A.
Pendahuluan
Pandangan
Ibn Qayyim tentang manusia bahwa asal mulanya adalah dari tanah dan dilahirkan
dari air yang hina, bahwa manusia diciptakan dari satu gumpalan yang Allah
gumpalkan dari segala unsur tanah, yang tanah itu terdapat segala unsur baik,
yang kotor, yang mudah, yang sedih, yang mulia, dan yang hina, hal itu terjadi
ketika Allah mengutus malaikat jibril lalu malaikat itu mengepal suatu gumpalan
kemudian menutupi gumpalan itu hingga menjadi tanah, gumpalan tanah itu dibuat
bentuk manusia lalu ditiupkan ruh kepadanya, ketika ruh itu telah masuk kedalam
gumpalan tanah yang telah berbentuk daging, darah, dan menjadi makhluk hidup
yang berbicara. Kemudian Allah perintahkan para malaikat-malaikatnya untuk
sujud kepadanya dan Allah mengajarkan kepadanya tentang nama-nama dari segala
sesuatu, bahwa manusia dimulyakan dengan akal, ilmu pengetahuan, pemahaman,
keterangan dan berbicara. Bahwa manusia diberi keistimewaan yaitu memiliki rasa
malu. Manusia diberi keistimewaan dengan keterangan yaitu yang dibaca
(Al-quran) dan yang dilihat (alam raya). Manusia memiliki kemampuan belajar
karena telah diberikan kepadanya sarana-sarana tertentu untuk belajar. Manusia
memiliki keistimewaan dengan memiliki kecendrungan dan tabi’at yang dapat
membantunya dalam melaksanakan kemaslahatan-kemaslahatannya. Manusia memiliki
kekuatan, syahwat dan kemaluan. Perintah-perintah Allah tidak akan terpisah
dari manusia hingga manusia menghadapnya. Bahwa manusia tidak diciptakan
sia-sia. Manusia memiliki keistimewaan dalam hal bentuk dan rupanya. Manusia
adalah satu unit yang tidak terpisah-pisah, terdiri dari jiwa: akal, dan
jasmani.[1]
Penciptaan manusia yang istimewa membawa kepada suatu
masalah baru, keistimewaan yang disandang adalah sebuah kemaslahatan atau
sebuah kenikmatan. Manusia seperti apa yang akan menjadikan ia sebagai
penciptaan yang benar-benar istimewa. Adakalanya, dikarnakan manusia hidup
dalam penciptaan social, ia seutuhnya hanyalah bagian yang terpisah dari satu
kesatuan. Hinggga ada petuah yang jika manusia bisa memanusiakan manusia yang
lainnya, maka ia adalah manusia yang istimewa. Akan tetapi hubungan semacam ini
tidak telepas dari “siapa yang mencipta” dan “dimana ia hidup”. Basis semacam
ini bagi manusia merupakan proses yang panjang, meskipun ukuran kehidupan
dicontohkan pada umur nabi. Akhirnya tidak akan ada yang tau, karna kita
sebagai manusia bukan penentu, siapakah yang akan mendapatkan title manusia
seutuhnya di mata Tuhan.
B.
Pembahasan
Kepribadian
seorang muslim merupakan jati diri dari “selimut” kehidupannya. Muslim sejati
tidaklah tercapai manakala konsep-konsep yang diajarkan baginda nabi sebagai
suri tauladan yang baik tidak di patrikan dalam hati serta di amalkan.
Ajaran-ajaran baginda Nabi tidaklah mudah didapat hanya pada proses
pembelajaran yang sifatnya stagnan. Ajaran-ajaran ini ada pada alam materi dan
alam metafisik yang penggabungan kedua merupakan wadah air kehidupan yang saat
ini mulai terasa langka. Sebagai Muslim (baca: bukan muslim KTP) hendaklah
proses pengetahuan dari segala arah yang sifatnya berbekas pada ajaran syariah,
tidaklah dijadikan sebagai ajang pencarian dunia, biarkan pipa ilmu itu
mengalir pada kekosongan tong-tong dijalanan. Karna dilihat dari kehidupan
kepribadian umat saat ini, dengan adanya era global yang begitu cepat, mulai
dari media komunikasi hingga tatabusana. Mengakibatkan proses tumpul dan
lemahnya jiwa muslim saat ini dalam akidah. Jika, percepatan tersebut tidak
dibarengi dengan pengamalan-pengamalan ijtihad para alim ulama dalam
menafsirakan sabda-sabda Nabi maupun firman Tuhan.
Penulis
tidak tau, apakah saat ini adalah era dimana Tuhan membiarkan makluknya
berlomba-lomba untuk mendapatkan alam materi? Ataukah itu hanya sebuah lelucon
Tuhan untuk manusia seperti itu. Atau ini hanya permulaan dari akhir dunia yang
dizaman itu manusia hidup dalam kemakmuran. Atau penulis memang belum pandai
untuk memahaminya. Ambil contoh, Negara kita tercinta “Indonesia”, sebuah
Negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, aneh memang ketika berbicara
adanya ajaran-ajaran baginda Nabi yang kemudian didudukkan kepada ranah
kemasyakatan Indonesia (baca: politik) akan dijadikan tameng kebenaran pada
kesalahan. Kemakmuran masyarakat ini tidak berujung manis jika dilihat dari
kepribadian-kepribadian kaum muda. Dahulu, sentuhan tidaklah manis jika
dibicarakan pada khalayak ramai, akan tetapi sentuhan pada proses pacaran
adalah sebuah kebanggaan yang jika itu diunggkapkan pada khalayak akan menjadi
sebuah pujian. Banyak pemberitaan-pemberitaan abmoral yang terjadi dimasyarat
yang notabanenya adalah muslim. Ada apa ini, dan siapa yang salah?. Bisa jadi
masyarakat Muslim kita adalah korban dari ketidaktahuan akan hubungan berinteraksi
dengan alam, hubungan berinteraksi dengan sesama manusia, dan hubungan dengan
pencipta. Sepertinya ada sedikit ego didalam diri kaum muslim, mereka tidak mau
menerima pemetaan akan pentingnya kehidupan yang dinamis. Proses salah dan
benar selalu dijadikan patokan, meskipun dasar-dasar penguatannya tak lebih
pada konteks yang berbeda, dan ini harus dibuang. Sudut pandang ini yang
seharusya dijadikan oleh khalayak sebagai konsep kehidupan. Karna kehidupan
sebenarnya ada pada senyum penantian Tuhan. Anehnya lagi, banyak sekali manusia
Muslim yang tidak mengerti akan hal ini. Mereka malah berbondong-bondong
menyaksikan acara tausiah-tausiah yang di TV yang akhirnya pengertian yang
mereka dapat hanya sebatas pada materi. Ada ruang kosong yang harus diisi oleh
Manusia Muslim era ini, ruang kosong ini adalah kebaikan, memang banyak orang
melakukan kebaikan. Tetapi, apakah mereka istiqomah dengan kebaikan
mereka, mungkin hanya bertahan satu minggu, dua minggu, paling lama satu bulan.
Selanjutnya terserah anda.
Pemetaan
penulis dalam membangun kepribadian muslim dalam mengarungi kehidupan yang
diberikan tuhan, diantaranya adalah:
1.
Hubungan
Manusia dengan Pencipta
Berbicara materi tidak
terlepas dari pencipta, dan berbicara manusia juga tidak telepas dari hubungan
Manusia terhadap Tuhan. Tuhan tidaklah seperti tukang kayu yang meminta imbalan
tatkala selesai dalam pembuatan meja, ia adalah dzat dimana kekuasaan,
kebendaan, keabstrakan hanyut dalam dzatnya, ia tidak bisa disamakan dalam
setiap keadaan makhluknya. Ia adalah keyakinan dalam penyembahan umat Muslim,
ia dikata dengan asma agung, Allah. Tuhan ini adalah immateri yang harus
dijadikan sesembahan. Bahasan seperti ini lebih popular dengan sebutan
ber-Taqwa kepada Tuhan oleh kalangan Muslim. Sentuhan ruang taqwa ini, melalui
filosofi pemikirannya, al-Kindi berkata:
“massa adalah esensi
yang berdimensi tiga, yakni panjang, lebar dan tinggi. Massa itu tersusun dari
esensi yang sejenisnya dan dari dimensi yang merupakan pisahan-pisahannya;
massa tersusun dari materi dan bentuk, massa adalah tersusun, jika tidak ada
gerak, tidak ada massa. Jadi massa dan gerak tidak bisa saling mendahului,
dengan adanya gerak itu, ada waktu. Tidak ada massa tanpa waktu, sebab waktu
ialah tidak lain bilangan gerak, yakni bahwa waktu ialah periode yang
terhitungkan oleh gerak. Maka bila ada gerak, ada waktu; dan bila tidak ada
gerak, tidak ada waktu. Dan gerak itu tak lain adalah massa. Maka bila ada
massa, ada gerak; dan bila tidak ada massa tidak ada gerak. Gerak adalah
perubahan keadaan; perubahan yang menyangkut hanya ruang setiap bagian massa
itu saja, adalah gerak ruang perubahan-perubahan tempat batas massa itu, baik
dengan mendekati intinya atau menjauhi, adalah peningkatan atau kemerosotan;
perubahan kualitas-kualitas muatannya saja adalah transmutasi (al-istihalah);
sedangkan perubahan mengenai esensi massa itu adalah pengadaan atau peniadaan”.[2]
Tafsir pendapat
al-Kindi dijadikan dasar filosofi taqwa. Apabila massa adalah manusia itu
sendiri, kualitas muatan suatu massa dianalogikan dengan ketaqwaan, esensi atau
inti massa adalah tauhid, maka gerak batas massa mendekati esensi atau intinya
adalah ruang taqwa yang tercipta. Semakin dekat jarak terhadap esensinya maka
semakin kuatlah muatan taqwanya. Sebaliknya, semakin menjauhi batas esensinya
maka makin lemahlah muatan taqwa tersebut. Taqwa merupakan proses penghambaan
manusia terhadap Tuhan. Hal ini, menimbulkan hubungan yang tidak terpisahkan
akan keinginan manusia mencari kedekatannya dengan Tuhan.
Manusia dan Tuhan
kaitannya sangat erat. Sifat manusia yang sosial sehingga membutuhkan bantuan
dari orang lain untuk melakukan aktifitas dan kehidupan. Manusia mempunyai cita
– cita, manusia juga mempunyai permasalahan dalam kehidupannya. Sehingga selain
meminta pertolongan sesama, manusia juga sering meminta pertolongan
kepada Tuhan sebagai pencipta dari segalanya. Dengan cara apa? Dengan
Bagaimana? mungkin pertanyaan itu sering muncul dibenak kita. Namun sebagai
manusia yang mempunyai agama dan keyakinan kita punya cara berkomunikasi dengan
Tuhan yaitu dengan cara yang sering kita sebut ber-Doa. Ber-Doa adalah salah
satu cara komunikasi yang diajarkan oleh Agama apapun itu di dunia ini. Doa
adalah berbicara dalam hati dengan keyakinan dan harapan yang akan kita
harapkan terjadi dengan harapan Tuhan akan mengabulkan doa itu. Namun cara
komunikasi dengan Tuhan tidak hanya dengan berdoa melainkan dengan cara beribadah
yaitu melaksanakan peraturan dalam agama masing – masing. Sebagai ummat muslim
ada beberapa hal, yang penulis simpulkan, ketika seorang muslim berhubungan
dengan Tuhan.
a.
Beriman kepada
Allah SWT. menurut cara-cara yang diajarkannya melalui wahyu yang disengaja
diturunkannya untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup manusia
b.
Beribadah
kepada Allah SWT. dengan jalan melaksanakan sholat lima waktu dalam sehari,
menunaikan zakat apabila telah mencapai syarat nisab dan haulnya, berpuasa pada
bulan suci ramadhan, dan melakukan ibadah haji seumur hidup sekali dengan
cara-cara yang telah ditentukan
c.
Mensyukuri
nikmat-Nya dengan jalan menerima, mengurus dan memanfaatkan semua karunia dan
pemberian Allah kepada manusia.
d.
Bersabar
menerima cobaan dari Allah dalam pengertian tabah, tidak putus asa ketika
mendapat musibah.
e.
Memohon ampun
atas segala dosa dan kesalahan serta bertaubat dalam arti sadar untuk tidak
lagi melakukan segala perbuatan jahat atau tercela.
f.
Belajar yang
rajin, untuk mencapai gelar Magister. Dan kelak keilmuannya dijadikan sebagai
Imam dalam berdakwah dijalan Tuhan.
2.
Hubungan
Manusia dengan Manusia
Hubungan ini yang
paling sulit, manusia yang merupakan ciptaan paling unik tidak bisa dikaitkan
dengan idiologi persatuan antar manusia. Sebab penciptaan manusia diselingkan
suatu perbedaan, perbedaan yang terkandang indah terkadang menyimpan sebuah
misteri. Bagaimana tidak, kesibukan alam materi yang dikata dalam agama adalah
sebuah proses perjuangan dan perjalanan, menimbulkan masalah bagi manusia dalam
menjalankannya. Adakalanya proses penguatan pribadi manusia dijalankan oleh
struktur yang sudah terbangun dari awal. Misalnya pondasi pendidikan yang
dijalankan dengan taat, atau proses penghayatan dari perjalanan dalam sebuah
pengalaman. Kesemuanya menimbulkan daya berfikir yang berbeda-beda, meskipun
tujuan sama. Sama-sama ingin menuju kearah yang lebih baik, dalam ketentraman
dunia dan akherat. Perbedaan yang timbul, membuka banyak arah, ada yang cepat,
ada yang sedikit cepat, ada yang lambat ada yang sedikit lambat, adapula yang
tak pernah sampai tujuan. Meskipun demikian, hubungan manusia antar manusia
merupakan suatu simbiosis mutualism, sebab didalam diri manusia sudah
tertanam jiwa social, yaitu berinteraksi sesama manusia.
Tatanan Umat muslim
saat ini merupakan embrio dari aturan-aturan yang dibawa Nabi, Terutama dalam
menanamkan nilai-nilai akhlak. akhlak secara terminology merupakan tingkah laku
seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu
perbuatan yang baik. Perbuatan baik umat muslim
sesama muslim terutama yang paling awal adalah meletakkan dasar keimanan serta
penghambaan kepada Tuhan, melalui pengabdian kepada orang tua. Kemudian tumbuh
kepada tatanan social yang lebih besar, mulai dari tingkat keluarga hingga
tingkat pemerintahan.
3.
Hubungan
Manusia dengan Alam
Interaksi dengan alam sesungguhnya sering kita pelajari
lewat sekolah-sekolah dari SD hingga sekarang. Kebersihan sebagian dari iman,
merupakan konsep awal manusia berhubungan dengan alam. Dari itu, akan tau bahwa
alam merupakan makhluk tuhan yang harus dijaga kelestariannya, bukan malah
dirusak keindahannya. Karena alam, khususnya dunia yang kita tinggali saat ini
adalah tempat kehidupan awal kita dimulai. Bukankah kita akan risih jika kamar
kita begitu kotor? Yang kemudian kita akan membersihkannya. Jika tidak akan ada
pengganggu-penggangu kecil yang datang, semisal, kecoa, nyamuk dan lain
sebagainya. Begitu pula dunia jika ia tidak dirawat dengan baik, dijaga
kelestariannya, maka dunia tidak akan marah dengan bermunculan bencana-bencana,
semisal, gempa bumi, longsong, sunami, banjir. Bisa jadi, awal kehancuran bumi
(baca: kiamat) tercipta ketika manusia sudah tidak mencintai alam mereka.
Esploitasi
besar-besaran yang terjadi di dunia era ini mengakibatkan hubungan manusia
dengan alam tidak seindah seperti yang dulu. Berbicara alam tidak terlepas dari teori ilmu
kealaman dari beberapa pemikir. Seperti teori mekanis Newtonian, relativisme
Enstinian, evolusi Darwinian. Di dalam ilmu kealaman awal diyakini bahwa bumi
adalah pusat tata surya, yang kemudian dibantah oleh temuan ilmiah Kopernikus
yang mengatakan bahwa mataharilah yang menjadi pusat jagad raya. Teori ini
selanjutnya menjadi teori yang disepakati keabsahannya oleh para ilmuan dan
menghentikan berlakunya teori yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat jagad
raya. Dan ini artinya tidak seorang astronomer modrn yang berpendapat bahwa
matahari berputar mengelilingi bumi.[3]dalam
hal ini, penulis berkeyakinan dari sudut pandang agama, bumi merupakan tokoh
dari alur cerita alam, sehingga menurut hemat penulis jika kehidupan dibumi
sudah tidak terbias dengan nilai-nilai yang menyeimbangkan kondisi alam. Maka
tatanan yang sudah terbentuk akan mengalami goncangan-goncangan yang hebat.
Bisa kita lihat dengan adanya tsunami yang meluluhlantakkan Aceh ditahun 2004,
atau gempa bumi yang melanda Jogjakarta, atau kebakaran yang melanda
Kalimantan, atau lumpur lapindo yang hingga sasat ini tidak berhenti, atau yang
saat-saat ini melanda yaitu kemarahan alam yang mengirim Tomket kepada manusia.
Hubungan semacam ini yaitu menjaga kondisi alam agar seimbang dengan kehidupan
manusia seharusnya ditata kembali, agar kehidupan manusia menjadi tenang dan
damai.
C.
Penutup
Manusia
merupakan makhluk yang diciptakan tuhan sebagai khalifah, yang didalam diri
manusia tercipta pula struktur kepribadian yang menciptakan manusia berada pada
tempat yang istimewa. Jika kepribadian manusia khususnya Muslim dijadikan wadah
pesona kehidupan, atau secara kasarnya meniru suri tauladan yang diajarkan oleh
nabi dalam konteks penafsiran kekinian yang sifatnya adalah sebuah proses
penciptaan tatanan kehidupan yang baik, maka hal itu perlu dilestarikan.
Meskipun ada, diantara manusia yang tidak memahaminya, bukankah rambut jika
tidak dipotong akan tumbuh terus dan mengakibatkan kepala terasa tidak enak,
akan sama ketika kebaikan memberikan suatu pemahaman kepada proses seorang
muslim yang menuju ke arah yang sudah diajarakan oleh agama. Dalam hal ini
proses tersebut dijalankan dengan ajaran yang penulis tulis sebagai hubungan
dengan pencipta, hubungan dengan sesama makhluk, dan hubungan dengan alam.
Proses ini yang kemudian jika dilakukan dengan penuh ikhlas oleh seluruh umat
muslim, maka akan menimbulkan keseimbangan, terutama dari dalam diri sendiri
yang terlihat melalui akhlak yang kemudian menimbulkan energy positif ke arah
yang lain, semisal kepada kehidupan social.
Demikian,
penulis memberikan sedikit sumbangan ilmu mengenai kepribadian muslim dan
pembentukannya. Akan tetapi tulisan ini tidaklah sempurna, butuh akan
nasehat-nasehat yang membangun. Wassalam.
Daftar
Pustaka
Afandi, A. Khozin, Langkah Prakstis Merancang
Proposal, t, Pustakamas, 2011.
Hamid, Anas Abdul, Ibnu Qayyim:
Berbicara Tentang Manusia Dan Semesta, terj: Luqman
Hakim dan Abu Nadia Ahmad,
Jaksel,
Pustaka Azzam, 2001.
Kindi (al), Risalah tentang ke
MahaEsaan Tuhan, dalam: Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam,
Jakarta, PT. Bulan Bintang, 1984.
[1] Lihat,
Anas Abdul Hamid, Ibnu Qayyim: Berbicara Tentang Manusia Dan Semesta,
terj: Luqman Hakim dan Abu Nadia Ahmad (Jaksel, Pustaka Azzam, 2001), 21-22.
[2] Al-Kindi, Risalah tentang ke MahaEsaan Tuhan, dalam: Nurcholis
Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, PT. Bulan Bintang, 1984),
91.
[3] A. Khozin Afandi, Langkah Prakstis Merancang Proposal (t,
Pustakamas, 2011), 6.
0 komentar:
Posting Komentar