas dan kehidupan. Manusia mempunyai cita – cita, manusia juga mempunyai permasalahan dalam kehidupannya. Sehingga selain meminta pertolongan sesama, manusia  juga sering meminta pertolongan kepada Tuhan sebagai pencipta dari segalanya. Dengan cara apa? Dengan Bagaimana? mungkin pertanyaan itu sering muncul dibenak kita. Namun sebagai manusia yang mempunyai agama dan keyakinan kita punya cara berkomunikasi dengan Tuhan yaitu dengan cara yang sering kita sebut ber-Doa. Ber-Doa adalah salah satu cara komunikasi yang diajarkan oleh Agama apapun itu di dunia ini. Doa adalah berbicara dalam hati dengan keyakinan dan harapan yang akan kita harapkan terjadi dengan harapan Tuhan akan mengabulkan doa itu. Namun cara komunikasi dengan Tuhan tidak hanya dengan berdoa melainkan dengan cara beribadah yaitu melaksanakan peraturan dalam agama masing – masing. Sebagai ummat muslim ada beberapa hal, yang penulis simpulkan, ketika seorang muslim berhubungan dengan Tuhan.
a.       Beriman kepada Allah SWT. menurut cara-cara yang diajarkannya melalui wahyu yang disengaja diturunkannya untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup manusia
b.      Beribadah kepada Allah SWT. dengan jalan melaksanakan sholat lima waktu dalam sehari, menunaikan zakat apabila telah mencapai syarat nisab dan haulnya, berpuasa pada bulan suci ramadhan, dan melakukan ibadah haji seumur hidup sekali dengan cara-cara yang telah ditentukan
c.       Mensyukuri nikmat-Nya dengan jalan menerima, mengurus dan memanfaatkan semua karunia dan pemberian Allah kepada manusia.
d.      Bersabar menerima cobaan dari Allah dalam pengertian tabah, tidak putus asa ketika mendapat musibah.
e.       Memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan serta bertaubat dalam arti sadar untuk tidak lagi melakukan segala perbuatan jahat atau tercela.
f.        Belajar yang rajin, untuk mencapai gelar Magister. Dan kelak keilmuannya dijadikan sebagai Imam dalam berdakwah dijalan Tuhan.

2.      Hubungan Manusia dengan Manusia
Hubungan ini yang paling sulit, manusia yang merupakan ciptaan paling unik tidak bisa dikaitkan dengan idiologi persatuan antar manusia. Sebab penciptaan manusia diselingkan suatu perbedaan, perbedaan yang terkandang indah terkadang menyimpan sebuah misteri. Bagaimana tidak, kesibukan alam materi yang dikata dalam agama adalah sebuah proses perjuangan dan perjalanan, menimbulkan masalah bagi manusia dalam menjalankannya. Adakalanya proses penguatan pribadi manusia dijalankan oleh struktur yang sudah terbangun dari awal. Misalnya pondasi pendidikan yang dijalankan dengan taat, atau proses penghayatan dari perjalanan dalam sebuah pengalaman. Kesemuanya menimbulkan daya berfikir yang berbeda-beda, meskipun tujuan sama. Sama-sama ingin menuju kearah yang lebih baik, dalam ketentraman dunia dan akherat. Perbedaan yang timbul, membuka banyak arah, ada yang cepat, ada yang sedikit cepat, ada yang lambat ada yang sedikit lambat, adapula yang tak pernah sampai tujuan. Meskipun demikian, hubungan manusia antar manusia merupakan suatu simbiosis mutualism, sebab didalam diri manusia sudah tertanam jiwa social, yaitu berinteraksi sesama manusia.
Tatanan Umat muslim saat ini merupakan embrio dari aturan-aturan yang dibawa Nabi, Terutama dalam menanamkan nilai-nilai akhlak. akhlak secara terminology merupakan tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Perbuatan baik umat muslim sesama muslim terutama yang paling awal adalah meletakkan dasar keimanan serta penghambaan kepada Tuhan, melalui pengabdian kepada orang tua. Kemudian tumbuh kepada tatanan social yang lebih besar, mulai dari tingkat keluarga hingga tingkat pemerintahan.

3.      Hubungan Manusia dengan Alam
Interaksi  dengan alam sesungguhnya sering kita pelajari lewat sekolah-sekolah dari SD hingga sekarang. Kebersihan sebagian dari iman, merupakan konsep awal manusia berhubungan dengan alam. Dari itu, akan tau bahwa alam merupakan makhluk tuhan yang harus dijaga kelestariannya, bukan malah dirusak keindahannya. Karena alam, khususnya dunia yang kita tinggali saat ini adalah tempat kehidupan awal kita dimulai. Bukankah kita akan risih jika kamar kita begitu kotor? Yang kemudian kita akan membersihkannya. Jika tidak akan ada pengganggu-penggangu kecil yang datang, semisal, kecoa, nyamuk dan lain sebagainya. Begitu pula dunia jika ia tidak dirawat dengan baik, dijaga kelestariannya, maka dunia tidak akan marah dengan bermunculan bencana-bencana, semisal, gempa bumi, longsong, sunami, banjir. Bisa jadi, awal kehancuran bumi (baca: kiamat) tercipta ketika manusia sudah tidak mencintai alam mereka.
Esploitasi besar-besaran yang terjadi di dunia era ini mengakibatkan hubungan manusia dengan alam tidak seindah seperti yang dulu.  Berbicara alam tidak terlepas dari teori ilmu kealaman dari beberapa pemikir. Seperti teori mekanis Newtonian, relativisme Enstinian, evolusi Darwinian. Di dalam ilmu kealaman awal diyakini bahwa bumi adalah pusat tata surya, yang kemudian dibantah oleh temuan ilmiah Kopernikus yang mengatakan bahwa mataharilah yang menjadi pusat jagad raya. Teori ini selanjutnya menjadi teori yang disepakati keabsahannya oleh para ilmuan dan menghentikan berlakunya teori yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat jagad raya. Dan ini artinya tidak seorang astronomer modrn yang berpendapat bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.[3]dalam hal ini, penulis berkeyakinan dari sudut pandang agama, bumi merupakan tokoh dari alur cerita alam, sehingga menurut hemat penulis jika kehidupan dibumi sudah tidak terbias dengan nilai-nilai yang menyeimbangkan kondisi alam. Maka tatanan yang sudah terbentuk akan mengalami goncangan-goncangan yang hebat. Bisa kita lihat dengan adanya tsunami yang meluluhlantakkan Aceh ditahun 2004, atau gempa bumi yang melanda Jogjakarta, atau kebakaran yang melanda Kalimantan, atau lumpur lapindo yang hingga sasat ini tidak berhenti, atau yang saat-saat ini melanda yaitu kemarahan alam yang mengirim Tomket kepada manusia. Hubungan semacam ini yaitu menjaga kondisi alam agar seimbang dengan kehidupan manusia seharusnya ditata kembali, agar kehidupan manusia menjadi tenang dan damai.




C.     Penutup
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan tuhan sebagai khalifah, yang didalam diri manusia tercipta pula struktur kepribadian yang menciptakan manusia berada pada tempat yang istimewa. Jika kepribadian manusia khususnya Muslim dijadikan wadah pesona kehidupan, atau secara kasarnya meniru suri tauladan yang diajarkan oleh nabi dalam konteks penafsiran kekinian yang sifatnya adalah sebuah proses penciptaan tatanan kehidupan yang baik, maka hal itu perlu dilestarikan. Meskipun ada, diantara manusia yang tidak memahaminya, bukankah rambut jika tidak dipotong akan tumbuh terus dan mengakibatkan kepala terasa tidak enak, akan sama ketika kebaikan memberikan suatu pemahaman kepada proses seorang muslim yang menuju ke arah yang sudah diajarakan oleh agama. Dalam hal ini proses tersebut dijalankan dengan ajaran yang penulis tulis sebagai hubungan dengan pencipta, hubungan dengan sesama makhluk, dan hubungan dengan alam. Proses ini yang kemudian jika dilakukan dengan penuh ikhlas oleh seluruh umat muslim, maka akan menimbulkan keseimbangan, terutama dari dalam diri sendiri yang terlihat melalui akhlak yang kemudian menimbulkan energy positif ke arah yang lain, semisal kepada kehidupan social.
Demikian, penulis memberikan sedikit sumbangan ilmu mengenai kepribadian muslim dan pembentukannya. Akan tetapi tulisan ini tidaklah sempurna, butuh akan nasehat-nasehat yang membangun. Wassalam.





Daftar Pustaka

Afandi, A. Khozin, Langkah Prakstis Merancang Proposal, t, Pustakamas, 2011.
Hamid, Anas Abdul, Ibnu Qayyim: Berbicara Tentang Manusia Dan Semesta, terj: Luqman Hakim dan Abu Nadia Ahmad, Jaksel, Pustaka Azzam, 2001.
Kindi (al), Risalah tentang ke MahaEsaan Tuhan, dalam: Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Jakarta, PT. Bulan Bintang, 1984.






[1] Lihat, Anas Abdul Hamid, Ibnu Qayyim: Berbicara Tentang Manusia Dan Semesta, terj: Luqman Hakim dan Abu Nadia Ahmad (Jaksel, Pustaka Azzam, 2001), 21-22.

[2] Al-Kindi, Risalah tentang ke MahaEsaan Tuhan, dalam: Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, PT. Bulan Bintang, 1984), 91.
[3] A. Khozin Afandi, Langkah Prakstis Merancang Proposal (t, Pustakamas, 2011), 6.

0 komentar:

Posting Komentar